Prolog
Hari ini sedang mendung. Dapat kulihat gumpalan awan
hitam menggantung di langit yang sedang berduka. Sesekali kilat akan muncul
selayak teman yang datang tanpa diundang. Dan jika saat ini kau sedang membaca
goresan pena yang aku tuangkan diatas kertas, maka pasti kau adalah
orang yang
telah Tuhan kirimkan untuk kisahku yang hilang arah.
Aku akan mengajakmu melihat duniaku yang gelap, tanpa
pencahayaan Tuhan. Martabatku sebagai seorang manusia dan wanita sedang berada
diambang batas kehancuran. Kau akan melihat bagaimana aku mengalami hari-hari
yang buruk dan menyebalkan sebagai seorang pemuja hening. Akan kuperkenalkan
setiap orang yang pernah datang dan pergi dalam hidupku, juga akan kukisahkan
tentang sahabat sejati yang mendampingiku sejak aku pertama kali terlahir di
dunia.
Kau mungkin akan meneteskan air mata di salah satu
lembaranku, lalu tersenyum saat membaca lembaran yang lainnya. Sama sepertiku
yang menangis dan tersenyum saat menuliskannya untukmu. Karena kisahku bukan
tentang padang ilalang dengan semilir angin dan kupu-kupu kecil, bukan tentang taman
penuh bunga yang teduh dan indah. Tapi ini tentang apa yang sedang aku dan kau
jalani, ini tentang hidup.
Namun sebelum perjalanan kita dimulai, engkau haruslah
tahu siapa aku. Aku dibuang oleh orang tuaku diantah berantah, dan seorang pria
tua bernama Tamam memungutku. Ia merawatku hingga akhirnya Tuhan memanggilnya
beberapa waktu yang lalu dalam kesakitan yang takkan bisa dibayangkan siapapun.
Aku melihatnya meregang nyawa dan membelalakkan mata saat roh itu benar-benar
dirampas dari tubuh ringkihnya.
Aku diberi nama Rhima. Seorang gadis bisu tuli. Karena
itulah kusebut diriku sebagai sang pemuja hening.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar