Tampilkan postingan dengan label TulisanKecil. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label TulisanKecil. Tampilkan semua postingan

Jumat, 27 Maret 2015

Maret Berat

     Bulan Maret hampir selesai, berganti. Akan ada banyak cerita baru di April nanti, The Avenger, contohnya. Setelah menghabiskan banyak waktu untuk duduk dan nonton film-film bagus yang rilis bulan ini, Maret juga banyak membawa cerita, yang ga semuanya bisa dibilang bagus, malah bisa dibilang ini Maret yang berat untuk sebagian besar orang, dengan cara dan kejadian masing-masing.
     Buat gue, Maret diawali dengan berita

Kamis, 26 Februari 2015

Menjelang 19th Birthday



Bertahun yang lalu gue pernah nonton sebuah film yang luar biasa, salah satu film luar biasa yang pernah gue tonton. Film itu –yang gue lupa judulnya apa, berkisah tentang dua cewe yang sudah bersahabat sejak jaman sekolah. Yang satu kutu buku dan satunya lagi modis. Cewe modis mendapatkan hampir seluruh cowo yang dia atau yang sahabatnya suka, dan dia luar biasa bahagia karena selalu menang. Sampai akhirnya ada seorang cowo super pinter

Senin, 02 Februari 2015

A little crazy thing called 'curhat'.

      It's a new year. Setelah sekian lama berpikir akan menulis apa -walaupun ga banyak yang baca juga- akhirnya kini memutuskan menulis tentang yang ada saja. Baru lewat 39 menit dari hari ulang tahun Mamah yang ke empat puluh, si emak minta hadiah puisi pula, semacam anaknya ini penyair. Jadi harus bergadang demi permintaan kecil itu malam ini.
      Ditemani acara Late Night Show, suara kipas angin dan teman sekamar yang sedikit mendengkur -sedikit- inilah

Senin, 18 Agustus 2014

Ulang Tahun

     Namaku Indonesia, enam puluh sembilan tahun lalu aku lahir setelah proses persalinan yang panjang dan melelahkan. Sangat banyak tangan yang membidaniku, sebut saja Soekarno dan Hatta sebagai dua bidan yang mengetuainya.
     Dan kini setelah enam puluh sembilan tahun, setiap hari ke tujuh belas di bulan ke delapan, setiap insan akan merayakan hari kelahiranku. Bendera akan terpasang di depan rumah, merah dan putih. Dan tradisi yang tidak akan terlupakan, perlombaan.
     Aku gembira mereka menyambutku, tentu saja, tapi seperti biasa kegembiraan itu akan hilang seketika saat mereka berteriak dengan lantang;
Hidup Endonesia!
Aku jadi berpikir, apakah mereka benar-benar merayakan ulangtahunku? Kenapa setelah enam puluh sembilan tahun, mereka masih tidak bisa menyebut namaku dengan benar?

*latepost. At Cabe Merah, SCP, Samarinda-Kaltim

Senin, 11 Agustus 2014

Manusia

      Manusia, makhluk Tuhan yang diciptakan dengan dua mata, dua telinga, dua tangan, dua kaki. Menurut studi, manusia dan simpanse memiliki 99% kesamaan DNA. Sedangkan antara manusia satu dengan manusia lain yang merupakan keturunannya memiliki kesamaan DNA 99,9%. Jadi hanya ada selisih 1% untuk membedakan manusia dengan simpanse dan 0,1% untuk membedakan keturunan satu manusia dengan keturunan manusia yang lainnya. Itu bisa dianggap sebagai angka kecil atau angka besar, tergantung dari sudut pandang.
      Manusia terlihat lebih, justru karena dia kurang.
Hari ini, 11 Agustus 2014, siaran langsung acara Hitam Putih di TransTv memperkenalkan seorang anak yang berhasil masul FK UGM, kelebihannya? Anak itu hanya anak dari seorang buruh kayu. Setiap tahun FK UGM pasti menerima puluhan mahasiswa, yang membuat anak lelaki itu menarik sampai masuk siaran televisi karena dia kurang -kaya- dari mahasiswa kedokteran yang lainnya. Ada lagi seorang wisudawati yang tiba-tiba jadi pembicaraan karena dia meraih IPK 3,96. Kelebihannya? Karena dia anak seorang tukang becak.
      Semua tergantung dari sudut pandang. Saat memandang kekurangan seseorang, maka keberhasilan yang biasa terjadi akan terlihat luar biasa dan kamu akan merasa lebih beruntung karena mungkin hidupmu lebih mudah. Tapi saat melihat kelebihan seseorang, bahkan keberhasilan luar biasanya akan ditanggapi dengan kalimat "wajar saja, dia kan...", lalu kamu akan merasa kecil dan tidak mampu.
      Angka 1, selisih antara DNA simpanse dan manusia terlihat sebagai angka yang sangat kecil karena kita mengenal bilangan yang tidak terbatas. Juga bisa terlihat sebagai angka besar jika kita memandang kepada 0 dan bilangan negatif.
      Ini tentang sudut pandang. Jadi, jangan biarkan dirimu ciut karena kamu hanya memandang kelebihan orang lain. Setiap orang kurang, setiap orang juga lebih.

Minggu, 27 Juli 2014

Dear R, #2

Dear R,
Merdu takbir untuk mengantar kepergianmu telah diperdengarkan. Kamu resmi pergi, meninggalkan kami seperti yang selalu terjadi.
R, letup kembang api yang terdengar dari kamar sempitku, juga hiruk pikuk teriakan anak kecil yang lewat di depan jalan menandakan bahwa kami telah rela. Untuk sebelas bulan ke depan, kami akan mempersiapkan diri agar bisa menyambutmu dengan lebih baik.
Tidak ada yang sia-sia, waktu senduku bersamamu akan kutandai sebagai salah satu halaman dalam buku kehidupanku. Agar kelak saat kita bertemu lagi, bisa kuingat setiap kata yang aku rangkai malam ini, bersamaan dengan bibir yang ikut mengucap syukur.
Selamat jalan R, sampai bertemu lagi, Insyaallah...

Mel

Sabtu, 26 Juli 2014

Dear R,

Dear R,
Kau dengar? Kini langit bertalu-talu, menangis tidak rela atas tenggat waktu kepergianmu. Aku meringkuk dalam sepi yang tanpa aksara, menengadahkan tangan, berharap kita akan dipertemukan lagi. Dan kita sama-sama tahu bahwa hanya ada satu zat maha kuasa yang berhak menentukan itu.
R, aku tak cukup baik bukan? Aku masih lengah dan tidak menemanimu dengan setia. Tiga puluh hari kebersamaan kita hanya kujadikan waktu-waktu sendu untuk mengeluh dan merasa takut. Tapi R, jika kita berkesempatan untuk berjumpa lagi, aku ingin lebih baik, aku ingin lebih banyak menghabiskan malam bersamamu dalam sunyi yang penuh syukur. Terlebih lagi, kuharap aku sudah bisa membanggakan diri dan berkisah padamu tentang pencapaianku selama kita berpisah.
Aku akan mengirim surat lagi saat malam perpisahan kita datang, aku harap kita bisa saling melepaskan dalam takbir yang merdu. Aku akan merindukanmu R, as always.

Salam,
Mel

Kamis, 01 Mei 2014

Siapa bilang?


“Siapa bilang cinta ada karena terbiasa? Buktinya aku yang tidak percaya cinta justru jatuh hati pada tatap mata pertama. Hanya satu tatap mata dan jantungku hampir melompat keluar.
Bertahun kemudian saat aku temukan kembali tatap mata itu, aku masih jatuh hati. Masih berbunga-bunga, masih meledak. Euphoria yang aku rasakan ternyata bukan sekedar euphoria. Andai kau tahu. Tapi andai hanya tinggal andai. Kini aku sadar bahwa kau tidak pernah sekalipun menghargai tatap mata pertama kita.
Siapa bilang cinta ada karena terbiasa? Buktinya, setelah biasa bersama aku justru hilang rasa.”

Sadar?


“Aku tahu ini hanya euphoria sesaat, kelak akan berakhir seperti apa yang selalu terjadi. Dan aku tahu bahwa getar yang kirimkan di tengah sunyi jalanku bukan tanah subur yang akan mampu menumbuhkan pohon rasa.
Tapi pada titik ini, entah kenapa aku ingin jumawa. Aku ingin euphoria kita menjadi letupan api yang menyala di langit, dan biarkan guncang akibat turbulensi hati menjadi sesuatu yang tidak kita takuti.
Sayangnya aku terbangun semalam dan melihat sekitar. Aku menyadari betapa tebal awan yang menyelimuti hatimu. Benteng yang kau bangun begitu kuat dan bisa aku tumbangkan. Akhirnya aku sadar, bukan bingar yang membuat kita tidak saling mendengar, tapi rasa yang sudah kau lempar ke perapian.”