#18/Sang Pendongeng~Atas nama mimpi
“Kalau kamu punya mimpi, kamu harus
buat daftar mimpi-mimpi itu dan menulisnya di kertas lalu letakan di dinding
atau di mana pun yang bisa kamu lihat.”
Aku ingat nasihatmu yang satu itu,
karenanya aku menulis setiap mimpiku di kertas dan menempelkannya di jurnal
kesayanganku. Saat melihat daftar itu, tidak sedikit orang yang akan mengatakan
aku pemimpi tidak tahu diri. Tapi kamu dan mata hijaumu pernah mengatakan bahwa
bermimpi itu gratis. Mimpi kecil gratis dan mimpi besar juga gratis, lalu kenapa
tidak sekalian memimpikan yang paling besar saja? Ah, kamu memang sahabat
terbaikku.
Suatu hari saat melihat daftar
mimpiku, kamu terkejut setengah mati. Di secarik kertas yang aku tempelkan
di halaman pertama jurnalku tertera 20 mimpi yang ingin kuwujudkan.
Aku mengangguk “Semua mimpi ini gratis
kan?”
Kamu tersenyum dan menutup kembali
jurnalku. Dengan gemas kamu mengacak-acak rambutku yang tergerai.
“Iya, gratis. Bermimpilah yang banyak,
20 mimpi ini masih sedikit.”
“Tapi sebenarnya mimpiku ada 21.”
“Benarkah?” kamu mengerutkan kening “Di
daftar ini cuma ada 20.”
“Itu mimpi nomor 2 sampai nomor 21.”
“Lalu yang nomor satu?”
“Nomor satu?”
Kamu mengangguk, raut wajah
penasaranmu membuatku ingin tertawa.
“Itu mimpiku yang paling besar,”
sahutku lagi “jadi kuletakkan di tempat yang jauh lebih mudah kulihat daripada
jurnal.”
“Jadi itu rahasia? Aku juga tidak
boleh tahu?”
“Iya, nanti aku beritahu kalau mimpi
itu sudah jadi kenyataan.”
Kamu setuju dan tidak menuntut lagi. Mengalihkan
pandangan pada halaman sekolah yang dipenuhi manusia. Katamu mengamati kegiatan
manusia itu menyenangkan, karenanya aku selalu ikut duduk di kursi kayu panjang
ini bersamamu. Kita akan membahas banyak hal, terutama tentang akan jadi apa
kita setelah fase seragam putih biru ini berakhir.
“Daftar mimpimu mana?” tanyaku saat
teringat.
Kamu menoleh “Aku nggak punya daftar,
karena aku cuma punya satu mimpi.”
“Cuma satu?” aku bertanya dengan nada
tidak percaya, bagaimana mungkin orang yang mengajariku membuat daftar mimpi
justru tidak punya daftar.
“Iya, aku cuma punya satu.”
“Kamu mencatatnya?”
“Ya, aku meletakkannya di cermin.”
Tawaku langsung meledak saat
mendengarnya. Jadi tempat yang mudah kamu lihat adalah cermin, itu artinya kamu
pasti gemar bercermin.
“Boleh aku lihat?” aku bertanya lagi
setelah puas tertawa.
“Boleh, kalau kamu beritahu aku mimpi
nomor satumu, aku juga akan memberitahumu.”
Ah, kenapa harus sebuah pertukaran? Mimpi
nomor satuku adalah mimpi yang paling rahasia. Aku bahkan tidak menulisnya
di kertas karena aku bisa menemukannya dengan mudah. Bahkan saat ini mimpi nomor
satu itu ada di hadapanku, memandangi lalu lintas manusia yang katanya tidak
terdefinisi. Jika kubagikan rahasiaku, aku tidak tahu akan seperti apa
reaksimu. Tidak bisa kubayangkan kata apa yang akan keluar dari mulutmu jika
kamu tahu bahwa mimpi nomor satuku adalah kamu, Reksa Anggara.
“Apa?” kamu menagihnya “Apa mimpi
nomor satumu?”
Aku tidak menyahut, kuputuskan bahwa
aku belum siap untuk membagikannya. Jadi kita membuat sebuah perjanjian bahwa
jika suatu hari aku siap maka kamu juga akan siap. Aku tidak sabar menanti hari
dimana kita akan saling berbagi rahasia tentang mimpi besar kita satu sama
lain. Namun sayang hari itu tidak pernah datang.
***
21 Januari, hari itu juga di tanggal
yang sama. Hari dimana kita membuat janji sudah berlalu sepuluh tahun yang
lalu. Aku sudah siap sekarang, kamu harus tahu mimpi nomor satuku hari ini
Reksa. Harus.
Sembari berjalan tergesa untuk
menemukanmu di antara kerumunan orang dengan setelan jas dan gaun, aku terus
memikirkan waktu yang kita habiskan selama sepuluh tahun ini. Aku ingat saat
aku meraih mimpi nomor duaku, kita sudah lepas dari seragam putih biru dan
berlanjut ke fase berikutnya. Dalam balutan seragam putih abu-abu, akhirnya aku
bisa tampil dalam pementasan teater yang amat kuinginkan. Kita berjingkrak
bersama untuk merayakannya, kamu menemaniku menghafal dialog demi dialog dan
juga menggenggam tangan kananku saat mencoret mimpi itu dari daftar.
“Satu mimpi terwujud, selamat Emma.” Kamu
mengacak-acak rambutku, memperlakukanku seperti adik kecil, lalu bagaimana bisa
kukatakan padamu tentang mimpi nomor satuku.
Waktu berlalu dan kita tetap bersama. Satu
per satu mimpiku terwujud dan kamu selalu menemaniku untuk merayakannya. Kita semakin
dewasa tapi mimpi nomor satuku tidak pernah berubah. Reksa Anggara, terpatri
jelas dalam benakku.
Kebersamaan kita yang nyaris sempurna
juga tidak lepas dari pertengkaran. Suatu hari kamu menuduhku berubah, aku
terlalu sibuk mengejar mimpi dan menjadi ambisius. Aku berusaha menjelaskan
padamu bahwa keadaan yang sudah berubah, orang-orang yang dulu menjulukiku
pemimpi kini harus menunduk malu saat melihat mimpi-mimpiku yang terwujud. Mereka
harus mengakui kehebatanku. Aku harap kamu mengerti bahwa aku tidak pernah
berubah, mimpi nomor satuku tetap kamu.
Nyatanya kamu tidak benar-benar
mengerti, kita mulai berjarak dan itu membuatku sakit. Tapi kupikir kamu tidak
perlu melihatnya karena itu akan membuatmu jumawa, karenanya aku berpura-pura
tidak peduli.
***
Hari itu dalam keadaan setengah mabuk
aku mengetuk pintu rumahmu. Matamu membelalak saat membuka pintu, kamu terkejut
karena aku berbau alkohol. Aku tidak peduli, aku bilang aku hanya mencicipi
sedikit. Kamu terburu-buru membawaku ke dalam rumah dan mendudukkanku di sofa,
mengambilkanku segelas air hangat lalu duduk di sampingku, mengusap peluhku
dengan tissue. Wajahmu tampak khawatir, kamu pernah bilang bahwa mungkin aku
sudah berjalan terlalu jauh. Dan komentarku saat itu hanya setengah hati. Aku artis
besar, hidup seperti ini adalah bagian dari adaptasiku. Tapi malam ini aku
benar-benar hanya mencicipi sedikit, aku hanya perlu kamu menganggapku mabuk
agar aku bisa mengatakannya padamu.
“Aku mencintaimu,” ujarku sambil
menyandarkan kepala.
“Istirahatlah, kamu bisa tidur di kamar,
aku akan tidur di sofa.”
Kamu ingin beranjak pergi tapi aku
menahanmu, kugenggam tangan kirimu dengan erat.
“Aku mencintaimu Reksa.”
Aku yakin kamu mendengarnya dengan
cukup jelas, jadi saat pintu rumahmu yang terbuka lebar tiba-tiba dipenuhi
wartawan aku tidak merasa perlu mengatakannya lagi di depan mereka. Aku seorang
selebriti muda dengan citra baik, aku tidak ingin mereka menemukanku di rumah seorang
pria dalam keadaan setengah mabuk dan tidak punya pembelaan sama sekali. Aku melepaskan
tanganmu dengan cepat, membuatmu terkejut dan memandangku tidak percaya. Tapi kamu
sahabatku, kamu mimpi nomor satuku, kamu pasti akan mengerti dengan keputusanku
untuk melindungi mimpi-mimpiku yang lain. Kupikir seperti itu tapi ternyata
tidak. Hari itu adalah terakhir kalinya aku bisa bersamamu sebagai sahabat. Kamu
membuat jarak, aku nyaris kehilanganmu dan tiba-tiba hari ini datang. Hari dimana
aku akan mengatakan padamu tentang mimpi nomor satuku.
***
Kamu mengenakan tuxedo putih, begitu
serasi dengan gaun putihku. Kita tampak sempurna untuk hari istimewa ini. Harusnya
aku tidak boleh menemuimu sebelum kamu berjalan ke altar, tapi aku tidak sabar,
karena mungkin saja saat itu sudah terlambat bagiku.
“Reksa Anggara” ujarku dengan suara
bergetar.
Kamu mengerutkan kening “Ya? Kenapa kamu
memanggil namaku seperti itu?”
“Itu bukan sebuah panggilan, itu mimpi
nomor satuku. Kamu, Reksa Anggara, mimpi nomor satuku.”
Senyummu mengembang, kamu terlihat
senang dan aku bersyukur sekaligus ingin menangis. Mimpi nomor satuku, aku
menginginkanmu. Kupererat genggaman tanganku dan membuat kertas coklat itu
rusak.
“Benarkah?” tanyamu sambil jalan
mendekat “Berarti sekarang aku harus memberitahumu mimpiku yang satu-satunya.”
Oh, aku baru ingat. Kita pernah
membuat perjanjian. Bodohnya aku yang hanya selalu memikirkan kapan waktu yang
tepat untuk memberitahumu tentang mimpiku tanpa pernah penasaran dengan
mimpimu. Mungkinkah kamu ingin menjadi fotografer seperti kegemaranmu dulu atau
menjadi pengusaha muda seperti yang kamu jalani saat ini.
“Apa?” tanyaku, memandang lurus kearah
matamu.
“Sudah kubilang kalau aku
meletakkannya di cermin, kamu harus melihatnya sendiri. Kamu menggandeng tangan
kananku dan menuntunku menghadap sebuah cermin besar. Kamu tersenyum lalu
menoleh padaku.
“Kamu lihat? Itu mimpiku.”
Di cermin itu tidak ada secarik kertas
pun yang menempel, tidak ada tulisan. Hanya ada kita yang saling bergandengan
tangan. Aku refleks menoleh padamu dengan mata berkaca-kaca.
“Iya,” katamu “satu-satunya mimpiku
adalah kamu Emma.”
Aku tidak tahan lagi, aku menangis
sejadi-jadinya. Kertas coklat yang sedari tadi kugenggam terjatuh ke lantai. Kertas
coklat yang bertuliskan namamu sebagai mempelai dan namaku sebagai tamu
undangan itu adalah bukti kekalahanku. Aku sudah berjanji untuk tidak merusak
acaramu, aku hanya ingin kamu mendengar mimpi nomor satuku. Tapi bukankah
selama ini aku telah menjadi mimpi satu-satunya untukmu, jadi tidak bisakah aku
mendapatkanmu?
“Kembalilah Reksa,” ucapku lirih
dengan penuh harapan “beri aku kesempatan.”
“Terimakasih karena telah menjadikanku
mimpi nomor satumu,” sahutmu sambil menarik tubuhku kedalam pelukan “tapi kamu
harus tahu kalau aku tidak pernah meninggalkanmu. Aku disini Emma, kamu dari
mana saja?”
Mungkin kamu benar Reksa, akulah yang
selama ini pergi. Aku berjalan terlalu jauh sampai aku tidak menemukan jalan
untuk kembali padamu.
“Sebenarnya aku sudah tahu,” katamu
lagi “seiring waktu aku bisa menyadarinya. Dan aku juga menyadari bahwa menjadi
salah satu mimpi di antara puluhan mimpi seorang pemimpi sepertimu hanya akan
membuatku jadi mimpi yang tidak perlu kamu wujudkan.”
“Kamu salah, kamu mimpi nomor satuku,
aku menginginkanmu lebih dari apapun.”
“Aku harap kamu mengerti Emma, bahwa
pengertianku sudah terkuras habis. Tapi kamu hebat, kamu mewujudkan 20 mimpi
di dalam daftar itu. Lihatlah aku yang tidak bisa mewujudkan satu-satunya mimpiku.”
Ya, kamu benar, aku hebat. Walaupun isak
tangis ini membuatku tampak payah, tapi aku tetap hebat.
Masih pagi saat aku menangis
sepuasnya, lalu mengangkat wajah dan menyaksikan Reksa mengucapkan janji suci
di altar. Mimpi nomor satuku, Reksa Anggara, akhirnya resmi menjadi mimpi yang
hanya sekedar mimpi. Selama ini aku selalu memintamu mengerti dengan
keputusanku, dan ini saatnya bagiku untuk memberikan pengertian itu padamu.
“Aku mengerti Reksa, berbahagialah”