Senin, 02 Februari 2015

A little crazy thing called 'curhat'.

      It's a new year. Setelah sekian lama berpikir akan menulis apa -walaupun ga banyak yang baca juga- akhirnya kini memutuskan menulis tentang yang ada saja. Baru lewat 39 menit dari hari ulang tahun Mamah yang ke empat puluh, si emak minta hadiah puisi pula, semacam anaknya ini penyair. Jadi harus bergadang demi permintaan kecil itu malam ini.
      Ditemani acara Late Night Show, suara kipas angin dan teman sekamar yang sedikit mendengkur -sedikit- inilah
malam yang sunyi, cukup sunyi sebenarnya untuk bisa bertemu kekasihku, cintaku, sayangku, naskah.
Setelah beberapa hari yang lalu i've got a bad news about my script, kini sudah saatnya bangkit kan? Tapi ngomong emang selalu terlihat lebih gampang. Kali ini gue merasa waktu semakin sempit, jadi selama beberapa hari ini pula lagu Adele-Chasing Pavement terus terputar di playlist gue. Should I give up? Or should I just keep chasing pavement? Huh! Pertanyaan yang sulit.
      Gue merasa ada di ambang batas, kuliah yang berantakan sejak menetapkan pilihan buat lebih fokus menyelesaikan naskah daripada menyelesaikan tugas, jadi faktor utama kegalauan ini. Gue ga mau bikin siapa pun kecewa, Mamah contohnya. Tapi gue juga benci merasa menyesal, menyerah sama mimpi gue contoh terbesarnya. Gue tahu, sadar sepenuhnya kalau keberadaan gue di ibukota Kalimantan Timur ini, di Universitas Mulawarman jurusan FKIP Matematika, adalah konstribusi dari banyak orang. Banyak yang menepuk pundak gue dan bilang; "wih, calon guru." tanpa pernah nanya apakah gue mau jadi guru.
      Gue ga benci ngajar, gue pernah ngajar. Sekitar satu setengah tahun pengalaman sebagai guru les privat. Gue suka ngajar -sedikiiiit-, tapi gue ga suka jadi guru. Ga pernah kepikiran malah. Karena gue ga mau pena gue digantungi tanggung jawab tentang hidup dan masa depan orang lain (murid-murid yang mengharapkan nilai tinggi itu, sesuatu sekali). The one and only thing, yang mau gue serahi waktu sebanyak mungkin, konsentrasi sepenuh mungkin dan kesediaan bersama sedalam mungkin, ya cuma menulis. I love it, so much. Soal alasan, that's a secret. Yang terpenting adalah, seperti yang pernah Anna nyanyikan; For the first time in forever, I found something that made me ... happy. Gue happy waktu nulis, dan setiap manusia mau terus-terusan happy, karena itu gue mau terus-terusan menulis.
      Masalahnya, ga banyak yang percaya kalau menulis bisa dijadikan pegangan hidup. No problem, gue bisa cari sampingan kerja, jadi wirausaha sih maunya. Yang pasti, gue bukan tipe orang yang mengharapkan kantor, seragam, dan jam kerja yang monoton. Pergi pagi pulang sore setiap hari sampai tua dan pensiun. Thats not my style. Gue mau bebas, gue mau di KTP gue, di kolom pekerjaan, terisi; seniman. Atau ... ya wirausaha lah. Jangan PNS, please.
      Whooaaa! Ini pertama kalinya menulis hal konyol yang disebut curhat untuk di publish ke blog. Masalah pribadi pula, fatal pula, ini benar-benar tidak seperti biasanya. Mungkin faktor baru ketahuan bawa ricecooker sama ibu kost, rada mabok karena berarti harus tambah bayar uang kost entar. Halah, ini dilema yang memalukan.
      Gue ga biasa curhat, karena ga banyak yang -gue rasa- bisa memahami jalan pikiran gue. Ngapain gue curhat panjang lebar yang akhir-akhirnya cuma bakal dibilang aneh. FYI, i'm not freak, i'm unique. Tapi orang yang jarang belajar bahasa bakal bilang kalau itu sama. Terserahlah, itu sudah bukan hal penting lagi buat gue sekarang. Beda sama jaman SMA waktu gue nangis karena dibilang freak sama anak yang ga kalah freak juga -menurut gue-.
      Hal paling memalukan yang gue rasakan malam ini adalah, gue takut ngurus KRS besok. Bukan karena takut dimarahin dosen akibat IP jelek, tapi gue takut memulai lagi, bersama gedung serba biru yang gue sebut sebagai kampus itu. Ini sudah masuk semester empat, harapan gue bisa segera lepas dari tangung jawab dan bebas nulis, tapi email dari Bentang Pustaka beberapa hari yang lalu bener-bener bikin galau tingkat dewa. Mungkin kegalauan seperti ini yang dirasain Jupe waktu putus dari Gaston -akibat bintang tamu Late Night Show; Jupe-. Tapi seperti Jupe juga, aku rapopo. I'll try again. Mengutip kata-kata Merry Riana; I will fight till the end and never give up. Banyak jalan menuju Roma, banyak jalan mewujudkan mimpi yang gue bangun saat gue ga tidur ini.
      Di pertengkaran yang lalu, gue sampe bilang ke Mamah; "Emang jadi penulis ga cukup membanggakan? Harus jadi guru?". Mamah ga jawab, tapi gue yakin, segera, soon, Mamah bakal bilang; "Stay on your track, Dear. You're great. You've got it. You give me a prove. I'm proud of you." -p.s; Mamah bakal bilang dalam bahasa Indonesia.
        Seiring Late Night Show yang berakhir, tulisan ini juga mau gue akhiri. Puisi buat nyokap belum jadi, ya udah lah, bukan rentenir ini, gapapa telat dikit ngasihnya. Curhatan ini, tulisan ini, bikin gue agak lega dikit. Gue yakin bisa menghadapi esok dengan baik. Gue ga bakal mencair akibat teriakan dosen -gue harap-.
          Should I give up? Or should I just keep chasing pavement? Even if it leads no where. Or would it be a waste, even if I knew my place, should I leave it there? Should I give up? -matikan mp3, tarik senyum dan jawab dengan percaya diri; Of course not.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar