Rabu, 11 Juni 2014

Pemuja Hening #1

Catatan harian seorang gadis bisu tuli,

 Prolog


Hari ini sedang mendung. Dapat kulihat gumpalan awan hitam menggantung di langit yang sedang berduka. Sesekali kilat akan muncul selayak teman yang datang tanpa diundang. Dan jika saat ini kau sedang membaca goresan pena yang aku tuangkan diatas kertas, maka pasti kau adalah
orang yang telah Tuhan kirimkan untuk kisahku yang hilang arah.
Aku akan mengajakmu melihat duniaku yang gelap, tanpa pencahayaan Tuhan. Martabatku sebagai seorang manusia dan wanita sedang berada diambang batas kehancuran. Kau akan melihat bagaimana aku mengalami hari-hari yang buruk dan menyebalkan sebagai seorang pemuja hening. Akan kuperkenalkan setiap orang yang pernah datang dan pergi dalam hidupku, juga akan kukisahkan tentang sahabat sejati yang mendampingiku sejak aku pertama kali terlahir di dunia.
Kau mungkin akan meneteskan air mata di salah satu lembaranku, lalu tersenyum saat membaca lembaran yang lainnya. Sama sepertiku yang menangis dan tersenyum saat menuliskannya untukmu. Karena kisahku bukan tentang padang ilalang dengan semilir angin dan kupu-kupu kecil, bukan tentang taman penuh bunga yang teduh dan indah. Tapi ini tentang apa yang sedang aku dan kau jalani, ini tentang hidup.
Namun sebelum perjalanan kita dimulai, engkau haruslah tahu siapa aku. Aku dibuang oleh orang tuaku diantah berantah, dan seorang pria tua bernama Tamam memungutku. Ia merawatku hingga akhirnya Tuhan memanggilnya beberapa waktu yang lalu dalam kesakitan yang takkan bisa dibayangkan siapapun. Aku melihatnya meregang nyawa dan membelalakkan mata saat roh itu benar-benar dirampas dari tubuh ringkihnya.
Aku diberi nama Rhima. Seorang gadis bisu tuli. Karena itulah kusebut diriku sebagai sang pemuja hening.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar