Manusia, makhluk Tuhan yang diciptakan dengan dua mata, dua telinga, dua tangan, dua kaki. Menurut studi, manusia dan simpanse memiliki 99% kesamaan DNA. Sedangkan antara manusia satu dengan manusia lain yang merupakan keturunannya memiliki kesamaan DNA 99,9%. Jadi hanya ada selisih 1% untuk membedakan manusia dengan simpanse dan 0,1% untuk membedakan keturunan satu manusia dengan keturunan manusia yang lainnya. Itu bisa dianggap sebagai angka kecil atau angka besar, tergantung dari sudut pandang.
Manusia terlihat lebih, justru karena dia kurang.
Hari ini, 11 Agustus 2014, siaran langsung acara Hitam Putih di TransTv memperkenalkan seorang anak yang berhasil masul FK UGM, kelebihannya? Anak itu hanya anak dari seorang buruh kayu. Setiap tahun FK UGM pasti menerima puluhan mahasiswa, yang membuat anak lelaki itu menarik sampai masuk siaran televisi karena dia kurang -kaya- dari mahasiswa kedokteran yang lainnya. Ada lagi seorang wisudawati yang tiba-tiba jadi pembicaraan karena dia meraih IPK 3,96. Kelebihannya? Karena dia anak seorang tukang becak.
Semua tergantung dari sudut pandang. Saat memandang kekurangan seseorang, maka keberhasilan yang biasa terjadi akan terlihat luar biasa dan kamu akan merasa lebih beruntung karena mungkin hidupmu lebih mudah. Tapi saat melihat kelebihan seseorang, bahkan keberhasilan luar biasanya akan ditanggapi dengan kalimat "wajar saja, dia kan...", lalu kamu akan merasa kecil dan tidak mampu.
Angka 1, selisih antara DNA simpanse dan manusia terlihat sebagai angka yang sangat kecil karena kita mengenal bilangan yang tidak terbatas. Juga bisa terlihat sebagai angka besar jika kita memandang kepada 0 dan bilangan negatif.
Ini tentang sudut pandang. Jadi, jangan biarkan dirimu ciut karena kamu hanya memandang kelebihan orang lain. Setiap orang kurang, setiap orang juga lebih.