Selasa, 09 September 2014

Winter #spoiler-1

     Sudah masuk bulan Juni, Adelaide diserang musim dingin. Tapi Villant Paxton dan Frilisa Roseline Bernard justru sedang bersembunyi di balik kotak-kotak kayu, saling menggenggam tangan mereka yang gemetar dan berkeringat saat harus menyaksikan Joseph Brown duduk dengan tangan terikat.
     Seorang pemuda jangkung bermata biru menyiapkan FN 57 dan membidik kening pria itu. Tubuh Lisa berguncang, Ayahnya muncul dari balik tangga dan tersenyum pada Sang Target. Sepersekian detik kemudian pelatuk ditarik dan jantung Joseph berhenti berdetak.
     Villant menoleh, kerah kemejanya ditarik oleh seorang pria bertubuh besar yang langsung mendorongnya ke tengah ruangan. Sementara itu Lisa memberontak dalam cengkeraman pemuda bermata biru yang berusaha menariknya menaiki tangga. Mata Villant terarah padanya, meyakinkannya kalau semua akan baik-baik saja. Tapi dia tidak percaya. Mayat Joseph dipindahkan dan Villant dipaksa duduk di kursi yang sama.

Senin, 18 Agustus 2014

Ulang Tahun

     Namaku Indonesia, enam puluh sembilan tahun lalu aku lahir setelah proses persalinan yang panjang dan melelahkan. Sangat banyak tangan yang membidaniku, sebut saja Soekarno dan Hatta sebagai dua bidan yang mengetuainya.
     Dan kini setelah enam puluh sembilan tahun, setiap hari ke tujuh belas di bulan ke delapan, setiap insan akan merayakan hari kelahiranku. Bendera akan terpasang di depan rumah, merah dan putih. Dan tradisi yang tidak akan terlupakan, perlombaan.
     Aku gembira mereka menyambutku, tentu saja, tapi seperti biasa kegembiraan itu akan hilang seketika saat mereka berteriak dengan lantang;
Hidup Endonesia!
Aku jadi berpikir, apakah mereka benar-benar merayakan ulangtahunku? Kenapa setelah enam puluh sembilan tahun, mereka masih tidak bisa menyebut namaku dengan benar?

*latepost. At Cabe Merah, SCP, Samarinda-Kaltim

Senin, 11 Agustus 2014

Manusia

      Manusia, makhluk Tuhan yang diciptakan dengan dua mata, dua telinga, dua tangan, dua kaki. Menurut studi, manusia dan simpanse memiliki 99% kesamaan DNA. Sedangkan antara manusia satu dengan manusia lain yang merupakan keturunannya memiliki kesamaan DNA 99,9%. Jadi hanya ada selisih 1% untuk membedakan manusia dengan simpanse dan 0,1% untuk membedakan keturunan satu manusia dengan keturunan manusia yang lainnya. Itu bisa dianggap sebagai angka kecil atau angka besar, tergantung dari sudut pandang.
      Manusia terlihat lebih, justru karena dia kurang.
Hari ini, 11 Agustus 2014, siaran langsung acara Hitam Putih di TransTv memperkenalkan seorang anak yang berhasil masul FK UGM, kelebihannya? Anak itu hanya anak dari seorang buruh kayu. Setiap tahun FK UGM pasti menerima puluhan mahasiswa, yang membuat anak lelaki itu menarik sampai masuk siaran televisi karena dia kurang -kaya- dari mahasiswa kedokteran yang lainnya. Ada lagi seorang wisudawati yang tiba-tiba jadi pembicaraan karena dia meraih IPK 3,96. Kelebihannya? Karena dia anak seorang tukang becak.
      Semua tergantung dari sudut pandang. Saat memandang kekurangan seseorang, maka keberhasilan yang biasa terjadi akan terlihat luar biasa dan kamu akan merasa lebih beruntung karena mungkin hidupmu lebih mudah. Tapi saat melihat kelebihan seseorang, bahkan keberhasilan luar biasanya akan ditanggapi dengan kalimat "wajar saja, dia kan...", lalu kamu akan merasa kecil dan tidak mampu.
      Angka 1, selisih antara DNA simpanse dan manusia terlihat sebagai angka yang sangat kecil karena kita mengenal bilangan yang tidak terbatas. Juga bisa terlihat sebagai angka besar jika kita memandang kepada 0 dan bilangan negatif.
      Ini tentang sudut pandang. Jadi, jangan biarkan dirimu ciut karena kamu hanya memandang kelebihan orang lain. Setiap orang kurang, setiap orang juga lebih.

Minggu, 27 Juli 2014

Dear R, #2

Dear R,
Merdu takbir untuk mengantar kepergianmu telah diperdengarkan. Kamu resmi pergi, meninggalkan kami seperti yang selalu terjadi.
R, letup kembang api yang terdengar dari kamar sempitku, juga hiruk pikuk teriakan anak kecil yang lewat di depan jalan menandakan bahwa kami telah rela. Untuk sebelas bulan ke depan, kami akan mempersiapkan diri agar bisa menyambutmu dengan lebih baik.
Tidak ada yang sia-sia, waktu senduku bersamamu akan kutandai sebagai salah satu halaman dalam buku kehidupanku. Agar kelak saat kita bertemu lagi, bisa kuingat setiap kata yang aku rangkai malam ini, bersamaan dengan bibir yang ikut mengucap syukur.
Selamat jalan R, sampai bertemu lagi, Insyaallah...

Mel

Sabtu, 26 Juli 2014

Dear R,

Dear R,
Kau dengar? Kini langit bertalu-talu, menangis tidak rela atas tenggat waktu kepergianmu. Aku meringkuk dalam sepi yang tanpa aksara, menengadahkan tangan, berharap kita akan dipertemukan lagi. Dan kita sama-sama tahu bahwa hanya ada satu zat maha kuasa yang berhak menentukan itu.
R, aku tak cukup baik bukan? Aku masih lengah dan tidak menemanimu dengan setia. Tiga puluh hari kebersamaan kita hanya kujadikan waktu-waktu sendu untuk mengeluh dan merasa takut. Tapi R, jika kita berkesempatan untuk berjumpa lagi, aku ingin lebih baik, aku ingin lebih banyak menghabiskan malam bersamamu dalam sunyi yang penuh syukur. Terlebih lagi, kuharap aku sudah bisa membanggakan diri dan berkisah padamu tentang pencapaianku selama kita berpisah.
Aku akan mengirim surat lagi saat malam perpisahan kita datang, aku harap kita bisa saling melepaskan dalam takbir yang merdu. Aku akan merindukanmu R, as always.

Salam,
Mel

Rabu, 11 Juni 2014

Pemuja Hening #1

Catatan harian seorang gadis bisu tuli,

 Prolog


Hari ini sedang mendung. Dapat kulihat gumpalan awan hitam menggantung di langit yang sedang berduka. Sesekali kilat akan muncul selayak teman yang datang tanpa diundang. Dan jika saat ini kau sedang membaca goresan pena yang aku tuangkan diatas kertas, maka pasti kau adalah

Kamis, 01 Mei 2014

Siapa bilang?


“Siapa bilang cinta ada karena terbiasa? Buktinya aku yang tidak percaya cinta justru jatuh hati pada tatap mata pertama. Hanya satu tatap mata dan jantungku hampir melompat keluar.
Bertahun kemudian saat aku temukan kembali tatap mata itu, aku masih jatuh hati. Masih berbunga-bunga, masih meledak. Euphoria yang aku rasakan ternyata bukan sekedar euphoria. Andai kau tahu. Tapi andai hanya tinggal andai. Kini aku sadar bahwa kau tidak pernah sekalipun menghargai tatap mata pertama kita.
Siapa bilang cinta ada karena terbiasa? Buktinya, setelah biasa bersama aku justru hilang rasa.”