Jumat, 19 September 2014

Monster - BigBang



“Tidak! Lepaskan aku!”
Aku berusaha meronta dalam pelukannya yang terasa mencekik, memar merah terpatri di pergelangan tanganku, air mataku tidak bisa berhenti mengalir jatuh mengiringi kutukan yang kuucapkan pada diriku yang ciut.
Ini sudah berlangsung cukup lama, bahkan terlalu lama hingga aku tidak bisa mengingat titik awalnya. Aku dan dia seperti sebuah lukisan yang berantakan, paduan warna yang kacau, goresan kuas yang tidak masuk akal, tapi bersembunyi di balik kedok abstrak. Ya, kami lukisan yang abstrak, yang tidak mudah dimengerti, kecuali olehku dan dia sendiri.
Katanya cinta bisa membutakan, jadi mungkin itulah sebabnya dia tidak bisa melihat rasa sakit di mataku saat dia memasukanku ke dalam kamar lembab itu dan mengikatku di sana. Seorang perempuan

Selasa, 09 September 2014

Winter #spoiler-1

     Sudah masuk bulan Juni, Adelaide diserang musim dingin. Tapi Villant Paxton dan Frilisa Roseline Bernard justru sedang bersembunyi di balik kotak-kotak kayu, saling menggenggam tangan mereka yang gemetar dan berkeringat saat harus menyaksikan Joseph Brown duduk dengan tangan terikat.
     Seorang pemuda jangkung bermata biru menyiapkan FN 57 dan membidik kening pria itu. Tubuh Lisa berguncang, Ayahnya muncul dari balik tangga dan tersenyum pada Sang Target. Sepersekian detik kemudian pelatuk ditarik dan jantung Joseph berhenti berdetak.
     Villant menoleh, kerah kemejanya ditarik oleh seorang pria bertubuh besar yang langsung mendorongnya ke tengah ruangan. Sementara itu Lisa memberontak dalam cengkeraman pemuda bermata biru yang berusaha menariknya menaiki tangga. Mata Villant terarah padanya, meyakinkannya kalau semua akan baik-baik saja. Tapi dia tidak percaya. Mayat Joseph dipindahkan dan Villant dipaksa duduk di kursi yang sama.