Rabu, 10 Desember 2014

Hallo



Aku sudah memegang gagang telepon, jemariku mengetuk-ngetuk meja sembari berpikir. Haruskah aku menekan nomormu dan mendengar suaramu? Setidaknya sekali lagi, sebelum matahari terbenam dan aku mengukuhkan diri untuk melupakanmu.
“Naya,”
Aku menoleh, tersenyum pada Ibu yang sedang berdiri di tangga dan memperhatikanku dengan wajah khawatir.
“Jangan,” katanya memperingatkan.
Aku mengangguk, peringatan itu juga sudah kukatakan pada diriku sejak berhari-hari yang lalu. Tapi kau tahu bukan? Aku banyak mengalami turbulensi akhir-akhir ini, dan itu membuatku tidak bisa percaya pada diriku sendiri.
Setelah Ibu berlalu ke arah dapur aku mengalihkan pandangan ke luar jendela,
memperhatikan keponakanku bermain di halaman bersama sepupuku yang baru datang dari luar kota. Jantungku berdebar kencang, aku hampir meledak dan kita sama-sama tahu apa penyebab dari semua ini.
***
Tidakkah aneh menurutmu? Ini sudah dua belas tahun dan aku masih seperti gadis kecil lugu yang tidak bisa melepaskan diri darimu. Besok aku akan menikah, dengan seorang pria luar biasa yang bersedia menangani keegoisanku. Bukankah itu hal yang luar biasa? Gadis yang dulu selalu mengukuhkan diri sebagai pembenci cinta akhirnya tunduk. Aku mencintai pria itu, dengan seluruh hati yang kumiliki. Dan mungkin seharusnya alasan itu cukup untuk membuatku kembali ke kamar dan mengubur keinginan untuk meneleponmu. Kau akan jadi bencana, kita tahu itu.
“Masih bingung?”
Seseorang menepuk pundakku, aku refleks berbalik dan menemukan kakak perempuanku berdiri sambil mengelus perutnya yang sedang mengandung lima bulan. Aku mengangguk, menggigit bibir bawahku untuk menyembunyikan getar.
“Aku bisa melaluinya,” dia mulai menasihati “kau juga akan bisa.”
“Aku tahu.”
Ya, aku tahu. Aku bisa melalui ini seperti ia melaluinya dulu. Tapi aku dan dia berbeda. Aku tidak sekuat dia. Dan kau tahu pasti bagaimana diriku.
“Tutup teleponnya.”
Mataku mendelik, meletakkan perlahan gagang telepon yang sedari tadi kupegangi erat-erat. Benar, mungkin itulah yang harus kulakukan.
“Memberitahunya adalah bencana, dia pasti akan punya kepercayaan diri untuk datang.”
Aku mengangguk, aku sudah tahu itu dan engkau juga pasti mengetahuinya. Aku penasaran apakah kini kau sedang menunggu telepon dariku. Atau mungkin kau sudah terlalu sadar diri dan tidak berharap lagi. Apa pun itu, kau tahu kita tidak bisa begitu saja memutuskan hubungan.
Aku ingat saat kekasihku menanyakan tentangmu, wajahnya tampak penasaran saat menunggu jawabanku sementara aku begitu gelisah. Bagaimana jika ia tahu? Bagaimana jika ia menjauhiku setelah tahu? Aku ketakutan. Hingga akhirnya aku berbohong dan menutupi sedalam apa hubungan kita. Aku merasa bersalah hingga tidak bisa tidur semalaman, tapi kata Ibu itu bukan kesalahanku. Itu salahmu. Hah, bahkan sampai akhir kau akan tetap jadi yang terdakwa.
Bagaimana sebenarnya kisah kita berakhir? Aku tidak bisa mengingatnya dengan jelas. Yang kutahu adalah di suatu hari aku menemukan diriku seorang diri dan hanya ditinggali kabar bahwa kau telah pergi. Aku tidak menangis saat itu. Aku terlalu tangguh untuk meneteskan air mata. Lagi pula kau bukanlah sesuatu yang perlu aku tangisi berlarut-larut, kau hanya seorang pengecut yang melarikan diri dariku. Tapi seiring waktu, aku terus berpikir, apakah aku yang telah membuatmu pergi?
Selama dua belas tahun ini aku selalu penasaran bagaimana kabarmu. Seorang penipu yang melarikan diri, apakah kau masih bisa hidup dengan baik setelah itu? Ah, aku tidak perlu bertanya. Aku mengenalmu dengan sangat baik dan aku tahu bahwa kau akan bertahan seolah tidak ada yang terjadi. Bahkan mungkin kau sudah melupakanku, lalu kenapa aku tidak bisa melakukan yang sebaliknya?
Aku merebahkan diri di ranjang dan mencoba memejamkan mata. Menerawang jauh, memikirkan kekasihku dan hari besar kami besok. Aku tersenyum di altar saat ia mengucapkan janji pernikahan. Tapi secara tiba-tiba senyumku menghilang. Kau tampak berjalan dengan wajah tertunduk, mendekati kami. Dan aku tidak bisa menahan hatiku yang nakal untuk berlari menghambur ke arahmu. Kekasihku keheranan, Ibu menangis sejadinya karena kecewa dan marah di saat yang sama. Dan kita, yang masih berpelukan seolah sepasang kekasih yang baru bertemu, mengindahkan semua itu dan larut dalam reuni kita.
Hah! Aku tersentak bangun dan hampir terloncat dari tempat tidur. Aku menoleh pada telepon di atas meja di samping ranjang. Berpikir untuk meneleponmu dan memberitahumu tentang pernikahanku tapi memintamu untuk tidak menampakkan diri. Kau pasti tahu apa alasanku. Aku malu, karena aku dan dirimu adalah dua insan yang memiliki hubungan paling dalam di dunia ini. Aku malu, karena setelah yang kau lakukan padaku, aku masih merindumu seperti orang gila. Terlebih lagi, aku malu jika kekasihku tahu kalau aku telah berbohong tentangmu.
Aku mengangkat gagang telepon, bersiap menekan nomormu. Bibirku terus menggumamkan kalimat yang harus aku sampaikan dengan cepat sebelum bergegas menutup telepon. Ya, aku akan melakukannya. Aku bisa. Ketukan terdengar di pintu, aku yakin itu adalah Ibu yang sudah bisa membaca pikiranku.
“Naya! Jangan!” satu peringatan lagi terdengar dari balik pintu.
Aku menarik napas panjang, tangan gemetarku menekan nomor teleponmu yang sudah kuhapal di luar kepala.
“Hallo,” suara beratmu terdengar di ujung telepon, aku memegangi dadaku, berharap jantungku tidak melompat keluar. “Hallo? Naya?” kau masih ingat namaku, aku tersenyum.
“Besok aku menikah,” kataku pelan “tapi kau tidak boleh datang.”
“Tapi, Naya ....”
“Aku hanya ingin memberitahumu itu, Ayah.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar