*Judul oleh: Dyna Syarofa
Ramadhani
“Aku punya tiga
syarat,” ucapku padamu.
Kamu tersenyum
lebar, “Hanya tiga? Padahal aku bisa mengabulkan sebanyak apapun.”
Seperti biasa
kamu selalu jumawa, dan aku yang mendengar itu hanya tersenyum tipis.
“Syarat pertama,
kamu harus meninggalkannya.”
Kamu
mengerutkan kening “Sudah kubilang kami sudah berpisah.”
“Berarti kamu
sudah melakukan syarat pertama.”
Aku mengalihkan
pandangan pada rimbun mawar di hadapan kita. Dulu mawar-mawar itu tidak
terurus. Semaknya menganggu penglihatan dan membuat orang-orang enggan berada
di sekitarnya. Kecuali kita. Setiap kali datang ke tempat ini kamu selalu
memetik satu untukku dan menyamakanku dengannya.
“Untuk Lanaya
yang cantik, berduri dan berantakan.” ujarmu setiap kali.
Dan kuakui kamu
benar, dulu aku memang seperti itu. Jeans belel, kaos usang dengan
jaket lusuh
adalah pakaian yang selalu kamu lihat melekat di tubuhku. Mungkin karena itu
kamu lebih memilih Lily, dulu.
***
“Ternyata aku
mencintai Lily.”
Aku tidak
terkejut dengan pernyataan itu. Lily yang cantik dan terawat memang jauh lebih
pantas bersanding denganmu. Karena itu aku sadar harus segera melepaskanmu.
Katamu aku berduri, kalimatku pedas dan melukai banyak hati. Tapi tahukah kamu?
Sejak hari itu, kamulah duri yang menancap dalam hatiku.
Aku ingat
dengan jelas bagaimana upayaku menahan rasa sakit saat harus melihatmu
bersamanya. Kita berada di lingkungan yang sama, lingkungan yang aku
perkenalkan padamu. Tapi kamu justru membuat lingkungan itu menjadi sesuatu
yang enggan kudatangi lagi. Saat aku pergi kamu bahkan tidak bertanya apapun.
Dan akhirnya aku benar-benar menjelma jadi mawar tak terurus di taman itu.
***
Kamu menyentuh
tangan kiriku, membuatku menoleh.
“Syarat kedua?”
tanyamu tidak sabar.
“Syarat kedua,
kamu harus meminta maaf padaku.”
Lagi-lagi kamu
terlihat heran “Bukankah itu adalah hal pertama yang kulakukan saat datang
padamu?”
Aku mengangguk
“Sekali lagi”
Kamu tersenyum
dan beranjak menuju sekumpulan bunga mawar itu. Kamu petik salah satunya dan membiarkan
tanganmu terluka seperti biasa.
“Untuk Lanaya,”
ujarmu sambil berlutut dihadapanku “yang cantik.”
“Hanya cantik?
Tidak berduri dan berantakan lagi?”
Kamu
mengangguk, aku mengambil mawar dari tanganmu dan memperhatikannya dengan
seksama. Ternyata aku memang sama seperti mawar ini, kini aku terurus dengan
baik. Tapi kamu salah dalam satu hal, secantik apapun, mawar akan tetap
berduri.
“Aku minta maaf
atas kebodohanku meninggalkanmu” ujarmu lagi.
Aku memandang
lurus ke arah matamu “Indra, aku tahu kamu datang bukan sekedar untuk meminta
maaf.”
“Iya, aku ingin
memintamu kembali. Kembalilah padaku Lanaya.”
Aku hendak
mengangkat tanganku tapi kamu menahannya “Aku tahu” katamu mencegah “kelak jika
kamu siap maka datanglah padaku. Aku tahu kamu masih mencintaiku.”
Kamu benar, aku
masih mencintaimu. Dan rasanya kini aku ingin berlari menghampiri kekasihku dan
mengembalikan cincin pertunangan yang sudah melingkar di jariku. Tapi jika aku
melakukan itu maka aku tidak akan berbeda darimu.
Katamu aku
berduri, aku berantakan dan tidak terurus. Tapi hari itu dengan raut wajah
menyesal kamu datang dan mengatakan bahwa menggenggam setangkai Lily ternyata
lebih menyakitkan. Katamu kamu terluka begitu parah dan yakin bahwa hanya aku
yang bisa mengobati.
Ini sudah empat
tahun dan rasanya masih sama. Saat kamu mengetuk pintu rumahku dan aku
membukankannya untukmu. Jantung yang berlompatan, semu merah di pipiku, dan
kembang senyum yang tidak bisa ditahan. Semua yang ada pada diriku seolah
menyambut kedatanganmu. Seakan tidak pernah ada pernyataan bahwa kamu mencintai
Lily, seakan tidak pernah ada perpisahan dan hati yang remuk redam. Hari itu
kamu mengingatkanku pada pendar yang menyerang saat kita pertama kali bertemu
dan aku jatuh cinta padamu. Dengan seluruh sisa kejujuran dalam diriku, kuakui,
aku masih menginginkanmu.
***
“Aku sudah
melakukan dua syarat,” katamu sambil tersenyum jumawa.
Aku mengangguk,
berdiri dan bersiap pergi tapi kamu menahanku.
“Lalu apa
syarat ketiga?” tanyamu lagi.
“Yang ketiga
akan kuberitahu kalau aku sudah siap.”
Kamu setuju,
dengan berat hati dan helaan nafas panjang kamu melepaskan tanganku. Aku bilang
harus segera menemui kekasihku, aku tahu itu akan membuatmu kesal.
“Aku tahu kamu
masih mencintaiku, kamu akan memutuskan pertunangan itu dan kembali padaku
Lanaya.”
Kalimatmu
terdengar begitu percaya diri, tapi kita berdua tahu bahwa itu benar.
“Ya, aku masih
mencintaimu.” sahutku tanpa berbalik “Tapi aku tidak akan pernah kembali
padamu.”
Aku
melangkahkan kaki dengan tergesa-gesa sebelum berubah pikiran, tidak akan
kubiarkan hatiku yang masih berpihak padamu mempengaruhi langkahku dan
berbalik. Aku harus pergi, aku yakin kamu mengerti betapa sakitnya aku. Tapi
seperti biasa, yang selalu kita bicarakan hanya rasamu saja.
***
“Untuk Lanaya
yang cantik,” ucapmu saat itu.
Harusnya kamu
tahu bahwa secantik apapun setangkai mawar ia akan tetap berduri, hal itulah
yang juga terjadi padaku.
Hari ini adalah
tanggal yang sama dengan kali pertama kita bertemu. Pagi-pagi sekali aku sudah
bersiap menemuimu, kukenakan gaun terbaikku, kamu harus tetap melihatku sebagai
Lanaya yang cantik hingga akhir.
Setangkai mawar
dengan duri yang sudah dibersihkan kuambil dari atas meja, aku sengaja
mempersiapkannya untukmu hari ini. Sekali lagi aku tersenyum.
“Untuk Indra
yang selalu jumawa, aku memaafkanmu. Terimakasih karena telah melakukan syarat
ketiga dengan begitu sempurna.”
Kuletakkan
mawar itu di atas pusaramu yang belum kering. Kamu memang hebat, bahkan sebelum
mendengarnya, kamu sudah tahu syarat ketiga apa yang kuinginkan.
Aku berduri
Indra, tapi kuharap kamu mau menerima mawar tanpa duri yang kuberikan padamu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar