“Namanya Sebastian Paxton, agak sedikit pikun. Kau harus
memastikan dia tidak keluar rumah atau dia akan tersesat.”
Aku mengangguk, mengalihkan pandangan pada pria yang duduk di
kursi roda. Bulan depan usianya genap sembilan puluh lima tahun. Rambutnya yang
ikal sepanjang telinga sudah berubah dari coklat menjadi putih, matanya yang
biru tidak berhenti memandangi rimbun mawar merah yang tumbuh dengan terawat di
halaman. Itulah kali pertama aku bertemu dengannya.
“Mr. Paxton,” panggilku pelan.
Ia menoleh, tersenyum lebar lalu memutar kursi rodanya dan
membuat
kami saling berhadapan.
“Apakah kau Aldo?” tanyanya sambil menunjuk dengan jari yang gemetar.
Aku mengangguk “Saya akan menjadi perawat Anda sejak hari ini Mr.
Paxton.”
“Panggil aku Sebastian,”
Keningku berkerut, ia terkekeh melihat ekspresiku dan menyuruhku
menunduk dengan lambaian tangan.
“Kau ingin mendengar cerita?” tanyanya “Tapi ini akan jadi sebuah
cerita yang panjang.”
***
Aku memotong setangkai mawar dari halaman dan meletakkannya di
vas, mengantarkannya ke kamar Mr. Paxton sebelum ia terbangun. Cuaca hari ini
cerah, aku melihat arlojiku dan berharap Mr. Paxton tidak terbangun sebelum
sarapan siap. Seperti yang sudah-sudah.
“Good morning Aldo,”
“Good morning Mr.
Paxton.”
Harapanku tidak terkabul, ia memanggilku duduk di tepi ranjang dan
mulai mengambil kacamatanya dari atas meja, tangannya yang sering gemetaran
membuka halaman buku catatan usang yang selalu ia bawa dalam saku.
“Sampai mana kisahku kemarin?”
Aku mengingat-ngingat, aku tidak terlalu memperhatikan ceritanya.
Dihari pertama ia berkisah bahwa ia adalah seorang tentara pada masa perang
dunia II, ia membela Prancis dengan seluruh jiwa dan raga.
Dengan senyum lebar ia juga berkisah bahwa ia bertemu dengan seorang gadis dari Roma dan mereka
menikah saat musim panas. Sayangnya ia harus melewatkan kelahiran putra
pertamanya, istrinya yang cantik, Rossa, harus melahirkan seorang diri. Bayi
laki-laki yang sehat itu bernama Andrew, ia bermata biru, sama seperti Ayahnya
dan gemar menendang. Mr. Paxton berharap ia akan menjadi pemain sepak bola
suatu hari nanti.
Dihari kedua ia menceritakan cerita yang sama, hanya saja
menambahkan bahwa Rossa sangat menyukai mawar merah dan karena itulah ia
menanamnya di depan rumah lalu menyuruhku memotong setangkai setiap harinya
untuk di letakkan di dalam kamar. Ia selalu ingin melihat bunga kesayangan
Rossa saat pertama kali membuka mata.
Aku ingat hari itu sudah tiga minggu berlalu sejak hari pertama
kami berkenalan, ia selalu menyuruhku memanggilnya dengan nama Sebastian tapi
tidak pernah kulakukan. Ia juga bertanya apakah aku memiliki istri dan aku
ingat saat ia terbahak karena aku mengatakan belum.
“Kau harus segera memilikinya, sama
seperti aku memiliki Rossa.” ucapnya hari itu.
“Ah, aku ingat sekarang,” Mr. Paxton mengangkat jari telunjuk dan
membuka halaman buku catatannya “Aku berkisah sampai pada saat Rossa
melahirkan.”
Aku menghela nafas, cerita
yang sama lagi hari ini?
“Saat itu musim panas di Paris,” ujarnya mulai berkisah, aku
berusaha menyimak kali ini “aku lagi-lagi tidak bisa mendampingi Rossa
melahirkan anak kedua kami.”
Oh, akhirnya, cerita yang berbeda.
Aku tersenyum tipis.
“Aku dipanggil bertugas untuk suatu misi penting. Andrew sudah berusia lima tahun, ia pasti
duduk di samping Ibunya dan ikut menunggu kelahiran adiknya. Tapi aku tidak
tahu kalau hari itu aku akan berpisah dengan Rossa. Ia bahkan membawa Andrew
dan bayi perempuan kami yang baru lahir.”
Ia menghentikan kalimatnya, matanya berkaca-kaca. Aku menyentuh
tangan kanannya dan menganggukkan kepala, meyakinkannya bahwa semua baik-baik
saja. Ia hanya tersenyum.
“Aku baik-baik saja,” katanya.
“Lalu di mana Rossa sekarang Mr. Paxton?”
Ia tidak langsung menjawab, diambilnya vas berisi mawar yang aku
letakkan di atas meja di samping ranjang dan mencium aromanya.
“Home,” jawabnya sambil
tersenyum.
***
Tidak pernah sekalipun aku bertanya tentang Rossa walaupun aku
mulai penasaran, hari itu aku mengerti bahwa cinta tanpa memandang kondisi
memang benar ada. Sebastian Paxton masih mencintai istrinya yang cantik, Rossa.
Aku menyesal karena tidak menyimak ceritanya selama ini, aku telah
kehilangan banyak kesempatan untuk mendengar sebuah kisah cinta yang luar
biasa. Sejak hari itu kuputuskan aku akan mendengarkan dengan baik.
Dihari selanjutnya aku masih membawakan setangkai bunga ke dalam
kamarnya dengan vas yang sama. Aku baru saja meletakkannya di atas meja saat
melihat secarik kertas dengan tulisan tangan Mr. Paxton ada di sana.
‘Dear Rossa,
I’m fine Baby, how are you?
Another summer day has come and gone away in Paris and Rome. I’m surrounded by a million people, but I still feel all alone. Let me go home. I’m just too far from where you are.
I wanna come home.
I miss you, you know.’
I’m fine Baby, how are you?
Another summer day has come and gone away in Paris and Rome. I’m surrounded by a million people, but I still feel all alone. Let me go home. I’m just too far from where you are.
I wanna come home.
I miss you, you know.’
Aku menoleh pada Mr. Paxton yang baru terbangun.
“Apakah Saya harus mengirimkan ini?” tanyaku, aku baru sadar
beberapa saat setelahnya bahwa itu adalah tindakan yang sedikit lancang.
“No,” jawabnya “it’s just not enough. My word were cold and
flat, Rossa deserve more than that.”
Harusnya aku menyadarinya, harusnya aku mencari tahu di mana Rossa
berada hingga Mr. Paxton begitu ingin datang. Itu adalah tempat yang damai,
katanya, Rossa dan kedua anak mereka sangat bahagia ada di sana dan ia tidak
sabar untuk datang.
“Lalu kenapa Anda tidak datang?” tanyaku suatu hari.
“Aku belum mendapat undangan.”
Mr. Paxton selalu menjawab pertanyaanku dengan senyuman, dan malam
itupun aku melihatnya tersenyum.
Tepat tengah malam saat aku masuk ke dalam kamar Mr. Paxton dengan
satu buket bunga mawar yang kuambil dari halaman. Mr. Paxton sedang tertidur
pulas dan buku catatan itu ada di atas dadanya. Ia tersenyum, kupikir itu
karena ia menyadari wangi bunga yang datang dan merasa senang.
Tapi keesokkan harinya saat aku kembali masuk ke dalam kamar untuk
mengantarkan sarapan, Mr. Paxton masih belum bangun. Ini kali pertama setelah
satu bulan. Saat itulah aku sadar. Mr. Paxton sudah mendapat undangan tadi
malam, karena itulah ia tersenyum.
***
Semua orang berkumpul untuk menemuinya. Aku duduk di teras sambil
tersenyum pada siapa saja yang datang, buku catatan Mr. Paxton ada di tangan
kananku.
Philip, anak laki-laki berusia tujuh tahun yang tinggal di rumah
sebelah datang bersama orangtuanya tapi tidak ikut masuk ke dalam. Ia berdiri
di sebelahku, tersenyum lebar sambil merapikan jas hitamnya.
“Aldo, di mana Mr. Paxton?” tanyanya.
Aku tersenyum “Home,”
jawabku singkat “Philip, apa kau ingin mendengar sebuah cerita?”
***
Tahun 1940, Jerman menyerang Prancis.
Istriku yang cantik, Rossa, bersama kedua anak kami, Andrew dan Tara-nama yang
ingin kuberikan, ikut pergi bersama desing peluru dan ledakan.
It all be alright, I’ll be home
tonight. Rossa, I’m coming back home.
Aku menutup buku catatan Mr. Paxton, meletakkan tangan di atas
kepala Philip yang kuyakin tidak menyimak apa yang baru saja kubacakan. Aku
tersenyum kecil sebelum ia berbalik karena mendengar panggilan Ibunya di ambang
pintu.
“Happy birthday,
Sebastian.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar