Kamis, 01 Mei 2014

Home~MB


“Namanya Sebastian Paxton, agak sedikit pikun. Kau harus memastikan dia tidak keluar rumah atau dia akan tersesat.”
Aku mengangguk, mengalihkan pandangan pada pria yang duduk di kursi roda. Bulan depan usianya genap sembilan puluh lima tahun. Rambutnya yang ikal sepanjang telinga sudah berubah dari coklat menjadi putih, matanya yang biru tidak berhenti memandangi rimbun mawar merah yang tumbuh dengan terawat di halaman. Itulah kali pertama aku bertemu dengannya.
“Mr. Paxton,” panggilku pelan.
Ia menoleh, tersenyum lebar lalu memutar kursi rodanya dan

Rumput Hijau


                Shana sibuk memperhatikan Dion yang berlari mengelilingi lapangan bola dengan rumput hijau semata kaki di belakang sekolah mereka. Tapi Dion yang dipandangi justru tidak pernah melirik barang sedetik, cuek bebek. Padahal Shana adalah cewek populer di sekolah, selain kabar tentang ayahnya yang pemilik pabrik kerupuk ternama, Shana juga populer karena reputasinya yang sangat buruk. Shana adalah siswi dengan daftar kesalahan terbanyak di sekolah, daftar terlambat terbanyak dan yang pasti daftar nilai terburuk.
                Sedangkan Dion, siswa berprestasi di bidang sepak bola. Ketua osis pula. Tubuhnya yang tinggi semampai tak perlu diragukan bahwa dia jadi rebutan banyak siswi. Nilainya juga selalu bagus, bahkan acap kali menjadi juara kelas. Ia mengikuti

Menculik Surga


                Tiga orang pria besar sedang duduk asyik membicarakan utang-utang mereka sambil minum kopi dipagi hari.
“Utang lo berapa?” tanya pria yang paling tua, bisa dilihat dari uban-uban yang sudah berhamburan dikepalanya.
Dua pria lainnya yang masing-masing botak dan gondrong menghitung-hitung dalam hati, lalu menoleh satu sama lain.
“Kalo gak salah,” ujar pria botak “udah sekitar 25 juta. Lo?” tanyanya sambil menoleh pada si gondrong.
“Sekitar 30 lah,” sahutnya enteng “Lo Bang?”
Akhirnya pertanyaan itu kembali lagi pada pria tua yang meneguk kopi

Ketiga


*Judul oleh: Dyna Syarofa Ramadhani

“Aku punya tiga syarat,” ucapku padamu.
Kamu tersenyum lebar, “Hanya tiga? Padahal aku bisa mengabulkan sebanyak apapun.”
Seperti biasa kamu selalu jumawa, dan aku yang mendengar itu hanya tersenyum tipis.
“Syarat pertama, kamu harus meninggalkannya.”
Kamu mengerutkan kening “Sudah kubilang kami sudah berpisah.”
“Berarti kamu sudah melakukan syarat pertama.”
Aku mengalihkan pandangan pada rimbun mawar di hadapan kita. Dulu mawar-mawar itu tidak terurus. Semaknya menganggu penglihatan dan membuat orang-orang enggan berada di sekitarnya. Kecuali kita. Setiap kali datang ke tempat ini kamu selalu memetik satu untukku dan menyamakanku dengannya.
“Untuk Lanaya yang cantik, berduri dan berantakan.” ujarmu setiap kali.
Dan kuakui kamu benar, dulu aku memang seperti itu. Jeans belel, kaos usang dengan

Sadar?


“Aku tahu ini hanya euphoria sesaat, kelak akan berakhir seperti apa yang selalu terjadi. Dan aku tahu bahwa getar yang kirimkan di tengah sunyi jalanku bukan tanah subur yang akan mampu menumbuhkan pohon rasa.
Tapi pada titik ini, entah kenapa aku ingin jumawa. Aku ingin euphoria kita menjadi letupan api yang menyala di langit, dan biarkan guncang akibat turbulensi hati menjadi sesuatu yang tidak kita takuti.
Sayangnya aku terbangun semalam dan melihat sekitar. Aku menyadari betapa tebal awan yang menyelimuti hatimu. Benteng yang kau bangun begitu kuat dan bisa aku tumbangkan. Akhirnya aku sadar, bukan bingar yang membuat kita tidak saling mendengar, tapi rasa yang sudah kau lempar ke perapian.”

The Lonely Alien


                Seorang gadis 15 tahun sedang duduk sendiri di sudut kelas, Aliena Sasmitha. Ia seorang anak dari penipu ulung yang tak pernah ada di rumah, selalu melarikan diri. Pagi hari sekolah, siang dan malam ia bekerja. Ia merasa bahwa hidup bukanlah sesuatu yang bisa dibanggakan, hidupnya hanya dipenuhi dengan luka yang tak bisa ia temukan obatnya. Saat ia 13 tahun, akhirnya sang ayah lari untuk selamanya. Terluka itu pasti, tapi Aliena tak pernah jatuh dalam lukanya.
                Saat ia ingin kembali kedunia remaja, tempat di mana ia seharusnya berada. Ternyata para manusia disekitarnya tak lagi punya sedikitpun belas kasih untuk menerimanya. Aliena menjadi orang paling terasing di kelas,

Ayah...


“Ayaaaahhhh!!!” teriak Iqbal dari depan pintu saat melihat ayahnya datang dari kejauhan. Lalu ia berlari menyongsong pria yang sedang menuju kearahnya.
Ayah Iqbal bekerja di tempat yang jauh, tidak setiap hari ia bisa pulang kerumah. Bahkan sebulan sekali pun jarang. Tapi Iqbal tidak pernah berhenti menunggu ayah, baginya ayah adalah orang terpenting yang pasti akan datang untuknya.
“Ayah sudah pulang?” tanya Akbar dari ambang pintu.
Ayah menoleh, lalu tersenyum dan mengangkat tubuh Iqbal untuk membawanya pada Akbar.
“Kamu senang ayah pulang?” tanya ayah pada Akbar.
“Iya,” sahut Akbar singkat.
Lalu mereka masuk beriringan ke dalam rumah. Akbar membawa tas ransel ayah yang berisi beberapa lembar pakaian.