Selasa, 16 Desember 2014

Surat Kabar



“Koran, koran, koran.”
Suara seorang anak laki-laki yang usianya mungkin belum genap sepuluh tahun terdengar olehku, deru mesin kendaraan yang menyala sedang mengantre tidak sabar menunggu merah menjadi hijau. Tapi teriakan anak laki-laki itu tetap berhasil menyita perhatian.
Dari kaca spion aku bisa melihat beberapa orang membuka kaca mobilnya dan membeli apa yang ia tawarkan. Tiba giliran dia mengetuk kaca mobilku, aku jengkel, mengalihkan pandangan dan

Rabu, 10 Desember 2014

Hallo



Aku sudah memegang gagang telepon, jemariku mengetuk-ngetuk meja sembari berpikir. Haruskah aku menekan nomormu dan mendengar suaramu? Setidaknya sekali lagi, sebelum matahari terbenam dan aku mengukuhkan diri untuk melupakanmu.
“Naya,”
Aku menoleh, tersenyum pada Ibu yang sedang berdiri di tangga dan memperhatikanku dengan wajah khawatir.
“Jangan,” katanya memperingatkan.
Aku mengangguk, peringatan itu juga sudah kukatakan pada diriku sejak berhari-hari yang lalu. Tapi kau tahu bukan? Aku banyak mengalami turbulensi akhir-akhir ini, dan itu membuatku tidak bisa percaya pada diriku sendiri.
Setelah Ibu berlalu ke arah dapur aku mengalihkan pandangan ke luar jendela,

Jumat, 24 Oktober 2014

Sudah Saling Tahu


Senandungnya masih terdengar, aku menoleh dan tersenyum tipis padanya yang sedang asyik merapikan buku-buku yang berserakan di lantai. Sepersekian menit yang lalu dia masih berjalan santai melewati koridor yang di sisi-sisinya dipenuhi rak-rak buku, lalu tiba-tiba saja karena terlalu bereuforia, dia tidak sengaja menabrak sebuah rak dan menimbulkan kegaduhan di perpustakaan.
Seorang penjaga wanita yang usianya sudah menjelang empat puluh tahun

Jumat, 19 September 2014

Monster - BigBang



“Tidak! Lepaskan aku!”
Aku berusaha meronta dalam pelukannya yang terasa mencekik, memar merah terpatri di pergelangan tanganku, air mataku tidak bisa berhenti mengalir jatuh mengiringi kutukan yang kuucapkan pada diriku yang ciut.
Ini sudah berlangsung cukup lama, bahkan terlalu lama hingga aku tidak bisa mengingat titik awalnya. Aku dan dia seperti sebuah lukisan yang berantakan, paduan warna yang kacau, goresan kuas yang tidak masuk akal, tapi bersembunyi di balik kedok abstrak. Ya, kami lukisan yang abstrak, yang tidak mudah dimengerti, kecuali olehku dan dia sendiri.
Katanya cinta bisa membutakan, jadi mungkin itulah sebabnya dia tidak bisa melihat rasa sakit di mataku saat dia memasukanku ke dalam kamar lembab itu dan mengikatku di sana. Seorang perempuan

Selasa, 09 September 2014

Winter #spoiler-1

     Sudah masuk bulan Juni, Adelaide diserang musim dingin. Tapi Villant Paxton dan Frilisa Roseline Bernard justru sedang bersembunyi di balik kotak-kotak kayu, saling menggenggam tangan mereka yang gemetar dan berkeringat saat harus menyaksikan Joseph Brown duduk dengan tangan terikat.
     Seorang pemuda jangkung bermata biru menyiapkan FN 57 dan membidik kening pria itu. Tubuh Lisa berguncang, Ayahnya muncul dari balik tangga dan tersenyum pada Sang Target. Sepersekian detik kemudian pelatuk ditarik dan jantung Joseph berhenti berdetak.
     Villant menoleh, kerah kemejanya ditarik oleh seorang pria bertubuh besar yang langsung mendorongnya ke tengah ruangan. Sementara itu Lisa memberontak dalam cengkeraman pemuda bermata biru yang berusaha menariknya menaiki tangga. Mata Villant terarah padanya, meyakinkannya kalau semua akan baik-baik saja. Tapi dia tidak percaya. Mayat Joseph dipindahkan dan Villant dipaksa duduk di kursi yang sama.

Senin, 18 Agustus 2014

Ulang Tahun

     Namaku Indonesia, enam puluh sembilan tahun lalu aku lahir setelah proses persalinan yang panjang dan melelahkan. Sangat banyak tangan yang membidaniku, sebut saja Soekarno dan Hatta sebagai dua bidan yang mengetuainya.
     Dan kini setelah enam puluh sembilan tahun, setiap hari ke tujuh belas di bulan ke delapan, setiap insan akan merayakan hari kelahiranku. Bendera akan terpasang di depan rumah, merah dan putih. Dan tradisi yang tidak akan terlupakan, perlombaan.
     Aku gembira mereka menyambutku, tentu saja, tapi seperti biasa kegembiraan itu akan hilang seketika saat mereka berteriak dengan lantang;
Hidup Endonesia!
Aku jadi berpikir, apakah mereka benar-benar merayakan ulangtahunku? Kenapa setelah enam puluh sembilan tahun, mereka masih tidak bisa menyebut namaku dengan benar?

*latepost. At Cabe Merah, SCP, Samarinda-Kaltim

Senin, 11 Agustus 2014

Manusia

      Manusia, makhluk Tuhan yang diciptakan dengan dua mata, dua telinga, dua tangan, dua kaki. Menurut studi, manusia dan simpanse memiliki 99% kesamaan DNA. Sedangkan antara manusia satu dengan manusia lain yang merupakan keturunannya memiliki kesamaan DNA 99,9%. Jadi hanya ada selisih 1% untuk membedakan manusia dengan simpanse dan 0,1% untuk membedakan keturunan satu manusia dengan keturunan manusia yang lainnya. Itu bisa dianggap sebagai angka kecil atau angka besar, tergantung dari sudut pandang.
      Manusia terlihat lebih, justru karena dia kurang.
Hari ini, 11 Agustus 2014, siaran langsung acara Hitam Putih di TransTv memperkenalkan seorang anak yang berhasil masul FK UGM, kelebihannya? Anak itu hanya anak dari seorang buruh kayu. Setiap tahun FK UGM pasti menerima puluhan mahasiswa, yang membuat anak lelaki itu menarik sampai masuk siaran televisi karena dia kurang -kaya- dari mahasiswa kedokteran yang lainnya. Ada lagi seorang wisudawati yang tiba-tiba jadi pembicaraan karena dia meraih IPK 3,96. Kelebihannya? Karena dia anak seorang tukang becak.
      Semua tergantung dari sudut pandang. Saat memandang kekurangan seseorang, maka keberhasilan yang biasa terjadi akan terlihat luar biasa dan kamu akan merasa lebih beruntung karena mungkin hidupmu lebih mudah. Tapi saat melihat kelebihan seseorang, bahkan keberhasilan luar biasanya akan ditanggapi dengan kalimat "wajar saja, dia kan...", lalu kamu akan merasa kecil dan tidak mampu.
      Angka 1, selisih antara DNA simpanse dan manusia terlihat sebagai angka yang sangat kecil karena kita mengenal bilangan yang tidak terbatas. Juga bisa terlihat sebagai angka besar jika kita memandang kepada 0 dan bilangan negatif.
      Ini tentang sudut pandang. Jadi, jangan biarkan dirimu ciut karena kamu hanya memandang kelebihan orang lain. Setiap orang kurang, setiap orang juga lebih.

Minggu, 27 Juli 2014

Dear R, #2

Dear R,
Merdu takbir untuk mengantar kepergianmu telah diperdengarkan. Kamu resmi pergi, meninggalkan kami seperti yang selalu terjadi.
R, letup kembang api yang terdengar dari kamar sempitku, juga hiruk pikuk teriakan anak kecil yang lewat di depan jalan menandakan bahwa kami telah rela. Untuk sebelas bulan ke depan, kami akan mempersiapkan diri agar bisa menyambutmu dengan lebih baik.
Tidak ada yang sia-sia, waktu senduku bersamamu akan kutandai sebagai salah satu halaman dalam buku kehidupanku. Agar kelak saat kita bertemu lagi, bisa kuingat setiap kata yang aku rangkai malam ini, bersamaan dengan bibir yang ikut mengucap syukur.
Selamat jalan R, sampai bertemu lagi, Insyaallah...

Mel

Sabtu, 26 Juli 2014

Dear R,

Dear R,
Kau dengar? Kini langit bertalu-talu, menangis tidak rela atas tenggat waktu kepergianmu. Aku meringkuk dalam sepi yang tanpa aksara, menengadahkan tangan, berharap kita akan dipertemukan lagi. Dan kita sama-sama tahu bahwa hanya ada satu zat maha kuasa yang berhak menentukan itu.
R, aku tak cukup baik bukan? Aku masih lengah dan tidak menemanimu dengan setia. Tiga puluh hari kebersamaan kita hanya kujadikan waktu-waktu sendu untuk mengeluh dan merasa takut. Tapi R, jika kita berkesempatan untuk berjumpa lagi, aku ingin lebih baik, aku ingin lebih banyak menghabiskan malam bersamamu dalam sunyi yang penuh syukur. Terlebih lagi, kuharap aku sudah bisa membanggakan diri dan berkisah padamu tentang pencapaianku selama kita berpisah.
Aku akan mengirim surat lagi saat malam perpisahan kita datang, aku harap kita bisa saling melepaskan dalam takbir yang merdu. Aku akan merindukanmu R, as always.

Salam,
Mel

Rabu, 11 Juni 2014

Pemuja Hening #1

Catatan harian seorang gadis bisu tuli,

 Prolog


Hari ini sedang mendung. Dapat kulihat gumpalan awan hitam menggantung di langit yang sedang berduka. Sesekali kilat akan muncul selayak teman yang datang tanpa diundang. Dan jika saat ini kau sedang membaca goresan pena yang aku tuangkan diatas kertas, maka pasti kau adalah

Kamis, 01 Mei 2014

Siapa bilang?


“Siapa bilang cinta ada karena terbiasa? Buktinya aku yang tidak percaya cinta justru jatuh hati pada tatap mata pertama. Hanya satu tatap mata dan jantungku hampir melompat keluar.
Bertahun kemudian saat aku temukan kembali tatap mata itu, aku masih jatuh hati. Masih berbunga-bunga, masih meledak. Euphoria yang aku rasakan ternyata bukan sekedar euphoria. Andai kau tahu. Tapi andai hanya tinggal andai. Kini aku sadar bahwa kau tidak pernah sekalipun menghargai tatap mata pertama kita.
Siapa bilang cinta ada karena terbiasa? Buktinya, setelah biasa bersama aku justru hilang rasa.”

Home~MB


“Namanya Sebastian Paxton, agak sedikit pikun. Kau harus memastikan dia tidak keluar rumah atau dia akan tersesat.”
Aku mengangguk, mengalihkan pandangan pada pria yang duduk di kursi roda. Bulan depan usianya genap sembilan puluh lima tahun. Rambutnya yang ikal sepanjang telinga sudah berubah dari coklat menjadi putih, matanya yang biru tidak berhenti memandangi rimbun mawar merah yang tumbuh dengan terawat di halaman. Itulah kali pertama aku bertemu dengannya.
“Mr. Paxton,” panggilku pelan.
Ia menoleh, tersenyum lebar lalu memutar kursi rodanya dan

Rumput Hijau


                Shana sibuk memperhatikan Dion yang berlari mengelilingi lapangan bola dengan rumput hijau semata kaki di belakang sekolah mereka. Tapi Dion yang dipandangi justru tidak pernah melirik barang sedetik, cuek bebek. Padahal Shana adalah cewek populer di sekolah, selain kabar tentang ayahnya yang pemilik pabrik kerupuk ternama, Shana juga populer karena reputasinya yang sangat buruk. Shana adalah siswi dengan daftar kesalahan terbanyak di sekolah, daftar terlambat terbanyak dan yang pasti daftar nilai terburuk.
                Sedangkan Dion, siswa berprestasi di bidang sepak bola. Ketua osis pula. Tubuhnya yang tinggi semampai tak perlu diragukan bahwa dia jadi rebutan banyak siswi. Nilainya juga selalu bagus, bahkan acap kali menjadi juara kelas. Ia mengikuti

Menculik Surga


                Tiga orang pria besar sedang duduk asyik membicarakan utang-utang mereka sambil minum kopi dipagi hari.
“Utang lo berapa?” tanya pria yang paling tua, bisa dilihat dari uban-uban yang sudah berhamburan dikepalanya.
Dua pria lainnya yang masing-masing botak dan gondrong menghitung-hitung dalam hati, lalu menoleh satu sama lain.
“Kalo gak salah,” ujar pria botak “udah sekitar 25 juta. Lo?” tanyanya sambil menoleh pada si gondrong.
“Sekitar 30 lah,” sahutnya enteng “Lo Bang?”
Akhirnya pertanyaan itu kembali lagi pada pria tua yang meneguk kopi

Ketiga


*Judul oleh: Dyna Syarofa Ramadhani

“Aku punya tiga syarat,” ucapku padamu.
Kamu tersenyum lebar, “Hanya tiga? Padahal aku bisa mengabulkan sebanyak apapun.”
Seperti biasa kamu selalu jumawa, dan aku yang mendengar itu hanya tersenyum tipis.
“Syarat pertama, kamu harus meninggalkannya.”
Kamu mengerutkan kening “Sudah kubilang kami sudah berpisah.”
“Berarti kamu sudah melakukan syarat pertama.”
Aku mengalihkan pandangan pada rimbun mawar di hadapan kita. Dulu mawar-mawar itu tidak terurus. Semaknya menganggu penglihatan dan membuat orang-orang enggan berada di sekitarnya. Kecuali kita. Setiap kali datang ke tempat ini kamu selalu memetik satu untukku dan menyamakanku dengannya.
“Untuk Lanaya yang cantik, berduri dan berantakan.” ujarmu setiap kali.
Dan kuakui kamu benar, dulu aku memang seperti itu. Jeans belel, kaos usang dengan

Sadar?


“Aku tahu ini hanya euphoria sesaat, kelak akan berakhir seperti apa yang selalu terjadi. Dan aku tahu bahwa getar yang kirimkan di tengah sunyi jalanku bukan tanah subur yang akan mampu menumbuhkan pohon rasa.
Tapi pada titik ini, entah kenapa aku ingin jumawa. Aku ingin euphoria kita menjadi letupan api yang menyala di langit, dan biarkan guncang akibat turbulensi hati menjadi sesuatu yang tidak kita takuti.
Sayangnya aku terbangun semalam dan melihat sekitar. Aku menyadari betapa tebal awan yang menyelimuti hatimu. Benteng yang kau bangun begitu kuat dan bisa aku tumbangkan. Akhirnya aku sadar, bukan bingar yang membuat kita tidak saling mendengar, tapi rasa yang sudah kau lempar ke perapian.”

The Lonely Alien


                Seorang gadis 15 tahun sedang duduk sendiri di sudut kelas, Aliena Sasmitha. Ia seorang anak dari penipu ulung yang tak pernah ada di rumah, selalu melarikan diri. Pagi hari sekolah, siang dan malam ia bekerja. Ia merasa bahwa hidup bukanlah sesuatu yang bisa dibanggakan, hidupnya hanya dipenuhi dengan luka yang tak bisa ia temukan obatnya. Saat ia 13 tahun, akhirnya sang ayah lari untuk selamanya. Terluka itu pasti, tapi Aliena tak pernah jatuh dalam lukanya.
                Saat ia ingin kembali kedunia remaja, tempat di mana ia seharusnya berada. Ternyata para manusia disekitarnya tak lagi punya sedikitpun belas kasih untuk menerimanya. Aliena menjadi orang paling terasing di kelas,

Ayah...


“Ayaaaahhhh!!!” teriak Iqbal dari depan pintu saat melihat ayahnya datang dari kejauhan. Lalu ia berlari menyongsong pria yang sedang menuju kearahnya.
Ayah Iqbal bekerja di tempat yang jauh, tidak setiap hari ia bisa pulang kerumah. Bahkan sebulan sekali pun jarang. Tapi Iqbal tidak pernah berhenti menunggu ayah, baginya ayah adalah orang terpenting yang pasti akan datang untuknya.
“Ayah sudah pulang?” tanya Akbar dari ambang pintu.
Ayah menoleh, lalu tersenyum dan mengangkat tubuh Iqbal untuk membawanya pada Akbar.
“Kamu senang ayah pulang?” tanya ayah pada Akbar.
“Iya,” sahut Akbar singkat.
Lalu mereka masuk beriringan ke dalam rumah. Akbar membawa tas ransel ayah yang berisi beberapa lembar pakaian.

Minggu, 23 Februari 2014

#18~Nomor Satu



#18/Sang Pendongeng~Atas nama mimpi

“Kalau kamu punya mimpi, kamu harus buat daftar mimpi-mimpi itu dan menulisnya di kertas lalu letakan di dinding atau di mana pun yang bisa kamu lihat.”
Aku ingat nasihatmu yang satu itu, karenanya aku menulis setiap mimpiku di kertas dan menempelkannya di jurnal kesayanganku. Saat melihat daftar itu, tidak sedikit orang yang akan mengatakan aku pemimpi tidak tahu diri. Tapi kamu dan mata hijaumu pernah mengatakan bahwa bermimpi itu gratis. Mimpi kecil gratis dan mimpi besar juga gratis, lalu kenapa tidak sekalian memimpikan yang paling besar saja? Ah, kamu memang sahabat terbaikku.
Suatu hari saat melihat daftar mimpiku, kamu terkejut setengah mati. Di secarik kertas yang aku tempelkan di halaman pertama jurnalku tertera 20 mimpi yang ingin kuwujudkan.
“Sebanyak ini?” tanyamu.
Aku mengangguk “Semua mimpi ini gratis kan?”
Kamu tersenyum dan menutup kembali jurnalku. Dengan gemas kamu mengacak-acak rambutku yang tergerai.
“Iya, gratis. Bermimpilah yang banyak, 20 mimpi ini masih sedikit.”
“Tapi sebenarnya mimpiku ada 21.”
“Benarkah?” kamu mengerutkan kening “Di daftar ini cuma ada 20.”
“Itu mimpi nomor 2 sampai nomor 21.”
“Lalu yang nomor satu?”
“Nomor satu?”
Kamu mengangguk, raut wajah penasaranmu membuatku ingin tertawa.
“Itu mimpiku yang paling besar,” sahutku lagi “jadi kuletakkan di tempat yang jauh lebih mudah kulihat daripada jurnal.”
“Jadi itu rahasia? Aku juga tidak boleh tahu?”
“Iya, nanti aku beritahu kalau mimpi itu sudah jadi kenyataan.”
Kamu setuju dan tidak menuntut lagi. Mengalihkan pandangan pada halaman sekolah yang dipenuhi manusia. Katamu mengamati kegiatan manusia itu menyenangkan, karenanya aku selalu ikut duduk di kursi kayu panjang ini bersamamu. Kita akan membahas banyak hal, terutama tentang akan jadi apa kita setelah fase seragam putih biru ini berakhir.
“Daftar mimpimu mana?” tanyaku saat teringat.
Kamu menoleh “Aku nggak punya daftar, karena aku cuma punya satu mimpi.”
“Cuma satu?” aku bertanya dengan nada tidak percaya, bagaimana mungkin orang yang mengajariku membuat daftar mimpi justru tidak punya daftar.
“Iya, aku cuma punya satu.”
“Kamu mencatatnya?”
“Ya, aku meletakkannya di cermin.”
Tawaku langsung meledak saat mendengarnya. Jadi tempat yang mudah kamu lihat adalah cermin, itu artinya kamu pasti gemar bercermin.
“Boleh aku lihat?” aku bertanya lagi setelah puas tertawa.
“Boleh, kalau kamu beritahu aku mimpi nomor satumu, aku juga akan memberitahumu.”
Ah, kenapa harus sebuah pertukaran? Mimpi nomor satuku adalah mimpi yang paling rahasia. Aku bahkan tidak menulisnya di kertas karena aku bisa menemukannya dengan mudah. Bahkan saat ini mimpi nomor satu itu ada di hadapanku, memandangi lalu lintas manusia yang katanya tidak terdefinisi. Jika kubagikan rahasiaku, aku tidak tahu akan seperti apa reaksimu. Tidak bisa kubayangkan kata apa yang akan keluar dari mulutmu jika kamu tahu bahwa mimpi nomor satuku adalah kamu, Reksa Anggara.
“Apa?” kamu menagihnya “Apa mimpi nomor satumu?”
Aku tidak menyahut, kuputuskan bahwa aku belum siap untuk membagikannya. Jadi kita membuat sebuah perjanjian bahwa jika suatu hari aku siap maka kamu juga akan siap. Aku tidak sabar menanti hari dimana kita akan saling berbagi rahasia tentang mimpi besar kita satu sama lain. Namun sayang hari itu tidak pernah datang.
***
21 Januari, hari itu juga di tanggal yang sama. Hari dimana kita membuat janji sudah berlalu sepuluh tahun yang lalu. Aku sudah siap sekarang, kamu harus tahu mimpi nomor satuku hari ini Reksa. Harus.
Sembari berjalan tergesa untuk menemukanmu di antara kerumunan orang dengan setelan jas dan gaun, aku terus memikirkan waktu yang kita habiskan selama sepuluh tahun ini. Aku ingat saat aku meraih mimpi nomor duaku, kita sudah lepas dari seragam putih biru dan berlanjut ke fase berikutnya. Dalam balutan seragam putih abu-abu, akhirnya aku bisa tampil dalam pementasan teater yang amat kuinginkan. Kita berjingkrak bersama untuk merayakannya, kamu menemaniku menghafal dialog demi dialog dan juga menggenggam tangan kananku saat mencoret mimpi itu dari daftar.
“Satu mimpi terwujud, selamat Emma.” Kamu mengacak-acak rambutku, memperlakukanku seperti adik kecil, lalu bagaimana bisa kukatakan padamu tentang mimpi nomor satuku.
Waktu berlalu dan kita tetap bersama. Satu per satu mimpiku terwujud dan kamu selalu menemaniku untuk merayakannya. Kita semakin dewasa tapi mimpi nomor satuku tidak pernah berubah. Reksa Anggara, terpatri jelas dalam benakku.
Kebersamaan kita yang nyaris sempurna juga tidak lepas dari pertengkaran. Suatu hari kamu menuduhku berubah, aku terlalu sibuk mengejar mimpi dan menjadi ambisius. Aku berusaha menjelaskan padamu bahwa keadaan yang sudah berubah, orang-orang yang dulu menjulukiku pemimpi kini harus menunduk malu saat melihat mimpi-mimpiku yang terwujud. Mereka harus mengakui kehebatanku. Aku harap kamu mengerti bahwa aku tidak pernah berubah, mimpi nomor satuku tetap kamu.
Nyatanya kamu tidak benar-benar mengerti, kita mulai berjarak dan itu membuatku sakit. Tapi kupikir kamu tidak perlu melihatnya karena itu akan membuatmu jumawa, karenanya aku berpura-pura tidak peduli.
***
Hari itu dalam keadaan setengah mabuk aku mengetuk pintu rumahmu. Matamu membelalak saat membuka pintu, kamu terkejut karena aku berbau alkohol. Aku tidak peduli, aku bilang aku hanya mencicipi sedikit. Kamu terburu-buru membawaku ke dalam rumah dan mendudukkanku di sofa, mengambilkanku segelas air hangat lalu duduk di sampingku, mengusap peluhku dengan tissue. Wajahmu tampak khawatir, kamu pernah bilang bahwa mungkin aku sudah berjalan terlalu jauh. Dan komentarku saat itu hanya setengah hati. Aku artis besar, hidup seperti ini adalah bagian dari adaptasiku. Tapi malam ini aku benar-benar hanya mencicipi sedikit, aku hanya perlu kamu menganggapku mabuk agar aku bisa mengatakannya padamu.
“Aku mencintaimu,” ujarku sambil menyandarkan kepala.
“Istirahatlah, kamu bisa tidur di kamar, aku akan tidur di sofa.”
Kamu ingin beranjak pergi tapi aku menahanmu, kugenggam tangan kirimu dengan erat.
“Aku mencintaimu Reksa.”
Aku yakin kamu mendengarnya dengan cukup jelas, jadi saat pintu rumahmu yang terbuka lebar tiba-tiba dipenuhi wartawan aku tidak merasa perlu mengatakannya lagi di depan mereka. Aku seorang selebriti muda dengan citra baik, aku tidak ingin mereka menemukanku di rumah seorang pria dalam keadaan setengah mabuk dan tidak punya pembelaan sama sekali. Aku melepaskan tanganmu dengan cepat, membuatmu terkejut dan memandangku tidak percaya. Tapi kamu sahabatku, kamu mimpi nomor satuku, kamu pasti akan mengerti dengan keputusanku untuk melindungi mimpi-mimpiku yang lain. Kupikir seperti itu tapi ternyata tidak. Hari itu adalah terakhir kalinya aku bisa bersamamu sebagai sahabat. Kamu membuat jarak, aku nyaris kehilanganmu dan tiba-tiba hari ini datang. Hari dimana aku akan mengatakan padamu tentang mimpi nomor satuku.
***
Kamu mengenakan tuxedo putih, begitu serasi dengan gaun putihku. Kita tampak sempurna untuk hari istimewa ini. Harusnya aku tidak boleh menemuimu sebelum kamu berjalan ke altar, tapi aku tidak sabar, karena mungkin saja saat itu sudah terlambat bagiku.
“Reksa Anggara” ujarku dengan suara bergetar.
Kamu mengerutkan kening “Ya? Kenapa kamu memanggil namaku seperti itu?”
“Itu bukan sebuah panggilan, itu mimpi nomor satuku. Kamu, Reksa Anggara, mimpi nomor satuku.”
Senyummu mengembang, kamu terlihat senang dan aku bersyukur sekaligus ingin menangis. Mimpi nomor satuku, aku menginginkanmu. Kupererat genggaman tanganku dan membuat kertas coklat itu rusak.
“Benarkah?” tanyamu sambil jalan mendekat “Berarti sekarang aku harus memberitahumu mimpiku yang satu-satunya.”
Oh, aku baru ingat. Kita pernah membuat perjanjian. Bodohnya aku yang hanya selalu memikirkan kapan waktu yang tepat untuk memberitahumu tentang mimpiku tanpa pernah penasaran dengan mimpimu. Mungkinkah kamu ingin menjadi fotografer seperti kegemaranmu dulu atau menjadi pengusaha muda seperti yang kamu jalani saat ini.
“Apa?” tanyaku, memandang lurus kearah matamu.
“Sudah kubilang kalau aku meletakkannya di cermin, kamu harus melihatnya sendiri. Kamu menggandeng tangan kananku dan menuntunku menghadap sebuah cermin besar. Kamu tersenyum lalu menoleh padaku.
“Kamu lihat? Itu mimpiku.”
Di cermin itu tidak ada secarik kertas pun yang menempel, tidak ada tulisan. Hanya ada kita yang saling bergandengan tangan. Aku refleks menoleh padamu dengan mata berkaca-kaca.
“Iya,” katamu “satu-satunya mimpiku adalah kamu Emma.”
Aku tidak tahan lagi, aku menangis sejadi-jadinya. Kertas coklat yang sedari tadi kugenggam terjatuh ke lantai. Kertas coklat yang bertuliskan namamu sebagai mempelai dan namaku sebagai tamu undangan itu adalah bukti kekalahanku. Aku sudah berjanji untuk tidak merusak acaramu, aku hanya ingin kamu mendengar mimpi nomor satuku. Tapi bukankah selama ini aku telah menjadi mimpi satu-satunya untukmu, jadi tidak bisakah aku mendapatkanmu?
“Kembalilah Reksa,” ucapku lirih dengan penuh harapan “beri aku kesempatan.”
“Terimakasih karena telah menjadikanku mimpi nomor satumu,” sahutmu sambil menarik tubuhku kedalam pelukan “tapi kamu harus tahu kalau aku tidak pernah meninggalkanmu. Aku disini Emma, kamu dari mana saja?”
Mungkin kamu benar Reksa, akulah yang selama ini pergi. Aku berjalan terlalu jauh sampai aku tidak menemukan jalan untuk kembali padamu.
“Sebenarnya aku sudah tahu,” katamu lagi “seiring waktu aku bisa menyadarinya. Dan aku juga menyadari bahwa menjadi salah satu mimpi di antara puluhan mimpi seorang pemimpi sepertimu hanya akan membuatku jadi mimpi yang tidak perlu kamu wujudkan.”
“Kamu salah, kamu mimpi nomor satuku, aku menginginkanmu lebih dari apapun.”
“Aku harap kamu mengerti Emma, bahwa pengertianku sudah terkuras habis. Tapi kamu hebat, kamu mewujudkan 20 mimpi di dalam daftar itu. Lihatlah aku yang tidak bisa mewujudkan satu-satunya mimpiku.”
Ya, kamu benar, aku hebat. Walaupun isak tangis ini membuatku tampak payah, tapi aku tetap hebat.
Masih pagi saat aku menangis sepuasnya, lalu mengangkat wajah dan menyaksikan Reksa mengucapkan janji suci di altar. Mimpi nomor satuku, Reksa Anggara, akhirnya resmi menjadi mimpi yang hanya sekedar mimpi. Selama ini aku selalu memintamu mengerti dengan keputusanku, dan ini saatnya bagiku untuk memberikan pengertian itu padamu.
“Aku mengerti Reksa, berbahagialah”