Senandungnya masih terdengar, aku
menoleh dan tersenyum tipis padanya yang sedang asyik merapikan buku-buku yang
berserakan di lantai. Sepersekian menit yang lalu dia masih berjalan santai
melewati koridor yang di sisi-sisinya dipenuhi rak-rak buku, lalu tiba-tiba
saja karena terlalu bereuforia, dia tidak sengaja menabrak sebuah rak dan
menimbulkan kegaduhan di perpustakaan.
Seorang penjaga wanita yang usianya
sudah menjelang empat puluh tahun
langsung menghampiri dengan wajah kesal, dia
dimarahi, aku terus saja memperhatikannya yang mengangguk-anggukan kepala
sebagai tanda mengerti, padahal aku tahu dia belum melepaskan earphone di telinganya.
Penjaga itu pergi setelah dia berjanji
untuk membereskan kekacauan yang dibuat, dan dia menepatinya, menyusun kembali
satu demi satu buku yang berhamburan.
“Buku itu,” entah kapan aku sudah ada di
hadapannya dan menyuarakan kalimat pertamaku sambil menunjuk asal sebuah
ensiklopedia tebal. “tolong ambilkan untukku.”
Senyumnya mengembang, menyerahkan buku
yang kuminta lalu mengulurkan tangan. “Rama.”
“Aila,” aku menyambut uluran tangannya
dan balas tersenyum.
Dia melepaskan earphone yang sedari menemaninya lalu memasangkannya padaku, “Aku
membuat sebuah lagu.”
Aku menerima nada-nada itu dalam
kepalaku dengan mata terpejam, merinci setiap makna yang bisa kutangkap, lalu
mulai menjatuhkan air mata. Mataku terbuka, dia tersenyum dengan mata memerah.
“Ini lagu yang membuatmu menabrak rak?”
Dia mengangguk, lalu kami diam untuk
menit-menit selanjutnya sampai panggilan itu datang bersamaan.
“Aila.”
“Rama.”
Kami menoleh ke arah yang berbeda,
seorang pria dengan kemeja bergaris berdiri di arah pandanganku sambil melihat
arlojinya, “Ayo cepat, kita masih punya banyak urusan.”
Aku mengiyakan lalu kembali melihat ke
arahnya, dia masih berbicara pada seorang wanita yang mengenakan gaun abu-abu,
menjinting tas warna keemasan yang mirip sekali dengan milikku.
“Sebentar lagi,” katanya, dia kembali
memandangiku dan tersenyum.
“Sudah waktunya,” ujarku dengan suara
parau.
“Sudah waktunya.”
Dia mengambil earphone dariku dan memasang di telinganya lalu berbalik lebih
dulu, aku akan memandangi pundaknya untuk beberapa saat sebelum ikut berbalik
dan mendatangi pria yang menungguku.
Namanya Rama, tahun lalu kami bertemu di
sini dengan cara seperti ini. Dan hari pertemuan kami adalah hari pertunanganku
dengan pria yang memakai kemeja bergaris itu. Kami saling mengirim kabar setelah
pertemuan konyol itu dan ternyata dia bertunangan tiga hari setelah acaraku.
Aku tahu dia mencintaiku, dia tahu aku
mencintainya. Bahkan tunangan kami masing-masing juga tahu kalau kami saling
mencintai. Kami melakukan rekonstruksi pertemuan ini setiap hari sejak sebulan
yang lalu, sejak undangan selesai dicetak dan kami saling mengundang. Ini
adalah yang terakhir, karena besok kami akan menikah di gedung yang
bersebelahan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar