Minggu, 27 Juli 2014

Dear R, #2

Dear R,
Merdu takbir untuk mengantar kepergianmu telah diperdengarkan. Kamu resmi pergi, meninggalkan kami seperti yang selalu terjadi.
R, letup kembang api yang terdengar dari kamar sempitku, juga hiruk pikuk teriakan anak kecil yang lewat di depan jalan menandakan bahwa kami telah rela. Untuk sebelas bulan ke depan, kami akan mempersiapkan diri agar bisa menyambutmu dengan lebih baik.
Tidak ada yang sia-sia, waktu senduku bersamamu akan kutandai sebagai salah satu halaman dalam buku kehidupanku. Agar kelak saat kita bertemu lagi, bisa kuingat setiap kata yang aku rangkai malam ini, bersamaan dengan bibir yang ikut mengucap syukur.
Selamat jalan R, sampai bertemu lagi, Insyaallah...

Mel

Sabtu, 26 Juli 2014

Dear R,

Dear R,
Kau dengar? Kini langit bertalu-talu, menangis tidak rela atas tenggat waktu kepergianmu. Aku meringkuk dalam sepi yang tanpa aksara, menengadahkan tangan, berharap kita akan dipertemukan lagi. Dan kita sama-sama tahu bahwa hanya ada satu zat maha kuasa yang berhak menentukan itu.
R, aku tak cukup baik bukan? Aku masih lengah dan tidak menemanimu dengan setia. Tiga puluh hari kebersamaan kita hanya kujadikan waktu-waktu sendu untuk mengeluh dan merasa takut. Tapi R, jika kita berkesempatan untuk berjumpa lagi, aku ingin lebih baik, aku ingin lebih banyak menghabiskan malam bersamamu dalam sunyi yang penuh syukur. Terlebih lagi, kuharap aku sudah bisa membanggakan diri dan berkisah padamu tentang pencapaianku selama kita berpisah.
Aku akan mengirim surat lagi saat malam perpisahan kita datang, aku harap kita bisa saling melepaskan dalam takbir yang merdu. Aku akan merindukanmu R, as always.

Salam,
Mel

Rabu, 11 Juni 2014

Pemuja Hening #1

Catatan harian seorang gadis bisu tuli,

 Prolog


Hari ini sedang mendung. Dapat kulihat gumpalan awan hitam menggantung di langit yang sedang berduka. Sesekali kilat akan muncul selayak teman yang datang tanpa diundang. Dan jika saat ini kau sedang membaca goresan pena yang aku tuangkan diatas kertas, maka pasti kau adalah

Kamis, 01 Mei 2014

Siapa bilang?


“Siapa bilang cinta ada karena terbiasa? Buktinya aku yang tidak percaya cinta justru jatuh hati pada tatap mata pertama. Hanya satu tatap mata dan jantungku hampir melompat keluar.
Bertahun kemudian saat aku temukan kembali tatap mata itu, aku masih jatuh hati. Masih berbunga-bunga, masih meledak. Euphoria yang aku rasakan ternyata bukan sekedar euphoria. Andai kau tahu. Tapi andai hanya tinggal andai. Kini aku sadar bahwa kau tidak pernah sekalipun menghargai tatap mata pertama kita.
Siapa bilang cinta ada karena terbiasa? Buktinya, setelah biasa bersama aku justru hilang rasa.”

Home~MB


“Namanya Sebastian Paxton, agak sedikit pikun. Kau harus memastikan dia tidak keluar rumah atau dia akan tersesat.”
Aku mengangguk, mengalihkan pandangan pada pria yang duduk di kursi roda. Bulan depan usianya genap sembilan puluh lima tahun. Rambutnya yang ikal sepanjang telinga sudah berubah dari coklat menjadi putih, matanya yang biru tidak berhenti memandangi rimbun mawar merah yang tumbuh dengan terawat di halaman. Itulah kali pertama aku bertemu dengannya.
“Mr. Paxton,” panggilku pelan.
Ia menoleh, tersenyum lebar lalu memutar kursi rodanya dan

Rumput Hijau


                Shana sibuk memperhatikan Dion yang berlari mengelilingi lapangan bola dengan rumput hijau semata kaki di belakang sekolah mereka. Tapi Dion yang dipandangi justru tidak pernah melirik barang sedetik, cuek bebek. Padahal Shana adalah cewek populer di sekolah, selain kabar tentang ayahnya yang pemilik pabrik kerupuk ternama, Shana juga populer karena reputasinya yang sangat buruk. Shana adalah siswi dengan daftar kesalahan terbanyak di sekolah, daftar terlambat terbanyak dan yang pasti daftar nilai terburuk.
                Sedangkan Dion, siswa berprestasi di bidang sepak bola. Ketua osis pula. Tubuhnya yang tinggi semampai tak perlu diragukan bahwa dia jadi rebutan banyak siswi. Nilainya juga selalu bagus, bahkan acap kali menjadi juara kelas. Ia mengikuti

Menculik Surga


                Tiga orang pria besar sedang duduk asyik membicarakan utang-utang mereka sambil minum kopi dipagi hari.
“Utang lo berapa?” tanya pria yang paling tua, bisa dilihat dari uban-uban yang sudah berhamburan dikepalanya.
Dua pria lainnya yang masing-masing botak dan gondrong menghitung-hitung dalam hati, lalu menoleh satu sama lain.
“Kalo gak salah,” ujar pria botak “udah sekitar 25 juta. Lo?” tanyanya sambil menoleh pada si gondrong.
“Sekitar 30 lah,” sahutnya enteng “Lo Bang?”
Akhirnya pertanyaan itu kembali lagi pada pria tua yang meneguk kopi