Aku sudah memegang gagang telepon, jemariku
mengetuk-ngetuk meja sembari berpikir. Haruskah aku menekan nomormu dan
mendengar suaramu? Setidaknya sekali lagi, sebelum matahari terbenam dan aku
mengukuhkan diri untuk melupakanmu.
“Naya,”
Aku menoleh, tersenyum pada Ibu yang sedang berdiri
di tangga dan memperhatikanku dengan wajah khawatir.
“Jangan,” katanya memperingatkan.
Aku mengangguk, peringatan itu juga sudah kukatakan
pada diriku sejak berhari-hari yang lalu. Tapi kau tahu bukan? Aku banyak
mengalami turbulensi akhir-akhir ini, dan itu membuatku tidak bisa percaya pada
diriku sendiri.
Setelah Ibu berlalu ke arah dapur aku mengalihkan
pandangan ke luar jendela,
memperhatikan keponakanku bermain di halaman bersama
sepupuku yang baru datang dari luar kota. Jantungku berdebar kencang, aku
hampir meledak dan kita sama-sama tahu apa penyebab dari semua ini.
***
Tidakkah aneh menurutmu? Ini sudah dua belas tahun
dan aku masih seperti gadis kecil lugu yang tidak bisa melepaskan diri darimu.
Besok aku akan menikah, dengan seorang pria luar biasa yang bersedia menangani
keegoisanku. Bukankah itu hal yang luar biasa? Gadis yang dulu selalu
mengukuhkan diri sebagai pembenci cinta akhirnya tunduk. Aku mencintai pria
itu, dengan seluruh hati yang kumiliki. Dan mungkin seharusnya alasan itu cukup
untuk membuatku kembali ke kamar dan mengubur keinginan untuk meneleponmu. Kau
akan jadi bencana, kita tahu itu.
“Masih bingung?”
Seseorang menepuk pundakku, aku refleks berbalik dan
menemukan kakak perempuanku berdiri sambil mengelus perutnya yang sedang mengandung
lima bulan. Aku mengangguk, menggigit bibir bawahku untuk menyembunyikan getar.
“Aku bisa melaluinya,” dia mulai menasihati “kau
juga akan bisa.”
“Aku tahu.”
Ya, aku tahu. Aku bisa melalui ini seperti ia
melaluinya dulu. Tapi aku dan dia berbeda. Aku tidak sekuat dia. Dan kau tahu
pasti bagaimana diriku.
“Tutup teleponnya.”
Mataku mendelik, meletakkan perlahan gagang telepon
yang sedari tadi kupegangi erat-erat. Benar, mungkin itulah yang harus kulakukan.
“Memberitahunya adalah bencana, dia pasti akan punya
kepercayaan diri untuk datang.”
Aku mengangguk, aku sudah tahu itu dan engkau juga
pasti mengetahuinya. Aku penasaran apakah kini kau sedang menunggu telepon
dariku. Atau mungkin kau sudah terlalu sadar diri dan tidak berharap lagi. Apa
pun itu, kau tahu kita tidak bisa begitu saja memutuskan hubungan.
Aku ingat saat kekasihku menanyakan tentangmu,
wajahnya tampak penasaran saat menunggu jawabanku sementara aku begitu gelisah.
Bagaimana jika ia tahu? Bagaimana jika ia menjauhiku setelah tahu? Aku
ketakutan. Hingga akhirnya aku berbohong dan menutupi sedalam apa hubungan
kita. Aku merasa bersalah hingga tidak bisa tidur semalaman, tapi kata Ibu itu
bukan kesalahanku. Itu salahmu. Hah, bahkan sampai akhir kau akan tetap jadi
yang terdakwa.
Bagaimana sebenarnya kisah kita berakhir? Aku tidak
bisa mengingatnya dengan jelas. Yang kutahu adalah di suatu hari aku menemukan
diriku seorang diri dan hanya ditinggali kabar bahwa kau telah pergi. Aku tidak
menangis saat itu. Aku terlalu tangguh untuk meneteskan air mata. Lagi pula kau
bukanlah sesuatu yang perlu aku tangisi berlarut-larut, kau hanya seorang
pengecut yang melarikan diri dariku. Tapi seiring waktu, aku terus berpikir,
apakah aku yang telah membuatmu pergi?
Selama dua belas tahun ini aku selalu penasaran
bagaimana kabarmu. Seorang penipu yang melarikan diri, apakah kau masih bisa
hidup dengan baik setelah itu? Ah, aku tidak perlu bertanya. Aku mengenalmu
dengan sangat baik dan aku tahu bahwa kau akan bertahan seolah tidak ada yang
terjadi. Bahkan mungkin kau sudah melupakanku, lalu kenapa aku tidak bisa
melakukan yang sebaliknya?
Aku merebahkan diri di ranjang dan mencoba
memejamkan mata. Menerawang jauh, memikirkan kekasihku dan hari besar kami
besok. Aku tersenyum di altar saat ia mengucapkan janji pernikahan. Tapi secara
tiba-tiba senyumku menghilang. Kau tampak berjalan dengan wajah tertunduk,
mendekati kami. Dan aku tidak bisa menahan hatiku yang nakal untuk berlari
menghambur ke arahmu. Kekasihku keheranan, Ibu menangis sejadinya karena kecewa
dan marah di saat yang sama. Dan kita, yang masih berpelukan seolah sepasang
kekasih yang baru bertemu, mengindahkan semua itu dan larut dalam reuni kita.
Hah! Aku tersentak bangun dan hampir terloncat dari
tempat tidur. Aku menoleh pada telepon di atas meja di samping ranjang.
Berpikir untuk meneleponmu dan memberitahumu tentang pernikahanku tapi
memintamu untuk tidak menampakkan diri. Kau pasti tahu apa alasanku. Aku malu,
karena aku dan dirimu adalah dua insan yang memiliki hubungan paling dalam di
dunia ini. Aku malu, karena setelah yang kau lakukan padaku, aku masih
merindumu seperti orang gila. Terlebih lagi, aku malu jika kekasihku tahu kalau
aku telah berbohong tentangmu.
Aku mengangkat gagang telepon, bersiap menekan
nomormu. Bibirku terus menggumamkan kalimat yang harus aku sampaikan dengan
cepat sebelum bergegas menutup telepon. Ya, aku akan melakukannya. Aku bisa.
Ketukan terdengar di pintu, aku yakin itu adalah Ibu yang sudah bisa membaca
pikiranku.
“Naya! Jangan!” satu peringatan lagi terdengar dari
balik pintu.
Aku menarik napas panjang, tangan gemetarku menekan nomor
teleponmu yang sudah kuhapal di luar kepala.
“Hallo,” suara beratmu terdengar di ujung telepon, aku
memegangi dadaku, berharap jantungku tidak melompat keluar. “Hallo? Naya?” kau masih ingat namaku,
aku tersenyum.
“Besok aku menikah,” kataku pelan “tapi kau tidak
boleh datang.”
“Tapi, Naya
....”
“Aku hanya ingin memberitahumu itu, Ayah.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar