Kamis, 26 Februari 2015

Menjelang 19th Birthday



Bertahun yang lalu gue pernah nonton sebuah film yang luar biasa, salah satu film luar biasa yang pernah gue tonton. Film itu –yang gue lupa judulnya apa, berkisah tentang dua cewe yang sudah bersahabat sejak jaman sekolah. Yang satu kutu buku dan satunya lagi modis. Cewe modis mendapatkan hampir seluruh cowo yang dia atau yang sahabatnya suka, dan dia luar biasa bahagia karena selalu menang. Sampai akhirnya ada seorang cowo super pinter

Senin, 02 Februari 2015

A little crazy thing called 'curhat'.

      It's a new year. Setelah sekian lama berpikir akan menulis apa -walaupun ga banyak yang baca juga- akhirnya kini memutuskan menulis tentang yang ada saja. Baru lewat 39 menit dari hari ulang tahun Mamah yang ke empat puluh, si emak minta hadiah puisi pula, semacam anaknya ini penyair. Jadi harus bergadang demi permintaan kecil itu malam ini.
      Ditemani acara Late Night Show, suara kipas angin dan teman sekamar yang sedikit mendengkur -sedikit- inilah

Selasa, 16 Desember 2014

Surat Kabar



“Koran, koran, koran.”
Suara seorang anak laki-laki yang usianya mungkin belum genap sepuluh tahun terdengar olehku, deru mesin kendaraan yang menyala sedang mengantre tidak sabar menunggu merah menjadi hijau. Tapi teriakan anak laki-laki itu tetap berhasil menyita perhatian.
Dari kaca spion aku bisa melihat beberapa orang membuka kaca mobilnya dan membeli apa yang ia tawarkan. Tiba giliran dia mengetuk kaca mobilku, aku jengkel, mengalihkan pandangan dan

Rabu, 10 Desember 2014

Hallo



Aku sudah memegang gagang telepon, jemariku mengetuk-ngetuk meja sembari berpikir. Haruskah aku menekan nomormu dan mendengar suaramu? Setidaknya sekali lagi, sebelum matahari terbenam dan aku mengukuhkan diri untuk melupakanmu.
“Naya,”
Aku menoleh, tersenyum pada Ibu yang sedang berdiri di tangga dan memperhatikanku dengan wajah khawatir.
“Jangan,” katanya memperingatkan.
Aku mengangguk, peringatan itu juga sudah kukatakan pada diriku sejak berhari-hari yang lalu. Tapi kau tahu bukan? Aku banyak mengalami turbulensi akhir-akhir ini, dan itu membuatku tidak bisa percaya pada diriku sendiri.
Setelah Ibu berlalu ke arah dapur aku mengalihkan pandangan ke luar jendela,

Jumat, 24 Oktober 2014

Sudah Saling Tahu


Senandungnya masih terdengar, aku menoleh dan tersenyum tipis padanya yang sedang asyik merapikan buku-buku yang berserakan di lantai. Sepersekian menit yang lalu dia masih berjalan santai melewati koridor yang di sisi-sisinya dipenuhi rak-rak buku, lalu tiba-tiba saja karena terlalu bereuforia, dia tidak sengaja menabrak sebuah rak dan menimbulkan kegaduhan di perpustakaan.
Seorang penjaga wanita yang usianya sudah menjelang empat puluh tahun

Jumat, 19 September 2014

Monster - BigBang



“Tidak! Lepaskan aku!”
Aku berusaha meronta dalam pelukannya yang terasa mencekik, memar merah terpatri di pergelangan tanganku, air mataku tidak bisa berhenti mengalir jatuh mengiringi kutukan yang kuucapkan pada diriku yang ciut.
Ini sudah berlangsung cukup lama, bahkan terlalu lama hingga aku tidak bisa mengingat titik awalnya. Aku dan dia seperti sebuah lukisan yang berantakan, paduan warna yang kacau, goresan kuas yang tidak masuk akal, tapi bersembunyi di balik kedok abstrak. Ya, kami lukisan yang abstrak, yang tidak mudah dimengerti, kecuali olehku dan dia sendiri.
Katanya cinta bisa membutakan, jadi mungkin itulah sebabnya dia tidak bisa melihat rasa sakit di mataku saat dia memasukanku ke dalam kamar lembab itu dan mengikatku di sana. Seorang perempuan

Selasa, 09 September 2014

Winter #spoiler-1

     Sudah masuk bulan Juni, Adelaide diserang musim dingin. Tapi Villant Paxton dan Frilisa Roseline Bernard justru sedang bersembunyi di balik kotak-kotak kayu, saling menggenggam tangan mereka yang gemetar dan berkeringat saat harus menyaksikan Joseph Brown duduk dengan tangan terikat.
     Seorang pemuda jangkung bermata biru menyiapkan FN 57 dan membidik kening pria itu. Tubuh Lisa berguncang, Ayahnya muncul dari balik tangga dan tersenyum pada Sang Target. Sepersekian detik kemudian pelatuk ditarik dan jantung Joseph berhenti berdetak.
     Villant menoleh, kerah kemejanya ditarik oleh seorang pria bertubuh besar yang langsung mendorongnya ke tengah ruangan. Sementara itu Lisa memberontak dalam cengkeraman pemuda bermata biru yang berusaha menariknya menaiki tangga. Mata Villant terarah padanya, meyakinkannya kalau semua akan baik-baik saja. Tapi dia tidak percaya. Mayat Joseph dipindahkan dan Villant dipaksa duduk di kursi yang sama.