Selasa, 16 Desember 2014

Surat Kabar



“Koran, koran, koran.”
Suara seorang anak laki-laki yang usianya mungkin belum genap sepuluh tahun terdengar olehku, deru mesin kendaraan yang menyala sedang mengantre tidak sabar menunggu merah menjadi hijau. Tapi teriakan anak laki-laki itu tetap berhasil menyita perhatian.
Dari kaca spion aku bisa melihat beberapa orang membuka kaca mobilnya dan membeli apa yang ia tawarkan. Tiba giliran dia mengetuk kaca mobilku, aku jengkel, mengalihkan pandangan dan
bersyukur karena merah segera berubah warna.
Katanya surat kabar menginspirasi. Aku tidak percaya. Inspirasi macam apa yang bisa didapatkan dari lembar kertas yang hanya menguak sisi jahat manusia. Di lembar pertama dengan judul paling besar, tidak jarang kutemukan berita tentang pembunuhan di salah satu daerah. Lalu di sekitarnya ada berita tentang sopir truk yang mabuk dan melindas pengendara sepeda motor, pencabulan seorang siswi sekolah dasar, penyelundupan narkotika oleh warga negara asing, atau pejabat daerah yang akhirnya diundang untuk minum kopi di KPK.
Aku kesal hari ini. Terlebih karena pagi tadi, aku tergesa menyuapkan roti yang hanya diolesi sedikit selai nanas ke dalam mulut dan meminum setengah gelas teh hangat sambil berjalan ke dapur menghampiri Ibu, niatku hanya ingin berpamitan beberapa detik karena sudah terlambat pergi ke kantor, tapi Ibu dengan antusias bertanya.
“Kamu sudah baca koran, Nak? Ada berita heboh.” aku memutar bola mata, meletakan gelas teh-ku dan menggeleng malas.
“Aku berangkat kerja dulu, Bu.”
“Tunggu, biar Ibu beritahu, katanya tadi malam ada penjambretan di jalan yang sering kamu lewati itu. Kamu jangan lewat sana, ya?”
“Aduh, Ibu. Itu jalan paling cepat ke kantor, Lanaya sudah telat, apalagi kalau harus cari jalan lain.”
“Jangan. Lebih baik kamu telat dan dipecat, daripada tidak selamat.”
Aku asal mengangguk agar Ibu membiarkanku pergi, saat melewati ruang tamu Ayah terlihat membaca berita yang sama dan memperingatkanku hal yang sama pula. Itu benar-benar membuat muak.
Lampu merah tempat pertemuanku dengan anak lelaki penjaja koran sudah tertinggal jauh di belakang. Aku berbelok ke kiri, mengambil jalan kecil yang biasa kulewati dan mengindahkan kalimat Ibu.
Garis polisi terpasang melingkar di salah satu bagian, mungkin di sanalah sang penjambret mati tergeletak setelah dipukuli. Aku menarik sudut bibir, foto yang diambil pasti cukup bagus hingga cetak di halaman pertama.
Mobilku terus melaju, berpacu dengan waktu yang semakin sempit. Aku terus melihat arlojiku. Sepuluh meter di depan ada persimpangan, aku akan mengambil jalan lurus, lalu berbelok ke kanan dan sampai tepat di sebelah bangunan kantor.
Aku melihat arlojiku sekali lagi dan ternyata hanya tersisa lima menit sebelum waktu kedatangan bos. Semua karyawan tahu watak buruknya yang tidak mau mendengar penjelasan. Pekerjaan harus selesai, tidak peduli apapun yang terjadi.
Persimpangan sudah telewati, aku tiba di kantor tepat waktu. Mobilku terparkir di sebelah mobil Zen, rekan sekerjaku yang lugu, selalu tepat waktu menyelesaikan pekerjaan dan jadi anak emas. Aku baru satu langkah di dalam kantor saat suara sirene terdengar, aku menoleh, mobil polisi dan ambulans datang bersamaan.
Para karyawan sibuk berlarian dan aku tidak punya kesempatan untuk bertanya. Aku mundur ke belakang, dua orang polisi mengamankan jalan untuk petugas ambulans yang masuk membawa tandu.
“Ada apa ini?” aku menepuk pundak Sarah yang berdiri tidak jauh dariku.
“Zen, dia menikam bos.”
“Loh? Kenapa? Zen anak emas?”
“Iya, kamu belum baca berita di koran pagi ini?”
Lagi-lagi koran. Aku menggeleng.
“Ada penjambretan, Zen korbannya. Mobilnya mogok waktu lembur semalam, jadi dia pulang pakai ojek. Satu orang tertangkap tapi yang lainnya berhasil mengambil tas berisi laporan yang sudah ditagih bos sejak tiga hari lalu. Bos marah-marah tadi pagi, Zen kalap, dia menusuk bos dengan gunting.”
Aku tertegun, tandu ambulans melewati kami dengan bos yang terbaring di atasnya, di belakang itu ada Zen yang dikawal dua orang polisi.
Aku menarik sudut bibir, melihat ke sekitar dan menemukan para wartawan sibuk mengambil gambar. Berita ini akan cetak di halaman pertama besok pagi. Zen anak emas yang tadi tercatat sebagai korban, besok menjadi pelaku.
Teori itu benar, surat kabar menginspirasi, para bos galak akan takut sejak hari ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar