“Aku tahu ini hanya euphoria sesaat, kelak
akan berakhir seperti apa yang selalu terjadi. Dan aku tahu bahwa getar yang
kirimkan di tengah sunyi jalanku bukan tanah subur yang akan mampu menumbuhkan
pohon rasa.
Tapi pada titik ini, entah kenapa aku ingin jumawa.
Aku ingin euphoria kita menjadi letupan api yang menyala di langit, dan biarkan
guncang akibat turbulensi hati menjadi sesuatu yang tidak kita takuti.
Sayangnya aku terbangun semalam dan melihat
sekitar. Aku menyadari betapa tebal awan yang menyelimuti hatimu. Benteng yang
kau bangun begitu kuat dan bisa aku tumbangkan. Akhirnya aku sadar, bukan
bingar yang membuat kita tidak saling mendengar, tapi rasa yang sudah kau
lempar ke perapian.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar