Kamis, 01 Mei 2014

The Lonely Alien


                Seorang gadis 15 tahun sedang duduk sendiri di sudut kelas, Aliena Sasmitha. Ia seorang anak dari penipu ulung yang tak pernah ada di rumah, selalu melarikan diri. Pagi hari sekolah, siang dan malam ia bekerja. Ia merasa bahwa hidup bukanlah sesuatu yang bisa dibanggakan, hidupnya hanya dipenuhi dengan luka yang tak bisa ia temukan obatnya. Saat ia 13 tahun, akhirnya sang ayah lari untuk selamanya. Terluka itu pasti, tapi Aliena tak pernah jatuh dalam lukanya.
                Saat ia ingin kembali kedunia remaja, tempat di mana ia seharusnya berada. Ternyata para manusia disekitarnya tak lagi punya sedikitpun belas kasih untuk menerimanya. Aliena menjadi orang paling terasing di kelas,
di sekolah, bahkan di lingkungan keluarganya sendiri. Tapi ada seorang anak laki-laki, yang mau mendengar kisahnya dan duduk di sampingnya. Anak laki-laki itu akhirnya menjadi satu-satunya temannya. Dan suatu hari...
“Dewa,” panggil Aliena pada seorang anak laki-laki yang duduk di kantin sekolah.
Anak itu menoleh, “Apa?”
“Kamu bisa bantu aku buat...”
“Nggak,” potongnya “aku nggak bisa.”
“...”
Aliena memandangi anak itu sesaat sebelum melanjutkan “Kamu kenapa?”
“Kenapa apanya? Aku normal.”
“Tapi kamu berubah.”
“Aku cuman berusaha jadi orang normal, yang berteman dengan orang normal juga.”
“Maksud kamu, aku ini nggak normal??”
“Kamu aneh Ena, makanya semua orang menjauhi kamu. Dan aku juga harus.”
“Tapi kenapa? Aku bukan orang aneh.”
Dewa diam sejenak, melihat sekitarnya yang juga sedang memperhatikannya “Kamu alien,” sahutnya kemudian.
“...”
Lalu Dewa pergi dari tempat itu dan cibiran mulai terdengar, Aliena hanya diam saja.
“Mungkin aku memang seperti itu,” ujarnya pada diri sendiri.
***
                Malam itu sedang berkabut, Aliena duduk sendiri di teras rumah kecilnya menunggu kabut hilang agar ia bisa melihat bulan. Tapi kabut tidak juga hilang, hingga saat ia melihat jam tangannya waktu sudah menunjukan tepat tengah malam. Aliena baru saja berniat ingin kembali ke kamar, beristirahat dalam damainya rumah yang tak berpenghuni itu. Tapi tiba-tiba sebuah benda besar berangsur-angsur turun mendekatinya, seperti salah satu piring yang ada di dapur. Hanya lebih besar, jauh lebih besar. Benda itu mendarat tepat di hadapannya, lalu seorang makhluk yang entah apa keluar dari benda itu dan menghampirinya.
“Aliena anakku...” ujar makhluk itu sembari mengulurkan tangan.
Aliena tak menyahut, ia hanya diam mendengarkan setiap patah kata yang diucapkan makhluk itu, bahwa ia adalah mereka. Alien.
“Ikutlah dengan kami,” ajaknya kemudian “kita kembali ke rumah.”
“Tapi... ini rumahku.”
“Bukan, ini bukan rumahmu. Di sini kamu hanya akan dicampakkan.”
“...”
Setelah beberapa saat, Aliena masuk ke dalam benda besar itu tanpa berpamitan pada siapapun. Lalu mereka pergi, bersama Aliena di dalamnya.

50 tahun kemudian...
                Alarm peringatan bahaya berbunyi di setiap rumah penduduk planet Ebe. Aliena ikut hadir dalam rapat dadakan yang diadakan sang pemimpin, duduk di samping ibu yang tak pernah mengacuhkannya selama 50 tahun terakhir.
“Planet Aywa menyerang bumi,” ujar sang pemimpin “besok invasinya akan dilakukan.”
“Bumi?” tanya Aliena terkejut “Tempat yang pernah aku tinggali dulu Ayah??”
“Iya anakku. Sebenarnya ini tidak berhubungan dengan planet kita, tapi...”
“Bisakah kita menghentikannya?” potong Aliena cepat “Kita lebih kuat bukan?”
“Tapi Aliena, itu adalah...”
“Aku mohon ayah. Bagaimanapun, itu pernah menjadi rumahku. Dan di sana ada...”
“Baiklah,” potong sang ayah “lagipula jika bumi dihancurkan kita pasti akan terkena dampaknya.”
                Dan perlawanan dilakukan, seluruh pasukan planet Ebe dikerahkan sang pemimpin untuk memenuhi keinginan putri tunggalnya. Pertempuran sengit terjadi, banyak pasukan yang gugur dari kedua belah pihak. Tapi karena planet Ebe lebih tangguh, akhirnya planet Aywa kalah dan mundur untuk kembali ke tempat asalnya.
                Bumi kembali tenang, seluruh pepohonan telah dikembalikan dan kerusakan telah diperbaiki oleh para masyarakat planet Ebe. Dan saat untuk pulang pun tiba, namun sang pemimpin menyadari bahwa makhluk bumi memang tidak memiliki belas kasih. Jika mereka pergi begitu saja, makhluk bumi pasti akan mencari mereka dan memusnahkan peradaban mereka. Maka sang pemimpin memutuskan untuk memberikan serbuk penghilang ingatan pada seluruh makhluk bumi saat mereka tengah terlelap tidur. Seluruh penghuni Ebe berpencar dari satu rumah ke rumah yang lain di seluruh bagian bumi. Termasuk Aliena.
                Malam itu sangat cerah, bintang bertaburan di angkasa yang gelap gulita. Seorang pria tua sedang duduk membaca kertas-kertas yang berserakan di sekitarnya, pria itu adalah salah satu ilmuwan bumi. Aliena menyelinap masuk dan menaburkan serbuk penghilang ingatan pada seluruh penghuni rumah, hingga akhirnya ia harus menaburkan serbuknya pada ilmuwan tua itu. Namun saat Aliena datang, ilmuwan itu justru tersenyum hangat, menyambutnya.
“Hai Ena...” bisiknya “Aku memang sudah menunggu kamu.”
“...”
“Pasti kamu sudah lupa, itu karena kamu pergi terlalu lama.”
Aliena masih diam memandangi pria tua itu “Kamu...”
“Aku sudah mengenali kamu sejak kamu pertama kali datang untuk menolong kami,” lanjutnya “kamu masih muda dan sama seperti dulu. Sama sekali tidak berubah.”
“Dewa?” tanya Aliena terkejut.
“Iya, aku Dewa. Anak bodoh yang mengatakan bahwa kamu...”
“Aku memang seperti itu, jangan merasa bersalah.”
“Pulanglah,” ujar pria tua itu lagi “kenapa selama ini kamu tidak pulang?”
“Justru selama ini aku berada di rumah,” sahut Aliena berbisik “planet Ebe.”
“Tapi rumah kamu adalah bumi, di sini.”
“Bukan Dewa, rumah adalah tempat di mana aku tidak diasingkan. Dan itu adalah planet Ebe.”
“...”
Pria itu menatap nanar Aliena “Maaf,” ujarnya lagi “Pulanglah...”
Aliena menggeleng lalu tersenyum “Terlambat, aku sudah pergi terlalu jauh.”
Dan ia pun menaburkan serbuknya, membuat sang ilmuwan tertidur dan melupakan tentang semuanya. Lalu ia pergi menyusul para penghuni planet Ebe lain yang sudah menunggunya di ambang pintu pesawat mereka.
“Selamat tinggal Dewa,” ucapnya sebelum naik ke pesawat “terimakasih karena pernah menjadi temanku. Satu-satunya temanku dari bumi.”
                Semua baik-baik saja, Aliena hidup dengan bahagia di planet Ebe. Sedangkan Dewa juga hidup seperti biasa di bumi. Semua sudah menemukan rumahnya masing-masing. Dan walaupun Dewa menua seiring waktu, lalu meninggal suatu saat nanti. Seorang alien kesepian akan selalu mengingat namanya, bahkan setelah Dewa melupakannya. Aliena Sasmitha, namanya sengaja berasal dari kata ‘alien’ agar ia selalu ingat siapa dirinya yang sebenarnya. Dan ingat di mana ia seharusnya berada. Planet Ebe, yang jauh dari bumi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar