Kamis, 01 Mei 2014

Ayah...


“Ayaaaahhhh!!!” teriak Iqbal dari depan pintu saat melihat ayahnya datang dari kejauhan. Lalu ia berlari menyongsong pria yang sedang menuju kearahnya.
Ayah Iqbal bekerja di tempat yang jauh, tidak setiap hari ia bisa pulang kerumah. Bahkan sebulan sekali pun jarang. Tapi Iqbal tidak pernah berhenti menunggu ayah, baginya ayah adalah orang terpenting yang pasti akan datang untuknya.
“Ayah sudah pulang?” tanya Akbar dari ambang pintu.
Ayah menoleh, lalu tersenyum dan mengangkat tubuh Iqbal untuk membawanya pada Akbar.
“Kamu senang ayah pulang?” tanya ayah pada Akbar.
“Iya,” sahut Akbar singkat.
Lalu mereka masuk beriringan ke dalam rumah. Akbar membawa tas ransel ayah yang berisi beberapa lembar pakaian.
Sudah sejak lama Akbar meminta ayahnya untuk membawa koper saja, tapi sang ayah selalu menolak. Katanya jika membawa koper, akan susah untuk berlari. Padahal Akbar tidak pernah tahu untuk apa ayahnya berlari, tapi itu bukan sesuatu yang penting.
“Kakak,” panggil Iqbal pada Akbar yang sedang membaca buku “Iqbal dapat oleh-oleh dari ayah.”
“O ya?” tanyanya “Apa?”
“Pistol, katanya supaya Iqbal bisa belajar jadi polisi kayak kakak.”
Akbar hanya tertawa lebar pada adiknya yang masih tujuh tahun itu. Karena ibu mereka meninggal setelah melahirkan Iqbal, kini Akbar memegang tanggung jawab penuh atas adiknya. Apalagi ayah mereka jarang berada dirumah.
   Malam ini adalah malam minggu yang dingin, Akbar dan ayahnya sedang duduk berdua sambil menonton televisi.
“Gimana pekerjaan kamu?” tanya ayah “Lancar??”
“Iya,” sahut Akbar “akhir-akhir ini Akbar jarang tugas di lapangan.”
“Bagus, kalau ditugaskan di lapangan, lebih baik kamu cari alasan untuk menolak.”
“Kenapa?” tanya Akbar bingung “Polisi yang baik harus berani kan?”
“Tapi itu bahaya, ayah takut kamu terluka. Gimana nanti Iqbal kalau dia harus kehilangan kakaknya juga.”
“...”
“Minggu depan kita mancing ya,” ujar ayah lagi.
Akbar mengangguk, “Siap kapten,”
2 hari kemudian ayah pergi lagi untuk sebuah pekerjaan, ayah bilang ini adalah pekerjaan terakhir yang ditugaskan padanya. Pagi itu sedang mendung, beberapa pekan terakhir cuaca memang tidak bagus.
“Kapan ayah pulang?” tanya Iqbal merengek.
“Secepatnya,” sahut ayah dan Akbar berbarengan.
Lalu ayah melangkah keluar pintu dan melambaikan tangan beberapa kali pada kedua anaknya “Jaga adikmu ya Akbar,” ujar ayah sebelum pergi.
   Sudah pukul 10 malam tapi Akbar belum juga pulang. Karena ada sebuah tugas yang diperintahkan untuk ia jalankan. Kabarnya tugas itu adalah menangkap gembong narkoba yang ada di pinggiran kota. Sedangkan Iqbal sudah tidur dengan lelap di kasur empuknya sembari memimpikan memancing dengan ayah minggu depan, menangkap banyak ikan lalu mereka bakar bersama.
“Siap?” tanya sang pimpinan pada para anak buahnya yang sudah memasang posisi, termasuk Akbar.
Sang pemimpin mengisyaratkan hitungan dengan jarinya, lalu bersama-sama mereka mendorong pintu kayu gudang tua yang adalah markas penjual narkoba itu. Akbar mulai beraksi dengan senjatanya, menodongkan pada orang-orang yang mulai terpecah-belah karena lari. Hingga akhirnya Akbar melihat seorang pria yang sudah berlari keluar pintu gudang, membawa ransel hitam yang ia taruh di punggung.
“Akbar kejaarr!!” teriak sang pemimpin di sampingnya sembari mengamankan tersangka yang lain “Tembak kakinya!!”
Dengan sigap Akbar mengangkat senjata dan meluncurkan sebuah peluru tepat di kaki orang itu. Pria itu jatuh tersungkur di tanah yang lembab karena hujan yang baru saja teduh. Sementara Akbar sudah berlari menghampirinya, ia tak lagi bangkit. Pria itu telah mencoba lari, tapi sepertinya ia sudah kelelahan, hingga yang bisa ia lakukan hanyalah menunggu waktu.
“Diam di tempat!” perintah Akbar.
Pria itu hanya diam membisu, lalu perlahan menoleh dan memandangi Akbar “Maaf...” bisiknya lirih.
“...” Akbar diam sejenak “A...yah???”
Akbar yang kokoh tak mampu berdiri lebih lama lagi, rasanya ada sesuatu yang baru saja menghantam kakinya. Hingga ia tak lagi mampu berdiri, lalu jatuh terduduk tepat di samping kaki ayah yang terluka.
“Ayah,” bisiknya sembari menangis “kenapa?”
“Maaf...”
***
   Akbar pulang dini hari, tepat saat adzan subuh berkumandang di masjid samping rumahnya. Dibukanya kamar Iqbal perlahan, hingga decit pintu tua itu tak terdengar. Lalu dengan mata memerah dan wajah pucat pasi ia tidur meringkuk di samping adik kecilnya, menangisi ayah.
“Kakak kenapa?” tanya Iqbal yang terbangun mendengar isaknya.
“...”
“Kakak kenapa?” tanyanya lagi.
“Ayah...”
“...”
“Ayah nggak bisa pulang minggu ini Dek.”
“Kenapa? Ayah janji kita mau mancing kan?”
“Tapi ayah pergi terlalu jauh, ayah tersesat.”
“...”
Dan hidup harus berjalan. Akbar dan Iqbal setia menunggu ayah keluar dari penjara agar mereka bisa memancing diakhir minggu. Bagaimanapun, ayah tetaplah ayah.
“Ayaaahhhhh!!!!!!!” teriak Iqbal menyongsong seorang pria yang sedang duduk di salah satu kursi ruang kunjungan penjara.







Tidak ada komentar:

Posting Komentar