Minggu, 18 Oktober 2015

MALAIKAT DALAM JARAK TIGA METER

Long time no see~
Anyway something bad happened. Laptop lama ga bisa nyala dan hasilnya semua data menghilang. My treasure, cerpen, puisi, novel, bablas. Untungnya beberapa di antaranya pernah dikirim lewat email dan jadilah masih bisa dikais walaupun sedikit. Ini salah satunya, pernah ikut kompetisi menulis -entah dimana- dan gagal lolos.


MALAIKAT DALAM JARAK TIGA METER


           Setiap kali matahari lelah menari menghibur manusia, ia akan memutuskan untuk kembali ke tempat persembunyiannya. Tugasnya akan digantikan sang bulan yang mengaku lebih indah walau sebenarnya mencuri cahaya dari para bintang. Pergantian tugas itu dinamakan petang, dan hari ini aku juga mengalami sebuah petang.
            Seorang pria duduk di kursi kayu
putih panjang, bolak-balik menatap keluar jendela dan layar ponselnya sendiri. Aku melihat kegelisahan, ketidaksabaran, juga rasa jengah menunggu.
         Aku yang duduk satu garis lurus dengannya, memperhatikan setiap detil wajah gelisah itu dalam jarak tiga meter. Lalu lalang manusia seakan tidak kentara, aku fokus pada sesosok bayang yang matanya menantang pergantian matahari dan bulan.
         Rasa penasaranku hampir membeludak, aku ingin menghampirinya dan bertanya apa yang sedang ia tunggu. Aku ingin tahu apakah ia tidak lelah karena duduk berjam-jam di tempat yang sama tanpa bergerak sedikitpun. Aku penasaran apakah ia tidak merasa sesak melihat manusia yang silih berganti menemaninya duduk di kursi kayu panjang itu. Aku ingin, tapi tidak kulakukan.
           Matahari benar-benar hampir menghilang saat ponselnya berbunyi, nada dering lucu terdengar, tapi ia tergesa mengangkat panggilan dengan wajah khawatir. Aku menungu reaksinya.
        Aku pikir ia akan beranjak pergi dari kursi itu segera setelah panggilannya selesai, aku pikirsudah saatnya ia menemui apa yang telah ia tunggu. Tapi penantiannya belum berakhir, ia justru menundukan kepala dan aku mendengar isak. Aku semakin ingin tahu, tapi aku tidak kunjung mempersempit jarak tiga meter kami.
           Ponselku berdering dan aku mengangkat panggilan, sepersekian detik setelahnya aku langsung berdiri dan meninggalkan garis lurus yang terbentuk dari sudut pandangku dengannya.
          Aku menyusuri lorong-lorong rumah sakit, tersenyum kecil pada seorang pria yang duduk di depan ruang bersalin. Untuk pertama kalinya aku hadir dalam sebuah perayaan besar kelahiran manusia ke muka bumi. Kakak perempuanku yang dua jam lalu masih mengeluh dan membuatku bosan menunggu kini pasti menarik nafas lega setelah mendengar lengkingtangis putra sulungnya.
          Sambil tersenyum aku jadi ingat pria itu, yang duduk di lobi sambil melihat keluar jendela dengan tatapan kosong. Ternyata penantianku lebih dulu berakhir daripadanya, aku bertaruh ia masih duduk di tempat yang sama.
     Tapi ketikaaku kembali, dia tidak ada. Aku menemukan kursi kayu kosong. Beberapasaatsetelahnya aku sedikit menyesal karena terlambat,aku kehilangan kesempatan untuk tahu apa yang sedari tadi ia tunggu. Aku melewatkan perayaannya saat menemui ujung penantian.
       Dengan sedikit kecewa aku berbalik, ingin kembali melewati lorong panjang yang mengantarkanku pada ruang bersalin, tempat yang baru saja menyaksikan kelahiran seorang insan.
            Langkahku terhenti bahkan sebelum dimulai, aku menolehkesebelahkiri dan melihat pria itu. Dia tidak sendiri.Di sampingnya ada seorang wanita tua yang menangis, sesekali aku melihatnya menyentuh pundak sang wanita sambil menahan nafas berat. Aku semakin penasaran.
           Tanpa sadar langkahku jalan mendekat,rasa penasaran menuntunku untuk mencari tahu apa yang telah menghalangi udara masuk ke dalam paru-parunya.
            Aku menyentuh pundaknya, membuatnya refleks berbalik dan memandangiku heran dengan mata memerah.
            “Ada apa?” tanyanya, suaranya parau, ia menahan tangis.
          Aku menggeleng cepat sambil tersenyum, “Aku pikir kau orang yang kukenal,” sahutku berbohong.
             Ia memaklumiku, tersenyum tipis dan kembali pada urusannya. Aku ingin sekali bertanya apa yang sebenarnya ia tunggu, kenapa setelah masa tunggunya berakhir ia justru menangis. Dan segera setelah aku meledakkan pertanyaan dalam benakku, wanita tua itu menjawabnya.
            “Jenazah Ayahmu sudah siap diantarkan, Arya.”
            Pria itu mengangguk. Aku langsung tahu dua hal yang ingin sekali kuketahui sejak matahari masih berdebat dengan senja tadi.
            Namanya Arya, kulitnya kecokelatan dengan rambut lurus dan mata hitam. Sejak petang tadi ia duduk di lobi rumah sakit bersamaku dalam penantian kami masing-masing. Dan kini aku tahu apa yang ia nantikan.
          Setelah ia menerima panggilan dan menangis, aku juga menerima panggilan lalu tertawa. Rupanya, malaikat bermain petang tadi, ia mengambil dan memberi sesuatu lalu tersenyum dalam jarak tiga meter kami.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar