Minggu, 23 Februari 2014

#18~Nomor Satu



#18/Sang Pendongeng~Atas nama mimpi

“Kalau kamu punya mimpi, kamu harus buat daftar mimpi-mimpi itu dan menulisnya di kertas lalu letakan di dinding atau di mana pun yang bisa kamu lihat.”
Aku ingat nasihatmu yang satu itu, karenanya aku menulis setiap mimpiku di kertas dan menempelkannya di jurnal kesayanganku. Saat melihat daftar itu, tidak sedikit orang yang akan mengatakan aku pemimpi tidak tahu diri. Tapi kamu dan mata hijaumu pernah mengatakan bahwa bermimpi itu gratis. Mimpi kecil gratis dan mimpi besar juga gratis, lalu kenapa tidak sekalian memimpikan yang paling besar saja? Ah, kamu memang sahabat terbaikku.
Suatu hari saat melihat daftar mimpiku, kamu terkejut setengah mati. Di secarik kertas yang aku tempelkan di halaman pertama jurnalku tertera 20 mimpi yang ingin kuwujudkan.
“Sebanyak ini?” tanyamu.
Aku mengangguk “Semua mimpi ini gratis kan?”
Kamu tersenyum dan menutup kembali jurnalku. Dengan gemas kamu mengacak-acak rambutku yang tergerai.
“Iya, gratis. Bermimpilah yang banyak, 20 mimpi ini masih sedikit.”
“Tapi sebenarnya mimpiku ada 21.”
“Benarkah?” kamu mengerutkan kening “Di daftar ini cuma ada 20.”
“Itu mimpi nomor 2 sampai nomor 21.”
“Lalu yang nomor satu?”
“Nomor satu?”
Kamu mengangguk, raut wajah penasaranmu membuatku ingin tertawa.
“Itu mimpiku yang paling besar,” sahutku lagi “jadi kuletakkan di tempat yang jauh lebih mudah kulihat daripada jurnal.”
“Jadi itu rahasia? Aku juga tidak boleh tahu?”
“Iya, nanti aku beritahu kalau mimpi itu sudah jadi kenyataan.”
Kamu setuju dan tidak menuntut lagi. Mengalihkan pandangan pada halaman sekolah yang dipenuhi manusia. Katamu mengamati kegiatan manusia itu menyenangkan, karenanya aku selalu ikut duduk di kursi kayu panjang ini bersamamu. Kita akan membahas banyak hal, terutama tentang akan jadi apa kita setelah fase seragam putih biru ini berakhir.
“Daftar mimpimu mana?” tanyaku saat teringat.
Kamu menoleh “Aku nggak punya daftar, karena aku cuma punya satu mimpi.”
“Cuma satu?” aku bertanya dengan nada tidak percaya, bagaimana mungkin orang yang mengajariku membuat daftar mimpi justru tidak punya daftar.
“Iya, aku cuma punya satu.”
“Kamu mencatatnya?”
“Ya, aku meletakkannya di cermin.”
Tawaku langsung meledak saat mendengarnya. Jadi tempat yang mudah kamu lihat adalah cermin, itu artinya kamu pasti gemar bercermin.
“Boleh aku lihat?” aku bertanya lagi setelah puas tertawa.
“Boleh, kalau kamu beritahu aku mimpi nomor satumu, aku juga akan memberitahumu.”
Ah, kenapa harus sebuah pertukaran? Mimpi nomor satuku adalah mimpi yang paling rahasia. Aku bahkan tidak menulisnya di kertas karena aku bisa menemukannya dengan mudah. Bahkan saat ini mimpi nomor satu itu ada di hadapanku, memandangi lalu lintas manusia yang katanya tidak terdefinisi. Jika kubagikan rahasiaku, aku tidak tahu akan seperti apa reaksimu. Tidak bisa kubayangkan kata apa yang akan keluar dari mulutmu jika kamu tahu bahwa mimpi nomor satuku adalah kamu, Reksa Anggara.
“Apa?” kamu menagihnya “Apa mimpi nomor satumu?”
Aku tidak menyahut, kuputuskan bahwa aku belum siap untuk membagikannya. Jadi kita membuat sebuah perjanjian bahwa jika suatu hari aku siap maka kamu juga akan siap. Aku tidak sabar menanti hari dimana kita akan saling berbagi rahasia tentang mimpi besar kita satu sama lain. Namun sayang hari itu tidak pernah datang.
***
21 Januari, hari itu juga di tanggal yang sama. Hari dimana kita membuat janji sudah berlalu sepuluh tahun yang lalu. Aku sudah siap sekarang, kamu harus tahu mimpi nomor satuku hari ini Reksa. Harus.
Sembari berjalan tergesa untuk menemukanmu di antara kerumunan orang dengan setelan jas dan gaun, aku terus memikirkan waktu yang kita habiskan selama sepuluh tahun ini. Aku ingat saat aku meraih mimpi nomor duaku, kita sudah lepas dari seragam putih biru dan berlanjut ke fase berikutnya. Dalam balutan seragam putih abu-abu, akhirnya aku bisa tampil dalam pementasan teater yang amat kuinginkan. Kita berjingkrak bersama untuk merayakannya, kamu menemaniku menghafal dialog demi dialog dan juga menggenggam tangan kananku saat mencoret mimpi itu dari daftar.
“Satu mimpi terwujud, selamat Emma.” Kamu mengacak-acak rambutku, memperlakukanku seperti adik kecil, lalu bagaimana bisa kukatakan padamu tentang mimpi nomor satuku.
Waktu berlalu dan kita tetap bersama. Satu per satu mimpiku terwujud dan kamu selalu menemaniku untuk merayakannya. Kita semakin dewasa tapi mimpi nomor satuku tidak pernah berubah. Reksa Anggara, terpatri jelas dalam benakku.
Kebersamaan kita yang nyaris sempurna juga tidak lepas dari pertengkaran. Suatu hari kamu menuduhku berubah, aku terlalu sibuk mengejar mimpi dan menjadi ambisius. Aku berusaha menjelaskan padamu bahwa keadaan yang sudah berubah, orang-orang yang dulu menjulukiku pemimpi kini harus menunduk malu saat melihat mimpi-mimpiku yang terwujud. Mereka harus mengakui kehebatanku. Aku harap kamu mengerti bahwa aku tidak pernah berubah, mimpi nomor satuku tetap kamu.
Nyatanya kamu tidak benar-benar mengerti, kita mulai berjarak dan itu membuatku sakit. Tapi kupikir kamu tidak perlu melihatnya karena itu akan membuatmu jumawa, karenanya aku berpura-pura tidak peduli.
***
Hari itu dalam keadaan setengah mabuk aku mengetuk pintu rumahmu. Matamu membelalak saat membuka pintu, kamu terkejut karena aku berbau alkohol. Aku tidak peduli, aku bilang aku hanya mencicipi sedikit. Kamu terburu-buru membawaku ke dalam rumah dan mendudukkanku di sofa, mengambilkanku segelas air hangat lalu duduk di sampingku, mengusap peluhku dengan tissue. Wajahmu tampak khawatir, kamu pernah bilang bahwa mungkin aku sudah berjalan terlalu jauh. Dan komentarku saat itu hanya setengah hati. Aku artis besar, hidup seperti ini adalah bagian dari adaptasiku. Tapi malam ini aku benar-benar hanya mencicipi sedikit, aku hanya perlu kamu menganggapku mabuk agar aku bisa mengatakannya padamu.
“Aku mencintaimu,” ujarku sambil menyandarkan kepala.
“Istirahatlah, kamu bisa tidur di kamar, aku akan tidur di sofa.”
Kamu ingin beranjak pergi tapi aku menahanmu, kugenggam tangan kirimu dengan erat.
“Aku mencintaimu Reksa.”
Aku yakin kamu mendengarnya dengan cukup jelas, jadi saat pintu rumahmu yang terbuka lebar tiba-tiba dipenuhi wartawan aku tidak merasa perlu mengatakannya lagi di depan mereka. Aku seorang selebriti muda dengan citra baik, aku tidak ingin mereka menemukanku di rumah seorang pria dalam keadaan setengah mabuk dan tidak punya pembelaan sama sekali. Aku melepaskan tanganmu dengan cepat, membuatmu terkejut dan memandangku tidak percaya. Tapi kamu sahabatku, kamu mimpi nomor satuku, kamu pasti akan mengerti dengan keputusanku untuk melindungi mimpi-mimpiku yang lain. Kupikir seperti itu tapi ternyata tidak. Hari itu adalah terakhir kalinya aku bisa bersamamu sebagai sahabat. Kamu membuat jarak, aku nyaris kehilanganmu dan tiba-tiba hari ini datang. Hari dimana aku akan mengatakan padamu tentang mimpi nomor satuku.
***
Kamu mengenakan tuxedo putih, begitu serasi dengan gaun putihku. Kita tampak sempurna untuk hari istimewa ini. Harusnya aku tidak boleh menemuimu sebelum kamu berjalan ke altar, tapi aku tidak sabar, karena mungkin saja saat itu sudah terlambat bagiku.
“Reksa Anggara” ujarku dengan suara bergetar.
Kamu mengerutkan kening “Ya? Kenapa kamu memanggil namaku seperti itu?”
“Itu bukan sebuah panggilan, itu mimpi nomor satuku. Kamu, Reksa Anggara, mimpi nomor satuku.”
Senyummu mengembang, kamu terlihat senang dan aku bersyukur sekaligus ingin menangis. Mimpi nomor satuku, aku menginginkanmu. Kupererat genggaman tanganku dan membuat kertas coklat itu rusak.
“Benarkah?” tanyamu sambil jalan mendekat “Berarti sekarang aku harus memberitahumu mimpiku yang satu-satunya.”
Oh, aku baru ingat. Kita pernah membuat perjanjian. Bodohnya aku yang hanya selalu memikirkan kapan waktu yang tepat untuk memberitahumu tentang mimpiku tanpa pernah penasaran dengan mimpimu. Mungkinkah kamu ingin menjadi fotografer seperti kegemaranmu dulu atau menjadi pengusaha muda seperti yang kamu jalani saat ini.
“Apa?” tanyaku, memandang lurus kearah matamu.
“Sudah kubilang kalau aku meletakkannya di cermin, kamu harus melihatnya sendiri. Kamu menggandeng tangan kananku dan menuntunku menghadap sebuah cermin besar. Kamu tersenyum lalu menoleh padaku.
“Kamu lihat? Itu mimpiku.”
Di cermin itu tidak ada secarik kertas pun yang menempel, tidak ada tulisan. Hanya ada kita yang saling bergandengan tangan. Aku refleks menoleh padamu dengan mata berkaca-kaca.
“Iya,” katamu “satu-satunya mimpiku adalah kamu Emma.”
Aku tidak tahan lagi, aku menangis sejadi-jadinya. Kertas coklat yang sedari tadi kugenggam terjatuh ke lantai. Kertas coklat yang bertuliskan namamu sebagai mempelai dan namaku sebagai tamu undangan itu adalah bukti kekalahanku. Aku sudah berjanji untuk tidak merusak acaramu, aku hanya ingin kamu mendengar mimpi nomor satuku. Tapi bukankah selama ini aku telah menjadi mimpi satu-satunya untukmu, jadi tidak bisakah aku mendapatkanmu?
“Kembalilah Reksa,” ucapku lirih dengan penuh harapan “beri aku kesempatan.”
“Terimakasih karena telah menjadikanku mimpi nomor satumu,” sahutmu sambil menarik tubuhku kedalam pelukan “tapi kamu harus tahu kalau aku tidak pernah meninggalkanmu. Aku disini Emma, kamu dari mana saja?”
Mungkin kamu benar Reksa, akulah yang selama ini pergi. Aku berjalan terlalu jauh sampai aku tidak menemukan jalan untuk kembali padamu.
“Sebenarnya aku sudah tahu,” katamu lagi “seiring waktu aku bisa menyadarinya. Dan aku juga menyadari bahwa menjadi salah satu mimpi di antara puluhan mimpi seorang pemimpi sepertimu hanya akan membuatku jadi mimpi yang tidak perlu kamu wujudkan.”
“Kamu salah, kamu mimpi nomor satuku, aku menginginkanmu lebih dari apapun.”
“Aku harap kamu mengerti Emma, bahwa pengertianku sudah terkuras habis. Tapi kamu hebat, kamu mewujudkan 20 mimpi di dalam daftar itu. Lihatlah aku yang tidak bisa mewujudkan satu-satunya mimpiku.”
Ya, kamu benar, aku hebat. Walaupun isak tangis ini membuatku tampak payah, tapi aku tetap hebat.
Masih pagi saat aku menangis sepuasnya, lalu mengangkat wajah dan menyaksikan Reksa mengucapkan janji suci di altar. Mimpi nomor satuku, Reksa Anggara, akhirnya resmi menjadi mimpi yang hanya sekedar mimpi. Selama ini aku selalu memintamu mengerti dengan keputusanku, dan ini saatnya bagiku untuk memberikan pengertian itu padamu.
“Aku mengerti Reksa, berbahagialah”