Seorang gadis 15 tahun sedang
duduk sendiri di sudut
kelas, Aliena Sasmitha. Ia seorang anak dari penipu ulung yang tak pernah ada
di rumah, selalu melarikan diri. Pagi hari sekolah, siang dan
malam ia bekerja. Ia merasa bahwa hidup bukanlah sesuatu yang bisa dibanggakan,
hidupnya hanya dipenuhi dengan luka yang tak bisa ia temukan obatnya. Saat ia
13 tahun, akhirnya sang ayah lari untuk selamanya. Terluka itu pasti, tapi
Aliena tak pernah jatuh dalam lukanya.
Saat ia ingin kembali kedunia
remaja, tempat di mana
ia seharusnya berada. Ternyata para manusia disekitarnya tak lagi punya
sedikitpun belas kasih untuk menerimanya. Aliena menjadi orang paling terasing
di kelas,
di sekolah,
bahkan di lingkungan keluarganya sendiri. Tapi ada seorang anak
laki-laki, yang mau mendengar kisahnya dan duduk di sampingnya. Anak laki-laki itu akhirnya menjadi satu-satunya
temannya. Dan suatu hari...
“Dewa,”
panggil Aliena pada seorang anak laki-laki yang duduk di kantin sekolah.
Anak
itu menoleh, “Apa?”
“Kamu
bisa bantu aku buat...”
“Nggak,”
potongnya “aku nggak bisa.”
“...”
Aliena
memandangi anak itu sesaat sebelum melanjutkan “Kamu kenapa?”
“Kenapa
apanya? Aku normal.”
“Tapi
kamu berubah.”
“Aku
cuman berusaha jadi orang normal, yang berteman dengan orang normal juga.”
“Maksud
kamu, aku ini nggak normal??”
“Kamu
aneh Ena, makanya semua orang menjauhi kamu. Dan aku juga harus.”
“Tapi
kenapa? Aku bukan orang aneh.”
Dewa
diam sejenak, melihat sekitarnya yang juga sedang memperhatikannya “Kamu
alien,” sahutnya kemudian.
“...”
Lalu
Dewa pergi dari tempat itu dan cibiran mulai terdengar, Aliena hanya diam saja.
“Mungkin aku memang seperti itu,” ujarnya pada diri sendiri.
***
Malam itu sedang berkabut,
Aliena duduk sendiri di teras
rumah kecilnya menunggu kabut hilang agar ia bisa melihat bulan. Tapi kabut tidak juga hilang, hingga saat ia melihat jam tangannya waktu
sudah menunjukan tepat tengah malam. Aliena baru saja berniat ingin kembali ke kamar, beristirahat dalam damainya rumah yang tak
berpenghuni itu. Tapi tiba-tiba sebuah benda besar berangsur-angsur turun
mendekatinya, seperti salah satu piring yang ada di dapur. Hanya lebih besar, jauh lebih besar. Benda itu
mendarat tepat di hadapannya,
lalu seorang makhluk yang entah apa keluar dari benda itu dan menghampirinya.
“Aliena
anakku...” ujar makhluk itu sembari mengulurkan tangan.
Aliena
tak menyahut, ia hanya diam mendengarkan setiap patah kata yang diucapkan
makhluk itu, bahwa ia adalah mereka. Alien.
“Ikutlah
dengan kami,” ajaknya kemudian “kita kembali ke rumah.”
“Tapi...
ini rumahku.”
“Bukan,
ini bukan rumahmu. Di sini
kamu hanya akan dicampakkan.”
“...”
Setelah
beberapa saat, Aliena masuk ke dalam
benda besar itu tanpa berpamitan pada siapapun. Lalu mereka pergi, bersama
Aliena di dalamnya.
50 tahun kemudian...
Alarm
peringatan bahaya berbunyi di setiap
rumah penduduk planet Ebe. Aliena ikut hadir dalam rapat dadakan yang diadakan
sang pemimpin, duduk di samping
ibu yang tak pernah mengacuhkannya selama 50 tahun terakhir.
“Planet
Aywa menyerang bumi,” ujar sang pemimpin “besok invasinya akan dilakukan.”
“Bumi?”
tanya Aliena terkejut “Tempat yang pernah aku tinggali dulu Ayah??”
“Iya
anakku. Sebenarnya ini tidak berhubungan dengan planet kita, tapi...”
“Bisakah
kita menghentikannya?” potong Aliena cepat “Kita lebih kuat bukan?”
“Tapi
Aliena, itu adalah...”
“Aku
mohon ayah. Bagaimanapun, itu pernah menjadi rumahku. Dan di sana ada...”
“Baiklah,”
potong sang ayah “lagipula jika bumi dihancurkan kita pasti akan terkena
dampaknya.”
Dan perlawanan dilakukan,
seluruh pasukan planet Ebe dikerahkan
sang pemimpin untuk memenuhi keinginan putri tunggalnya. Pertempuran sengit
terjadi, banyak pasukan yang gugur dari kedua belah pihak. Tapi karena planet
Ebe lebih tangguh, akhirnya planet Aywa kalah dan mundur untuk kembali ke tempat asalnya.
Bumi kembali tenang, seluruh
pepohonan telah dikembalikan dan kerusakan telah diperbaiki oleh para
masyarakat planet Ebe. Dan saat untuk pulang pun tiba, namun sang pemimpin
menyadari bahwa makhluk bumi memang tidak memiliki belas kasih. Jika mereka
pergi begitu saja, makhluk bumi pasti akan mencari mereka dan memusnahkan
peradaban mereka. Maka sang pemimpin memutuskan untuk memberikan serbuk
penghilang ingatan pada seluruh makhluk bumi saat mereka tengah terlelap tidur.
Seluruh penghuni Ebe berpencar dari satu rumah ke rumah yang lain di seluruh
bagian bumi. Termasuk Aliena.
Malam itu sangat cerah, bintang
bertaburan di angkasa yang gelap gulita. Seorang pria tua sedang duduk
membaca kertas-kertas yang berserakan di sekitarnya,
pria itu adalah salah satu ilmuwan bumi. Aliena menyelinap masuk dan menaburkan
serbuk penghilang ingatan pada seluruh penghuni rumah, hingga akhirnya ia harus
menaburkan serbuknya pada ilmuwan tua itu. Namun saat Aliena datang, ilmuwan itu
justru tersenyum hangat, menyambutnya.
“Hai
Ena...” bisiknya “Aku memang sudah menunggu kamu.”
“...”
“Pasti
kamu sudah lupa, itu karena kamu pergi terlalu lama.”
Aliena
masih diam memandangi pria tua itu “Kamu...”
“Aku
sudah mengenali kamu sejak kamu pertama kali datang untuk menolong kami,”
lanjutnya “kamu masih muda dan sama seperti dulu. Sama sekali tidak berubah.”
“Dewa?”
tanya Aliena terkejut.
“Iya,
aku Dewa. Anak bodoh yang mengatakan bahwa kamu...”
“Aku
memang seperti itu, jangan merasa bersalah.”
“Pulanglah,”
ujar pria tua itu lagi “kenapa selama ini kamu tidak pulang?”
“Justru
selama ini aku berada di rumah,”
sahut Aliena berbisik “planet Ebe.”
“Tapi
rumah kamu adalah bumi, di sini.”
“Bukan
Dewa, rumah adalah tempat di mana
aku tidak diasingkan. Dan itu adalah planet Ebe.”
“...”
Pria
itu menatap nanar Aliena “Maaf,” ujarnya lagi “Pulanglah...”
Aliena
menggeleng lalu tersenyum “Terlambat, aku sudah pergi terlalu jauh.”
Dan
ia pun menaburkan serbuknya, membuat sang ilmuwan tertidur dan melupakan tentang
semuanya. Lalu ia pergi menyusul para penghuni planet Ebe lain yang sudah
menunggunya di ambang pintu pesawat mereka.
“Selamat
tinggal Dewa,” ucapnya sebelum naik ke pesawat
“terimakasih karena pernah menjadi temanku. Satu-satunya temanku dari bumi.”
Semua baik-baik saja, Aliena
hidup dengan bahagia di planet
Ebe. Sedangkan Dewa juga hidup seperti biasa di bumi. Semua sudah menemukan rumahnya masing-masing. Dan
walaupun Dewa menua seiring waktu, lalu meninggal suatu saat nanti. Seorang
alien kesepian akan selalu mengingat namanya, bahkan setelah Dewa melupakannya.
Aliena Sasmitha, namanya sengaja berasal dari kata ‘alien’ agar ia selalu ingat
siapa dirinya yang sebenarnya. Dan ingat di mana ia seharusnya berada. Planet Ebe, yang jauh dari bumi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar