“Koran, koran, koran.”
Suara seorang anak laki-laki yang usianya mungkin
belum genap sepuluh tahun terdengar olehku, deru mesin kendaraan yang menyala
sedang mengantre tidak sabar menunggu merah menjadi hijau. Tapi teriakan anak
laki-laki itu tetap berhasil menyita perhatian.
Dari kaca spion aku bisa melihat beberapa orang
membuka kaca mobilnya dan membeli apa yang ia tawarkan. Tiba giliran dia
mengetuk kaca mobilku, aku jengkel, mengalihkan pandangan dan
bersyukur karena
merah segera berubah warna.
Katanya surat kabar menginspirasi. Aku tidak
percaya. Inspirasi macam apa yang bisa didapatkan dari lembar kertas yang hanya
menguak sisi jahat manusia. Di lembar pertama dengan judul paling besar, tidak
jarang kutemukan berita tentang pembunuhan di salah satu daerah. Lalu di
sekitarnya ada berita tentang sopir truk yang mabuk dan melindas pengendara
sepeda motor, pencabulan seorang siswi sekolah dasar, penyelundupan narkotika
oleh warga negara asing, atau pejabat daerah yang akhirnya diundang untuk minum
kopi di KPK.
Aku kesal hari ini. Terlebih karena pagi tadi, aku tergesa
menyuapkan roti yang hanya diolesi sedikit selai nanas ke dalam mulut dan
meminum setengah gelas teh hangat sambil berjalan ke dapur menghampiri Ibu,
niatku hanya ingin berpamitan beberapa detik karena sudah terlambat pergi ke
kantor, tapi Ibu dengan antusias bertanya.
“Kamu sudah baca koran, Nak? Ada berita heboh.” aku
memutar bola mata, meletakan gelas teh-ku dan menggeleng malas.
“Aku berangkat kerja dulu, Bu.”
“Tunggu, biar Ibu beritahu, katanya tadi malam ada penjambretan
di jalan yang sering kamu lewati itu. Kamu jangan lewat sana, ya?”
“Aduh, Ibu. Itu jalan paling cepat ke kantor, Lanaya
sudah telat, apalagi kalau harus cari jalan lain.”
“Jangan. Lebih baik kamu telat dan dipecat, daripada
tidak selamat.”
Aku asal mengangguk agar Ibu membiarkanku pergi, saat
melewati ruang tamu Ayah terlihat membaca berita yang sama dan memperingatkanku
hal yang sama pula. Itu benar-benar membuat muak.
Lampu merah tempat pertemuanku dengan anak lelaki
penjaja koran sudah tertinggal jauh di belakang. Aku berbelok ke kiri,
mengambil jalan kecil yang biasa kulewati dan mengindahkan kalimat Ibu.
Garis polisi terpasang melingkar di salah satu
bagian, mungkin di sanalah sang penjambret mati tergeletak setelah dipukuli.
Aku menarik sudut bibir, foto yang diambil pasti cukup bagus hingga cetak di
halaman pertama.
Mobilku terus melaju, berpacu dengan waktu yang
semakin sempit. Aku terus melihat arlojiku. Sepuluh meter di depan ada persimpangan,
aku akan mengambil jalan lurus, lalu berbelok ke kanan dan sampai tepat di
sebelah bangunan kantor.
Aku melihat arlojiku sekali lagi dan ternyata hanya
tersisa lima menit sebelum waktu kedatangan bos. Semua karyawan tahu watak
buruknya yang tidak mau mendengar penjelasan. Pekerjaan harus selesai, tidak
peduli apapun yang terjadi.
Persimpangan sudah telewati, aku tiba di kantor
tepat waktu. Mobilku terparkir di sebelah mobil Zen, rekan sekerjaku yang lugu,
selalu tepat waktu menyelesaikan pekerjaan dan jadi anak emas. Aku baru satu
langkah di dalam kantor saat suara sirene terdengar, aku menoleh, mobil polisi
dan ambulans datang bersamaan.
Para karyawan sibuk berlarian dan aku tidak punya
kesempatan untuk bertanya. Aku mundur ke belakang, dua orang polisi mengamankan
jalan untuk petugas ambulans yang masuk membawa tandu.
“Ada apa ini?” aku menepuk pundak Sarah yang berdiri
tidak jauh dariku.
“Zen, dia menikam bos.”
“Loh? Kenapa? Zen anak emas?”
“Iya, kamu belum baca berita di koran pagi ini?”
Lagi-lagi koran.
Aku menggeleng.
“Ada penjambretan, Zen korbannya. Mobilnya mogok
waktu lembur semalam, jadi dia pulang pakai ojek. Satu orang tertangkap tapi
yang lainnya berhasil mengambil tas berisi laporan yang sudah ditagih bos sejak
tiga hari lalu. Bos marah-marah tadi pagi, Zen kalap, dia menusuk bos dengan
gunting.”
Aku tertegun, tandu ambulans melewati kami dengan
bos yang terbaring di atasnya, di belakang itu ada Zen yang dikawal dua orang
polisi.
Aku menarik sudut bibir, melihat ke sekitar dan
menemukan para wartawan sibuk mengambil gambar. Berita ini akan cetak di
halaman pertama besok pagi. Zen anak emas yang tadi tercatat sebagai korban,
besok menjadi pelaku.
Teori itu benar, surat kabar menginspirasi, para bos
galak akan takut sejak hari ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar