“Namanya Sebastian Paxton, agak sedikit pikun. Kau harus
memastikan dia tidak keluar rumah atau dia akan tersesat.”
Aku mengangguk, mengalihkan pandangan pada pria yang duduk di
kursi roda. Bulan depan usianya genap sembilan puluh lima tahun. Rambutnya yang
ikal sepanjang telinga sudah berubah dari coklat menjadi putih, matanya yang
biru tidak berhenti memandangi rimbun mawar merah yang tumbuh dengan terawat di
halaman. Itulah kali pertama aku bertemu dengannya.
“Mr. Paxton,” panggilku pelan.
Ia menoleh, tersenyum lebar lalu memutar kursi rodanya dan