Kamis, 01 Mei 2014

Rumput Hijau


                Shana sibuk memperhatikan Dion yang berlari mengelilingi lapangan bola dengan rumput hijau semata kaki di belakang sekolah mereka. Tapi Dion yang dipandangi justru tidak pernah melirik barang sedetik, cuek bebek. Padahal Shana adalah cewek populer di sekolah, selain kabar tentang ayahnya yang pemilik pabrik kerupuk ternama, Shana juga populer karena reputasinya yang sangat buruk. Shana adalah siswi dengan daftar kesalahan terbanyak di sekolah, daftar terlambat terbanyak dan yang pasti daftar nilai terburuk.
                Sedangkan Dion, siswa berprestasi di bidang sepak bola. Ketua osis pula. Tubuhnya yang tinggi semampai tak perlu diragukan bahwa dia jadi rebutan banyak siswi. Nilainya juga selalu bagus, bahkan acap kali menjadi juara kelas. Ia mengikuti
berbagai macam olimpiade dan mulai berbisnis kerajinan tangan yang ia pahat dengan tangannya sendiri. Bayangkan betapa sempurnanya dia.
“Diiooooonnnn!!!!!” teriak Shana “I Looooovvveee Yooouuuuu...!!!!”
Semua orang di lapangan itu menoleh serempak dan mencibirnya.
“Uuuuuuu......!!!!!”
Bagi Shana, ejekan apapun tak sebanding dengan rasa sukanya pada Dion. Cowok sempurna itu, sudah menjadi tambatan hatinya sejak ia pertama kali menumpahkan kuah bakso panas di tangan cowok itu. Bahkan bekas lukanya masih ada sampai sekarang.
“Itu tanda kalau dia takdir gue,” ujar Shana saat ditanya tentang rasa bersalahnya pada Dion “Tuhan sengaja mengirimkan dia ke gue tau.”
Dan akhirnya hal seperti itu tak lagi dipermasalahkan, lagipula itu Shana. Ayah Shana kan adik kandung dari kepala sekolah dan sepupu dari guru BP. Percuma kalau mau memojokan dia.
                Latihan pemanasan selesai beberapa menit yang lalu, sekarang Dion sedang asyik saling mengoper bola bersama teman-teman satu timnya. Tentunya dengan tetap mengacuhkan Shana.
“Itu cewek lo?” tanya Angga yang berlari di sebelahnya sambil terengah-engah “Cewek aneh itu??”
“Bukan lah!” sahut Dion cepat “Emang gue gila pacaran ama cewek alien kayak gitu.”
Dan Angga hanya tertawa membahana di seluruh lapangan itu.
“Anggara Nasution!!” teriak Pak Landi “Oper bolanya, jangan ketawa.”
“Iyaa Paaakkk,” sahutnya kembali berteriak.
***
 Latihan selesai tepat pukul 17.00, Shana dengan gaya centilnya menghampiri Dion yang sedang duduk bersama Angga.
“Dion,” panggilnya lembut.
Dion menoleh “Iya,”
“Ini buat kamu,” Shana mengulurkan kedua tangannya dan menyerahkan cokelat berbentuk hati yang ia pesan khusus.
Dion hanya tersenyum lebar “Maaf yaa Shana,” ujarnya “tapi aku udah punya pacar.”
“Pacar?” tanya Shana kaget “Siapa? Kapan??”
“Sudah lama, tapi aku nggak mau nyakitin kamu. Tapi maaf, aku bener-bener nggak bisa.”
“...”
Dion pergi dari halaman berumput hijau itu, meninggalkan Shana yang mulai menangis.
“Udahlah,” ujar Angga mendekat dan menepuk-nepuk pundaknya “lupain Dion dan cari cowok yang lain.”
“Makasih ya Angga,” ujar Shana terisak.
***
                Keesokan harinya, Shana duduk lagi di kursi yang ada di pinggir lapangan berumput hijau itu. Mengamati tim sepak bola sekolahnya yang sedang berlatih.
“Gila yaa ni cewek,” ujar Dion sembari mempersiapkan diri untuk pemanasan “udah gue bilangin kalo gue punya cewek, masih aja datang.”
“Mungkin dia bukan datang buat lo,” sahut Angga datar.
                Permainan pun dimulai, keadaan memanas sejak beberapa menit yang lalu. Dan...
“Gooolllll....” skor 1-0 yang dicetak Angga.
Semua orang bersorak, termasuk Shana.
“Anggaaaaaaaa!!!!” teriaknya.
Angga menoleh karena kaget lalu memandang heran pada gadis itu.
“I Looovvveeee Yoouuuu!!!!!!!”
“????? HHAAHHH????” ujar Angga bengong.
“Lo bener Ngga,” ujar Dion di sampingnya “dia bukan datang buat gue. Makasih yaa...”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar