Jumat, 24 Oktober 2014

Sudah Saling Tahu


Senandungnya masih terdengar, aku menoleh dan tersenyum tipis padanya yang sedang asyik merapikan buku-buku yang berserakan di lantai. Sepersekian menit yang lalu dia masih berjalan santai melewati koridor yang di sisi-sisinya dipenuhi rak-rak buku, lalu tiba-tiba saja karena terlalu bereuforia, dia tidak sengaja menabrak sebuah rak dan menimbulkan kegaduhan di perpustakaan.
Seorang penjaga wanita yang usianya sudah menjelang empat puluh tahun
langsung menghampiri dengan wajah kesal, dia dimarahi, aku terus saja memperhatikannya yang mengangguk-anggukan kepala sebagai tanda mengerti, padahal aku tahu dia belum melepaskan earphone di telinganya.
Penjaga itu pergi setelah dia berjanji untuk membereskan kekacauan yang dibuat, dan dia menepatinya, menyusun kembali satu demi satu buku yang berhamburan.
“Buku itu,” entah kapan aku sudah ada di hadapannya dan menyuarakan kalimat pertamaku sambil menunjuk asal sebuah ensiklopedia tebal. “tolong ambilkan untukku.”
Senyumnya mengembang, menyerahkan buku yang kuminta lalu mengulurkan tangan. “Rama.”
“Aila,” aku menyambut uluran tangannya dan balas tersenyum.
Dia melepaskan earphone yang sedari menemaninya lalu memasangkannya padaku, “Aku membuat sebuah lagu.”
Aku menerima nada-nada itu dalam kepalaku dengan mata terpejam, merinci setiap makna yang bisa kutangkap, lalu mulai menjatuhkan air mata. Mataku terbuka, dia tersenyum dengan mata memerah.
“Ini lagu yang membuatmu menabrak rak?”
Dia mengangguk, lalu kami diam untuk menit-menit selanjutnya sampai panggilan itu datang bersamaan.
“Aila.”
“Rama.”
Kami menoleh ke arah yang berbeda, seorang pria dengan kemeja bergaris berdiri di arah pandanganku sambil melihat arlojinya, “Ayo cepat, kita masih punya banyak urusan.”
Aku mengiyakan lalu kembali melihat ke arahnya, dia masih berbicara pada seorang wanita yang mengenakan gaun abu-abu, menjinting tas warna keemasan yang mirip sekali dengan milikku.
“Sebentar lagi,” katanya, dia kembali memandangiku dan tersenyum.
“Sudah waktunya,” ujarku dengan suara parau.
“Sudah waktunya.”
Dia mengambil earphone dariku dan memasang di telinganya lalu berbalik lebih dulu, aku akan memandangi pundaknya untuk beberapa saat sebelum ikut berbalik dan mendatangi pria yang menungguku.
Namanya Rama, tahun lalu kami bertemu di sini dengan cara seperti ini. Dan hari pertemuan kami adalah hari pertunanganku dengan pria yang memakai kemeja bergaris itu. Kami saling mengirim kabar setelah pertemuan konyol itu dan ternyata dia bertunangan tiga hari setelah acaraku.
Aku tahu dia mencintaiku, dia tahu aku mencintainya. Bahkan tunangan kami masing-masing juga tahu kalau kami saling mencintai. Kami melakukan rekonstruksi pertemuan ini setiap hari sejak sebulan yang lalu, sejak undangan selesai dicetak dan kami saling mengundang. Ini adalah yang terakhir, karena besok kami akan menikah di gedung yang bersebelahan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar