“Ayaaaahhhh!!!” teriak Iqbal dari depan
pintu saat melihat ayahnya datang dari kejauhan. Lalu ia berlari menyongsong
pria yang sedang menuju kearahnya.
Ayah Iqbal bekerja di tempat yang jauh, tidak
setiap hari ia bisa pulang kerumah. Bahkan sebulan sekali pun jarang. Tapi
Iqbal tidak pernah berhenti menunggu ayah, baginya ayah adalah orang terpenting
yang pasti akan datang untuknya.
“Ayah sudah pulang?” tanya Akbar dari
ambang pintu.
Ayah menoleh, lalu tersenyum dan
mengangkat tubuh Iqbal untuk membawanya pada Akbar.
“Kamu senang ayah pulang?” tanya ayah
pada Akbar.
“Iya,” sahut Akbar singkat.
Lalu mereka masuk beriringan ke dalam rumah. Akbar membawa
tas ransel ayah yang berisi beberapa lembar pakaian.
Sudah sejak lama Akbar
meminta ayahnya untuk membawa koper saja, tapi sang ayah selalu menolak.
Katanya jika membawa koper, akan susah untuk berlari. Padahal Akbar tidak
pernah tahu untuk apa ayahnya berlari, tapi itu bukan sesuatu yang penting.
“Kakak,” panggil Iqbal pada Akbar yang
sedang membaca buku “Iqbal dapat oleh-oleh dari ayah.”
“O ya?” tanyanya “Apa?”
“Pistol, katanya supaya Iqbal bisa
belajar jadi polisi kayak kakak.”
Akbar hanya tertawa lebar pada adiknya
yang masih tujuh tahun itu. Karena ibu mereka meninggal setelah melahirkan
Iqbal, kini Akbar memegang tanggung jawab penuh atas adiknya. Apalagi ayah
mereka jarang berada dirumah.
Malam
ini adalah malam minggu yang dingin, Akbar dan ayahnya sedang duduk berdua
sambil menonton televisi.
“Gimana pekerjaan kamu?” tanya ayah
“Lancar??”
“Iya,” sahut Akbar “akhir-akhir ini
Akbar jarang tugas di lapangan.”
“Bagus, kalau ditugaskan di lapangan, lebih baik kamu
cari alasan untuk menolak.”
“Kenapa?” tanya Akbar bingung “Polisi
yang baik harus berani kan?”
“Tapi itu bahaya, ayah takut kamu
terluka. Gimana nanti Iqbal kalau dia harus kehilangan kakaknya juga.”
“...”
“Minggu depan kita mancing ya,” ujar
ayah lagi.
Akbar mengangguk, “Siap kapten,”
2 hari kemudian ayah pergi lagi untuk
sebuah pekerjaan, ayah bilang ini adalah pekerjaan terakhir yang ditugaskan padanya.
Pagi itu sedang mendung, beberapa pekan terakhir cuaca memang tidak bagus.
“Kapan ayah pulang?” tanya Iqbal
merengek.
“Secepatnya,” sahut ayah dan Akbar
berbarengan.
Lalu ayah melangkah keluar pintu dan
melambaikan tangan beberapa kali pada kedua anaknya “Jaga adikmu ya Akbar,”
ujar ayah sebelum pergi.
Sudah
pukul 10 malam tapi Akbar belum juga pulang. Karena ada sebuah tugas yang
diperintahkan untuk ia jalankan. Kabarnya tugas itu adalah menangkap gembong
narkoba yang ada di pinggiran kota. Sedangkan Iqbal sudah tidur dengan lelap di kasur empuknya sembari
memimpikan memancing dengan ayah minggu depan, menangkap banyak ikan lalu
mereka bakar bersama.
“Siap?” tanya sang pimpinan pada para
anak buahnya yang sudah memasang posisi, termasuk Akbar.
Sang pemimpin mengisyaratkan hitungan
dengan jarinya, lalu bersama-sama mereka mendorong pintu kayu gudang tua yang
adalah markas penjual narkoba itu. Akbar mulai beraksi dengan senjatanya,
menodongkan pada orang-orang yang mulai terpecah-belah karena lari. Hingga
akhirnya Akbar melihat seorang pria yang sudah berlari keluar pintu gudang,
membawa ransel hitam yang ia taruh di punggung.
“Akbar kejaarr!!” teriak sang pemimpin
di sampingnya sembari mengamankan tersangka yang lain “Tembak
kakinya!!”
Dengan sigap Akbar mengangkat senjata
dan meluncurkan sebuah peluru tepat di kaki orang itu. Pria itu jatuh
tersungkur di tanah yang lembab karena hujan yang baru saja teduh.
Sementara Akbar sudah berlari menghampirinya, ia tak lagi bangkit. Pria itu
telah mencoba lari, tapi sepertinya ia sudah kelelahan, hingga yang bisa ia
lakukan hanyalah menunggu waktu.
“Diam di tempat!” perintah Akbar.
Pria itu hanya diam membisu, lalu
perlahan menoleh dan memandangi Akbar “Maaf...” bisiknya lirih.
“...” Akbar diam sejenak “A...yah???”
Akbar yang kokoh tak mampu berdiri
lebih lama lagi, rasanya ada sesuatu yang baru saja menghantam kakinya. Hingga ia tak lagi
mampu berdiri, lalu jatuh terduduk tepat di samping kaki ayah yang
terluka.
“Ayah,” bisiknya sembari menangis
“kenapa?”
“Maaf...”
***
Akbar
pulang dini hari, tepat saat adzan subuh berkumandang di masjid samping rumahnya.
Dibukanya kamar Iqbal perlahan, hingga decit pintu tua itu tak terdengar. Lalu
dengan mata memerah dan wajah pucat pasi ia tidur meringkuk di samping adik kecilnya,
menangisi ayah.
“Kakak kenapa?” tanya Iqbal yang
terbangun mendengar isaknya.
“...”
“Kakak kenapa?” tanyanya lagi.
“Ayah...”
“...”
“Ayah nggak bisa pulang minggu ini
Dek.”
“Kenapa? Ayah janji kita mau mancing
kan?”
“Tapi ayah pergi terlalu jauh, ayah
tersesat.”
“...”
Dan hidup harus berjalan. Akbar dan
Iqbal setia menunggu ayah keluar dari penjara agar mereka bisa memancing
diakhir minggu. Bagaimanapun, ayah tetaplah ayah.
“Ayaaahhhhh!!!!!!!” teriak Iqbal
menyongsong seorang pria yang sedang duduk di salah satu kursi ruang
kunjungan penjara.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar