Selasa, 16 Desember 2014

Surat Kabar



“Koran, koran, koran.”
Suara seorang anak laki-laki yang usianya mungkin belum genap sepuluh tahun terdengar olehku, deru mesin kendaraan yang menyala sedang mengantre tidak sabar menunggu merah menjadi hijau. Tapi teriakan anak laki-laki itu tetap berhasil menyita perhatian.
Dari kaca spion aku bisa melihat beberapa orang membuka kaca mobilnya dan membeli apa yang ia tawarkan. Tiba giliran dia mengetuk kaca mobilku, aku jengkel, mengalihkan pandangan dan

Rabu, 10 Desember 2014

Hallo



Aku sudah memegang gagang telepon, jemariku mengetuk-ngetuk meja sembari berpikir. Haruskah aku menekan nomormu dan mendengar suaramu? Setidaknya sekali lagi, sebelum matahari terbenam dan aku mengukuhkan diri untuk melupakanmu.
“Naya,”
Aku menoleh, tersenyum pada Ibu yang sedang berdiri di tangga dan memperhatikanku dengan wajah khawatir.
“Jangan,” katanya memperingatkan.
Aku mengangguk, peringatan itu juga sudah kukatakan pada diriku sejak berhari-hari yang lalu. Tapi kau tahu bukan? Aku banyak mengalami turbulensi akhir-akhir ini, dan itu membuatku tidak bisa percaya pada diriku sendiri.
Setelah Ibu berlalu ke arah dapur aku mengalihkan pandangan ke luar jendela,

Jumat, 24 Oktober 2014

Sudah Saling Tahu


Senandungnya masih terdengar, aku menoleh dan tersenyum tipis padanya yang sedang asyik merapikan buku-buku yang berserakan di lantai. Sepersekian menit yang lalu dia masih berjalan santai melewati koridor yang di sisi-sisinya dipenuhi rak-rak buku, lalu tiba-tiba saja karena terlalu bereuforia, dia tidak sengaja menabrak sebuah rak dan menimbulkan kegaduhan di perpustakaan.
Seorang penjaga wanita yang usianya sudah menjelang empat puluh tahun

Jumat, 19 September 2014

Monster - BigBang



“Tidak! Lepaskan aku!”
Aku berusaha meronta dalam pelukannya yang terasa mencekik, memar merah terpatri di pergelangan tanganku, air mataku tidak bisa berhenti mengalir jatuh mengiringi kutukan yang kuucapkan pada diriku yang ciut.
Ini sudah berlangsung cukup lama, bahkan terlalu lama hingga aku tidak bisa mengingat titik awalnya. Aku dan dia seperti sebuah lukisan yang berantakan, paduan warna yang kacau, goresan kuas yang tidak masuk akal, tapi bersembunyi di balik kedok abstrak. Ya, kami lukisan yang abstrak, yang tidak mudah dimengerti, kecuali olehku dan dia sendiri.
Katanya cinta bisa membutakan, jadi mungkin itulah sebabnya dia tidak bisa melihat rasa sakit di mataku saat dia memasukanku ke dalam kamar lembab itu dan mengikatku di sana. Seorang perempuan

Selasa, 09 September 2014

Winter #spoiler-1

     Sudah masuk bulan Juni, Adelaide diserang musim dingin. Tapi Villant Paxton dan Frilisa Roseline Bernard justru sedang bersembunyi di balik kotak-kotak kayu, saling menggenggam tangan mereka yang gemetar dan berkeringat saat harus menyaksikan Joseph Brown duduk dengan tangan terikat.
     Seorang pemuda jangkung bermata biru menyiapkan FN 57 dan membidik kening pria itu. Tubuh Lisa berguncang, Ayahnya muncul dari balik tangga dan tersenyum pada Sang Target. Sepersekian detik kemudian pelatuk ditarik dan jantung Joseph berhenti berdetak.
     Villant menoleh, kerah kemejanya ditarik oleh seorang pria bertubuh besar yang langsung mendorongnya ke tengah ruangan. Sementara itu Lisa memberontak dalam cengkeraman pemuda bermata biru yang berusaha menariknya menaiki tangga. Mata Villant terarah padanya, meyakinkannya kalau semua akan baik-baik saja. Tapi dia tidak percaya. Mayat Joseph dipindahkan dan Villant dipaksa duduk di kursi yang sama.

Senin, 18 Agustus 2014

Ulang Tahun

     Namaku Indonesia, enam puluh sembilan tahun lalu aku lahir setelah proses persalinan yang panjang dan melelahkan. Sangat banyak tangan yang membidaniku, sebut saja Soekarno dan Hatta sebagai dua bidan yang mengetuainya.
     Dan kini setelah enam puluh sembilan tahun, setiap hari ke tujuh belas di bulan ke delapan, setiap insan akan merayakan hari kelahiranku. Bendera akan terpasang di depan rumah, merah dan putih. Dan tradisi yang tidak akan terlupakan, perlombaan.
     Aku gembira mereka menyambutku, tentu saja, tapi seperti biasa kegembiraan itu akan hilang seketika saat mereka berteriak dengan lantang;
Hidup Endonesia!
Aku jadi berpikir, apakah mereka benar-benar merayakan ulangtahunku? Kenapa setelah enam puluh sembilan tahun, mereka masih tidak bisa menyebut namaku dengan benar?

*latepost. At Cabe Merah, SCP, Samarinda-Kaltim

Senin, 11 Agustus 2014

Manusia

      Manusia, makhluk Tuhan yang diciptakan dengan dua mata, dua telinga, dua tangan, dua kaki. Menurut studi, manusia dan simpanse memiliki 99% kesamaan DNA. Sedangkan antara manusia satu dengan manusia lain yang merupakan keturunannya memiliki kesamaan DNA 99,9%. Jadi hanya ada selisih 1% untuk membedakan manusia dengan simpanse dan 0,1% untuk membedakan keturunan satu manusia dengan keturunan manusia yang lainnya. Itu bisa dianggap sebagai angka kecil atau angka besar, tergantung dari sudut pandang.
      Manusia terlihat lebih, justru karena dia kurang.
Hari ini, 11 Agustus 2014, siaran langsung acara Hitam Putih di TransTv memperkenalkan seorang anak yang berhasil masul FK UGM, kelebihannya? Anak itu hanya anak dari seorang buruh kayu. Setiap tahun FK UGM pasti menerima puluhan mahasiswa, yang membuat anak lelaki itu menarik sampai masuk siaran televisi karena dia kurang -kaya- dari mahasiswa kedokteran yang lainnya. Ada lagi seorang wisudawati yang tiba-tiba jadi pembicaraan karena dia meraih IPK 3,96. Kelebihannya? Karena dia anak seorang tukang becak.
      Semua tergantung dari sudut pandang. Saat memandang kekurangan seseorang, maka keberhasilan yang biasa terjadi akan terlihat luar biasa dan kamu akan merasa lebih beruntung karena mungkin hidupmu lebih mudah. Tapi saat melihat kelebihan seseorang, bahkan keberhasilan luar biasanya akan ditanggapi dengan kalimat "wajar saja, dia kan...", lalu kamu akan merasa kecil dan tidak mampu.
      Angka 1, selisih antara DNA simpanse dan manusia terlihat sebagai angka yang sangat kecil karena kita mengenal bilangan yang tidak terbatas. Juga bisa terlihat sebagai angka besar jika kita memandang kepada 0 dan bilangan negatif.
      Ini tentang sudut pandang. Jadi, jangan biarkan dirimu ciut karena kamu hanya memandang kelebihan orang lain. Setiap orang kurang, setiap orang juga lebih.