Jumat, 27 Maret 2015

Maret Berat

     Bulan Maret hampir selesai, berganti. Akan ada banyak cerita baru di April nanti, The Avenger, contohnya. Setelah menghabiskan banyak waktu untuk duduk dan nonton film-film bagus yang rilis bulan ini, Maret juga banyak membawa cerita, yang ga semuanya bisa dibilang bagus, malah bisa dibilang ini Maret yang berat untuk sebagian besar orang, dengan cara dan kejadian masing-masing.
     Buat gue, Maret diawali dengan berita
berpisahnya fav couple gue di WGM; Nam Goongmin dan Hong Jinyoung. Hal itu membuat satu tontonan wajib gue hilang. Besoknya, ada kabar luar biasa mengejutkan dari bokap, kabar buruk, yang gue harap ga pernah terdengar. Beberapa hari kemudian sebuah telepon masuk di pagi hari, dari nyokap, pun juga membawa kabar buruk. Huh! Maret yang bulan lalu gue rencanakan sebagai; awal hidup baru yang indah, kacau berantakan.
     Bagi orang lain, warga Singapura contohnya, kehilangan Lee Kuan Yew pasti jadi pukulan yang berat. Buat keluarga Rima Melati, kehilangan Frans Tumbuan adalah berita duka. Bagi penggemar Trio Libels dan anggota keluarga, meninggalnya Yani Libels juga sebuah kabar buruk. Dan, ah, Abdee Negara, personil Slank yang bulan ini diberitakan harus vakum karena penyakit ginjalnya. Lalu kabar dari seorang teman kost, yang nenek dari pacarnya juga berpulang. Bagi Directioners dan anggota One Direction, kehilangan Zayn Malik pasti cukup mengejutkan. Yang terakhir, baru saja, beberapa jam yang lalu, sebuah berita duka terdengar lagi; Olga Syahputra meninggal dunia.
     Ini tengah malam yang sepi, ditemani suara kipas angin dan dengkuran teman sekamar yang ga merdu, gue memikirkan ulang tentang runtut peristiwa penting dalam hidup gue. Banyak keputusan yang sudah gue ambil, bahkan baru-baru ini gue juga mengambil keputusan untuk bermodal usaha kerajinan tangan kecil-kecilan sementara saldo atm mengkeret. Banyak juga dari keputusan yang gue ambil itu berakibat tidak baik, contohnya keputusan tanggal 21 Juli 2007 lalu, yang akhirnya menjadi ... salah satu penyesalan. Atau keputusan tergesa yang diambil setahun lalu, menimbulkan 'ketelanjuran' yang tidak mengenakkan. Masih banyak lagi, terlalu banyak. Mungkin hal-hal semacam itulah yang akhirnya, kini, membuat gue susah memutuskan apa pun, bahkan hal yang penting seperti; malam ini beli makan di mana, Gue takut salah. Gue takut disalahkan saat nanti keputusan yang ambil berakibat juga untuk orang lain.
     Tetiba gue kangen Sherlock, my best man, gue ga tega liat dia dalam versi tua di film Mr. Holmes nanti. Gue juga rindu setengah mati sama Kudo, ga baca komiknya selama tiga bulanan cukup ngebuat frustasi. Dan yang lebih mematikan, adalah rasa kangen gue sama the one and only love of my life; nulis.
     Awal Maret juga, saat gue berkunjung ke Gramedia dan berpikir; gila, jadi penulis itu susah, sudah terlalu banyak, sudah ini dan itu. Gue merasa kecil hati, down secara tiba-tiba dan tanpa ijin gue. Tapi gue pikir, gue ga bisa hidup tanpa menulis. Menulis satu-satunya hal yang mau gue lakukan -sebagai pekerjaan- di sepanjang hidup gue. Karena itulah gue mengambil keputusan untuk vakum menulis, seenggak beberapa bulan, untuk ngeliat apakah gue benar-benar bakal mati karena ga nulis. Dan ternyata enggak, ini pertama kalinya lagi gue duduk di depan laptop sejak keputusan itu dikeluarkan. Dan ternyata juga, gue justru bisa menelurkan karya-karya lain, banyak kreasi flanel, scrapbook, apa pun itu yang bisa gue buat sembari duduk nonton teve.
     Sampai sekarang, nulis masih jadi hal yang paling gue cintai, dan tentu jadi penulis masih salah satu impian gue. 'salah satu' bukan 'satu-satunya' lagi. Gue membuka diri untuk segala kemungkinan, mungkin itulah sebabnya sekarang gue lebih bisa berdamai sama diri gue. Ga ada lagi pressure. So, ini memang Maret yang berat. Masalah keluarga gue belum selesai sampai sekarang, dan mungkin akan selesai dalam waktu yang ... cukup lama. But its okay, life must go on. Semua bakal baik-baik aja. Selalu baik-baik aja.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar