Bertahun yang lalu gue pernah nonton sebuah film
yang luar biasa, salah satu film luar biasa yang pernah gue tonton. Film itu –yang
gue lupa judulnya apa, berkisah tentang dua cewe yang sudah bersahabat sejak
jaman sekolah. Yang satu kutu buku dan satunya lagi modis. Cewe modis
mendapatkan hampir seluruh cowo yang dia atau yang sahabatnya suka, dan dia
luar biasa bahagia karena selalu menang. Sampai akhirnya ada seorang cowo super
pinter
yang disuka sama cewe kutu buku, dengan egoisnya cewe modis pun
mengambil cowo itu dari sahabatnya. Si kutu buku pasrah, dia mundur perlahan,
menonton kebahagiaan si modis yang akhirnya menikah dengan cowo itu.
Berpuluh-puluh tahun kemudian mereka ketemu lagi,
cewe modis itu sudah penuh keriput sementara cewe kutu buku justru cantik ga
ketulungan. Cewe kutu buku menggoda suami si modis untuk balas dendam, membuat
si modis juga mendendam sama dia dan cari tahu apa rahasia awet mudanya. Ternyata
semua itu kecantikan itu diperoleh si kutu buku dari komunitas ilmu hitam,
mereka meminum sejenis ramuan yang akan bisa membuat mereka muda selamanya,
plus hidup selamanya pula.
Tanpa pikir panjang si modis mengikuti jejak itu,
dia pun jadi abadi. Saat ia dan sahabatnya, si kutu buku, berusaha saling
bunuh, nggak ada yang mati di antara mereka. Akhirnya mereka sepakat untuk
bersahabat lagi, dan memanfaatkan si cowo pintar- yang masih jadi suami si
modis, untuk merasat tubuh mereka. Karena walau bagaimana pun tubuh yang sudah
mati akan membusuk dan perlu banyak polesan supaya terlihat kayak orang hidup. Lama
kelamaan mereka sadar kalau si cowo suatu saat bakal mati dan mereka kehilangan
penjaga, karena itu mereka memaksa si cowo untuk minum ramuan seperti mereka.
Si cowo menolak, dia nggak mau hidup abadi dan
menyalahi takdir Tuhan. Dia lari dan hidup dengan caranya sendiri. Berpuluh tahun
kemudian lagi, kedua sahabat itu menghadiri pemakaman si cowo yang sudah
menjadi salah satu orang yang disegani karena kebaikannya. Dan kalimat yang
paling diingat orang-orang dari cowo itu adalah; hidupnya dimulai saat berusia
lima puluh tahun –saat ia berhasil lari dari pencekokan ramuan oleh dua sahabat
itu.
Film ini secara tiba-tiba terputar ulang di benak
gue beberapa saat yang lalu, menemani gue yang sedang menyambut usia sembilan
belas tahun. Yap! Besok gue ulang tahun. Sembilan tahun sudah gue hidup di
sebuah planet yang namanya bumi, tumbuh dan berkembang, menangis dan tertawa,
mengeluh dan bersyukur. Oh, Tuhan, gue beranjak tua. Dan tetiba gue
bertanya-tanya, apa yang sudah gue lakukan selama ini? Selain sibuk menyiapkan
diri jadi traveler dan bermimpi jadi penulis, rata-rata yang gue lakukan adalah
buang-buang waktu, buang-buang tenaga dan buang-buang duit.
Tapi gapapa, gue akan buat perubahan di usia ke
sembilan belas ini. Toh ga ada sesuatu yang benar dari awal tanpa kesalahan
sedikit pun, kan? Gue mau berubah, dan semoga ini bukan cuman wacana.
Perubahan pertama adalah gue mau keluar dari FKIP,
mau ngulang kuliah lagi dari awal di tempat yang –seenggaknya, gue minati dan
bisa gue handle dengan senang hati. Jurusan yang ada di kepala gue saat ini
adalah Administrasi Bisnis. Gagasan ini didasari kesadaran kalau gue adalah
orang yang ga bisa diatur, selalu mau mencoba hal baru dan berasa eneg sama
yang namanya perintah. Jadi gue mau jadi entrepreneur aja dah.
Perubahan selanjutnya, gue akan ... berusaha sekuat
tenaga buat sedikit, sedikit aja, mengurangi ambisi gue buat jadi penulis. Sama
seperti anggapan gue selama ini; gue ga bakal mati kalo ga punya itu, atau yang
itu, atau yang ono. Jadi gue juga ga bakal mati kalau ga jadi penulis, walaupun
itu berat, banget.
Perubahan ketiga, dan terbesar menurut gue, adalah
keberanian buat membuka pintu. Gue mengibaratkan diri gue kayak sebuah rumah
dengan pagar tinggi, halaman tidak terawat, dan pintu yang tertutup rapat. Ga ada
yang berani bertamu, ga ada yang berani membunyikan bel. Sementara itu gue
sembunyi di dalam, mengintip keluar dari celah kerai yang tertutup, memperhatikan
lalu lalang jalanan dan berharap salah satunya bisa jadi tamu gue. Gue orang
yang krisis kepercayaan, dan gue harap di usia ke sembilan belas ini gue bisa
punya stock percaya yang lebih banyak.
Gue menulis ini diiringi lagu I’ll Stand By You,
dinyanyikan oleh salah satu pemain Glee –Cory Monteith. Seiring lagu yang
berakhir, tulisan ini juga berakhir. Di hari terakhir usia delapan belas yang
ga bakal kembali ini, gue mau bilang sama diri gue; good job, you’re great.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar