Kamis, 01 Mei 2014

Ketiga


*Judul oleh: Dyna Syarofa Ramadhani

“Aku punya tiga syarat,” ucapku padamu.
Kamu tersenyum lebar, “Hanya tiga? Padahal aku bisa mengabulkan sebanyak apapun.”
Seperti biasa kamu selalu jumawa, dan aku yang mendengar itu hanya tersenyum tipis.
“Syarat pertama, kamu harus meninggalkannya.”
Kamu mengerutkan kening “Sudah kubilang kami sudah berpisah.”
“Berarti kamu sudah melakukan syarat pertama.”
Aku mengalihkan pandangan pada rimbun mawar di hadapan kita. Dulu mawar-mawar itu tidak terurus. Semaknya menganggu penglihatan dan membuat orang-orang enggan berada di sekitarnya. Kecuali kita. Setiap kali datang ke tempat ini kamu selalu memetik satu untukku dan menyamakanku dengannya.
“Untuk Lanaya yang cantik, berduri dan berantakan.” ujarmu setiap kali.
Dan kuakui kamu benar, dulu aku memang seperti itu. Jeans belel, kaos usang dengan
jaket lusuh adalah pakaian yang selalu kamu lihat melekat di tubuhku. Mungkin karena itu kamu lebih memilih Lily, dulu.
***
“Ternyata aku mencintai Lily.”
Aku tidak terkejut dengan pernyataan itu. Lily yang cantik dan terawat memang jauh lebih pantas bersanding denganmu. Karena itu aku sadar harus segera melepaskanmu. Katamu aku berduri, kalimatku pedas dan melukai banyak hati. Tapi tahukah kamu? Sejak hari itu, kamulah duri yang menancap dalam hatiku.
Aku ingat dengan jelas bagaimana upayaku menahan rasa sakit saat harus melihatmu bersamanya. Kita berada di lingkungan yang sama, lingkungan yang aku perkenalkan padamu. Tapi kamu justru membuat lingkungan itu menjadi sesuatu yang enggan kudatangi lagi. Saat aku pergi kamu bahkan tidak bertanya apapun. Dan akhirnya aku benar-benar menjelma jadi mawar tak terurus di taman itu.
***
Kamu menyentuh tangan kiriku, membuatku menoleh.
“Syarat kedua?” tanyamu tidak sabar.
“Syarat kedua, kamu harus meminta maaf padaku.”
Lagi-lagi kamu terlihat heran “Bukankah itu adalah hal pertama yang kulakukan saat datang padamu?”
Aku mengangguk “Sekali lagi”
Kamu tersenyum dan beranjak menuju sekumpulan bunga mawar itu. Kamu petik salah satunya dan membiarkan tanganmu terluka seperti biasa.
“Untuk Lanaya,” ujarmu sambil berlutut dihadapanku “yang cantik.”
“Hanya cantik? Tidak berduri dan berantakan lagi?”
Kamu mengangguk, aku mengambil mawar dari tanganmu dan memperhatikannya dengan seksama. Ternyata aku memang sama seperti mawar ini, kini aku terurus dengan baik. Tapi kamu salah dalam satu hal, secantik apapun, mawar akan tetap berduri.
“Aku minta maaf atas kebodohanku meninggalkanmu” ujarmu lagi.
Aku memandang lurus ke arah matamu “Indra, aku tahu kamu datang bukan sekedar untuk meminta maaf.”
“Iya, aku ingin memintamu kembali. Kembalilah padaku Lanaya.”
Aku hendak mengangkat tanganku tapi kamu menahannya “Aku tahu” katamu mencegah “kelak jika kamu siap maka datanglah padaku. Aku tahu kamu masih mencintaiku.”
Kamu benar, aku masih mencintaimu. Dan rasanya kini aku ingin berlari menghampiri kekasihku dan mengembalikan cincin pertunangan yang sudah melingkar di jariku. Tapi jika aku melakukan itu maka aku tidak akan berbeda darimu.
Katamu aku berduri, aku berantakan dan tidak terurus. Tapi hari itu dengan raut wajah menyesal kamu datang dan mengatakan bahwa menggenggam setangkai Lily ternyata lebih menyakitkan. Katamu kamu terluka begitu parah dan yakin bahwa hanya aku yang bisa mengobati.
Ini sudah empat tahun dan rasanya masih sama. Saat kamu mengetuk pintu rumahku dan aku membukankannya untukmu. Jantung yang berlompatan, semu merah di pipiku, dan kembang senyum yang tidak bisa ditahan. Semua yang ada pada diriku seolah menyambut kedatanganmu. Seakan tidak pernah ada pernyataan bahwa kamu mencintai Lily, seakan tidak pernah ada perpisahan dan hati yang remuk redam. Hari itu kamu mengingatkanku pada pendar yang menyerang saat kita pertama kali bertemu dan aku jatuh cinta padamu. Dengan seluruh sisa kejujuran dalam diriku, kuakui, aku masih menginginkanmu.
***
“Aku sudah melakukan dua syarat,” katamu sambil tersenyum jumawa.
Aku mengangguk, berdiri dan bersiap pergi tapi kamu menahanku.
“Lalu apa syarat ketiga?” tanyamu lagi.
“Yang ketiga akan kuberitahu kalau aku sudah siap.”
Kamu setuju, dengan berat hati dan helaan nafas panjang kamu melepaskan tanganku. Aku bilang harus segera menemui kekasihku, aku tahu itu akan membuatmu kesal.
“Aku tahu kamu masih mencintaiku, kamu akan memutuskan pertunangan itu dan kembali padaku Lanaya.”
Kalimatmu terdengar begitu percaya diri, tapi kita berdua tahu bahwa itu benar.
“Ya, aku masih mencintaimu.” sahutku tanpa berbalik “Tapi aku tidak akan pernah kembali padamu.”
Aku melangkahkan kaki dengan tergesa-gesa sebelum berubah pikiran, tidak akan kubiarkan hatiku yang masih berpihak padamu mempengaruhi langkahku dan berbalik. Aku harus pergi, aku yakin kamu mengerti betapa sakitnya aku. Tapi seperti biasa, yang selalu kita bicarakan hanya rasamu saja.
***
“Untuk Lanaya yang cantik,” ucapmu saat itu.
Harusnya kamu tahu bahwa secantik apapun setangkai mawar ia akan tetap berduri, hal itulah yang juga terjadi padaku.
Hari ini adalah tanggal yang sama dengan kali pertama kita bertemu. Pagi-pagi sekali aku sudah bersiap menemuimu, kukenakan gaun terbaikku, kamu harus tetap melihatku sebagai Lanaya yang cantik hingga akhir.
Setangkai mawar dengan duri yang sudah dibersihkan kuambil dari atas meja, aku sengaja mempersiapkannya untukmu hari ini. Sekali lagi aku tersenyum.
“Untuk Indra yang selalu jumawa, aku memaafkanmu. Terimakasih karena telah melakukan syarat ketiga dengan begitu sempurna.”
Kuletakkan mawar itu di atas pusaramu yang belum kering. Kamu memang hebat, bahkan sebelum mendengarnya, kamu sudah tahu syarat ketiga apa yang kuinginkan.
Aku berduri Indra, tapi kuharap kamu mau menerima mawar tanpa duri yang kuberikan padamu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar